Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 67 Bukan Ayahku Lagi


__ADS_3

Sejak Arya masih remaja dan ayahnya menginginkan Arya untuk meneruskan posisinya di perusahaan tetapi di tolak oleh Arya, hubungan keduanya tidak pernah baik lagi sejak itu.


Sewaktu Arya di rawat di rumah sakit pun ayahnya tidak datang. Ibunya beralasan kalau ayahnya sedang dinas ke luar kota. Sudah beberapa bulan ini juga ayahnya jarang pulang ke rumah.


Arya sendiri tak terlalu peduli dengan itu. Tiap kali mereka bertemu di rumah pun mereka selalu berdebat dengan pembahasan yang selalu sama, yaitu tentang keinginan ayahnya yang menginginkan Arya untuk meneruskan perusahaan.


Baik ibunya maupun Dita, adiknya, telah berusaha untuk menengahi dan mendamaikan mereka, tetapi selalu gagal. Karena jarang bertemu pun komunikasi mereka semakin sulit untuk di perbaiki.


**


Hari Sabtu ini, entah kenapa tiba-tiba Dimas mengajak Arya dan Steven untuk main ke mall. Dimas sedang tak ingin melakukan aktivitas di luar ruangan, maka dari itu ia meminta Arya dan Steven untuk bertemu di mall. Steven datang tepat waktu, tidak seperti akhir-akhir ini yang biasanya datang terlambat.


Steven sudah melihat Dimas di lobby mall dan melambaikan tangannya. Kemudian ia menghampiri Dimas.


"Arya kemana nih tumben sekarang dia yang telat?" Tanya Steven


"Iya nih tumben, padahal tadi dia bilang mau bawa motor, kan seharusnya tiba lebih cepat dari kita. Apa jangan-jangan sebelum berangkat dia mules Tev? Wkwkwk... "


"Ada-ada aja kamu. Eh tapi bisa jadi sih begitu... Hehehe..." Ujar Steven sambil menyeringai.


Sambil menunggu di lobby, tiba-tiba Steven melihat seseorang yang sepertinya ia kenal sedang berjalan membelakangi mereka. Walau hanya melihat punggung, tapi Steven merasa mengenal orang itu. Dengan refleks, Steven berdiri dan langsung meraih tangan Dimas.


"Eh Tev, ngapain? Aku mau di bawa kemana nih?"


"Ikut aja dulu, aku mau mastiin sesuatu!"


"Tapi jangan gandeng tangan aku juga sih, geli aku ih!"


"Ssst... Berisik banget sih! Diem dulu nanti ketauan!"


Dimas yang bingung tapi penasaran akhirnya diam juga tapi tetap mengikuti Steven. Mereka mengikuti seseorang yang saat ini sedang berada di toko perlengkapan bayi. Setelah melihat dengan jelas, Dimas membelalakan matanya saking kagetnya.


"Oh my... Itu kan...?" Dimas tak sanggup meneruskan kata-katanya.


"Iya, itu ayahnya Arya sama ibu-ibu lagi hamil gede! Kamu tau kan kalau itu bukan ibunya Arya?"


"Bukan, itu bukan ibunya Arya. Tev, apa kita sepemikiran?"

__ADS_1


"Iya, sepertinya ayahnya Arya diam-diam nikah lagi, Dims! Kalau Arya tau gawat ini, bisa perang mereka! Kamu tau kan Arya sayang banget sama ibunya?"


"Kita juga sayang banget kali Tev sama ibu kita! Cuma porsinya Arya emang agak lebihan di banding kita!"


Baru saja Steven mau menjawab Dimas, tapi ponsel Dimas berdering. Ternyata Arya yang menelepon.


"Duh, gawat nih Arya telepon! Gimana nih, Tev?"


"Ya udah angkat aja! Tapi jangan bilang yang tadi kita lihat ke Arya"


"Oke deh" Kemudian Dimas mengangkat telepon dari Arya.


"Halo, ya'!"


"Dims, kamu dimana? Katanya tunggu di lobby?"


"Eh iya, aku sama Tev lagi keliling liat-liat barang sambil nungguin kamu. Iya kan Tev?"


"Iya, bener!" Steven ikut menyahut.


"Ya udah kalian di sebelah mana biar aku kesitu!"


"Ya udah deh"


Suara Dimas yang terdengar gugup membuat Arya curiga. Tapi ia tetap menunggu Dimas dan Steven di lobby.


Tak berapa lama kemudian, Dimas dan Steven akhirnya bertemu dengan Arya di lobby mall. Setelah saling menyapa khas anak laki-laki, mereka memutuskan untuk keliling mall menikmati waktu sepuas mereka untuk melepaskan penat setelah bekerja selama seminggu penuh.


Namun, belum juga mereka mulai berkeliling, Arya memandang sesuatu yang berada dibalik pundak Dimas dan Steven.


Tatapannya terlihat mengerikan. Dimas dan Steven spontan langsung menengok ke belakang dan terkejut melihat ayah Arya yang sebelumnya mereka sudah lihat sedang bersama seorang wanita yang sedang hamil tua.


Tanpa berkata-kata, Arya langsung menghampiri Ayahnya dan langsung meninjunya. Dimas dan Steven langsung menghampiri mereka, mencoba untuk melerai mereka. Ayahnya tentu saja kaget melihat Arya. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Arya di mall itu. Setelah meninju ayahnya, Arya hanya mengucapkan dua kalimat singkat :


"Mulai hari ini kau bukan lagi ayahku! Tinggalkan ibuku sekarang juga!"


Setelah itu Arya langsung pergi meninggalkan mereka semua. Dimas dan Steven langsung berlari mengejar Arya.

__ADS_1


"Arya, tunggu ya'!" Dimas mencoba untuk memanggil Arya agar berhenti berlari, tapi larinya kencang sekali.


"Gila ini anak, umur udah masuk kepala tiga larinya masih kencang aja!" Steven yang memang sedang kurang sehat tak sanggup mengejar Arya. Dimas bisa mengejar sampai tempat parkiran motor. Tapi Arya sudah menaiki motornya dan pergi entah kemana.


"Kamu benar Dims, seharusnya Arya dari dulu kita tempelin pelacak biar dia ga hilang terus kayak gini" Ujar Steven dengan nafas masih terengah-engah.


"Iya, Tev. Sekarang kita mau cari kemana coba? Kita sama-sama bawa mobil, keluar dari parkiran aja lama, ga mungkin kekejar sih ini"


"Ya udah kalau gitu kita keluar mall aja dulu. Aku ikut kamu, Dims. Soalnya tadi aku ga bawa mobil, kesini di anterin pak Sofyan. Kalau suruh dia jemput nanti lama lagi."


"Oke deh, ayok Tev!"


Dimas dan Steven pun keluar dari mall, setelah itu berkeliling untuk mencari Arya. Mereka lalu mencoba untuk mencari ke beberapa tempat, mulai dari Cafe Sam, bengkel dekat rumah Arya, Lapangan yang dulu pernah di pakai oleh Steven untuk duel dengan Aldo, dan beberapa tempat komunitas mobil dan motor yang pernah mereka ikuti, tapi nihil. Arya tak di temukan di manapun.


Setelah sempat mampir ke sebuah restoran untuk makan siang, akhirnya mereka menyerah mencari Arya. Mereka juga sudah tak terhitung berapa kali menelpon Arya, tapi tak kunjung di angkat. Sepertinya Arya memang sengaja mematikan ponselnya.


Lalu Dimas mengantarkan Steven pulang ke rumahnya. Mereka juga berjanji akan saling mengabari jika ada kabar dari Arya.


**


Sepertinya seharian ini Arya sudah mengemudikan motornya cukup jauh, hingga berakhir di tempat ini. Ia pun tak tahu kenapa ia bisa kesini. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, sungguh tak sopan bertamu di jam segini. Jadi ia tak jadi mengetuk pintu.


Tapi ketika Arya hendak berbalik menuju motornya, si pemilik rumah tiba-tiba membuka pintu. Sesaat mereka saling tertegun dan terdiam, lalu si pemilik rumah akhirnya membuka suara terlebih dahulu.


"Kak Arya?"


"Elena, aku tau ini sudah malam. Jadi aku permisi dulu"


"Tunggu dulu kak, ada apa sebenarnya? Ayo masuk dulu untuk minum"


Akhirnya Arya menuruti ucapan Elena dan masuk ke rumah milik kakek dan nenek Elena. Ia terlihat bingung dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Ketika Elena kembali ke ruang tamu untuk memberi minum, tiba-tiba Arya menangis. Elena jadi bingung, tapi kemudian ia merangkul bahu Arya tanpa bertanya lagi, sampai akhirnya Arya tertidur di sofa ruang tamu.


Elena jadi bertambah bingung ketika melihat motor Arya masih di depan. Ia sepertinya tak kuat untuk memasukannya ke dalam rumah, jadi ia memutuskan untuk menghubungi Dimas.


Dimas yang saat itu sedang bermain game di kamarnya kaget ketika melihat nama Elena di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, ia langsung mengangkat telepon dari Elena.


"Halo mas, maaf banget menggangu malam-malam begini. Tapi kak Arya ada di sini dan motornya masih di depan sedangkan ia sedang ketiduran di sofa. Gimana ya, mas? Bisa bantu aku untuk masukin motornya ke dalam ga?"

__ADS_1


"Iya, El. Aku akan segera kesana. Tunggu ya!"


Dimas pun langsung memilih naik motor agar lebih cepat. Ia memutuskan untuk menelpon Steven nanti saja agar ia bisa sekalian bercerita. Untungnya jalanan sudah mulai sepi, jadi ia cepat tiba di rumah Elena. Setelah memasukkan motor Arya ke dalam rumah Elena, Dimas langsung pamit pulang. Yang penting sekarang ia sudah mengetahui keberadaan Arya.


__ADS_2