Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 46 Matamu Masih Abu-abu


__ADS_3

Hari Minggu pagi cuaca terlihat cerah, jadi banyak orang memanfaatkan waktu yang baik ini untuk berolahraga di luar rumah. Salah satu tempat yang banyak di kunjungi adalah tempat dimana kendaraan tidak boleh lewat yang di sebut car free day.


Elena mengajak Celine untuk ke sana sekedar untuk berolahraga ringan sambil jalan-jalan santai. Ketika sedang berkeliling, Elena bertemu dengan sosok yang sudah ia kenal selama ini.


"Itu bukannya kak Arya ya? Tanya Celine kepada Elena.


"Iya, itu kak Arya"


"Dia sama siapa ya? Kayaknya dekat banget. Apa itu pacarnya ya?" Tanya Celine penasaran.


"Aku juga ga tau Cel itu siapa"


"Kita datengin yuk ke sana dan sapa dia!"


"Eh jangan! Ga usah! Kita ke sebelah sana aja yuk! Aku ga mau ganggu mereka!"


Arya terlihat sedang melingkari tangannya di bahu perempuan itu. Elena jadi tak mau mengganggu jika perempuan itu memang kekasihnya. Tetapi, baru saja Elena dan Celine akan pergi ke arah lain, Arya melihat mereka dan langsung memanggil mereka.


"Elena! Celine!" Seru Arya sambil melambaikan tangan ke arah Elena dan Celine. Mau tak mau mereka jadi menghampiri Arya.


"Halo kak Arya! Kebetulan banget ketemu di sini!" Celine lebih dulu membuka percakapan, sementara Elena diam saja sambil tersenyum kepada Arya dan perempuan itu.


"Halo Elena dan Celine... Iya ya kebetulan bisa ketemu di sini. Oh iya, kenalin ini adik aku Dita"


"Oooo... " Elena dan Celine menjawab dengan kompak sambil saling memandang, lalu mereka berjabat tangan dengan Dita.


Tak berapa lama kemudian, muncul seorang pria dan bergabung bersama mereka.


"Nah, kalau ini namanya Rido, suaminya Dita."


Lalu mereka saling bersalaman lagi dan memperkenalkan diri. Setelah itu Dita dan Rido pamit karena ingin menghabiskan waktu berdua.


"Oh iya, kalian udah sarapan belum? Kalau belum makan bubur ayam dulu yuk!" Ajak Arya kepada Elena dan Celine.


"Belum sih kak, kita juga belum terlalu lama sampai sini." Ujar Elena akhirnya bersuara karena dari tadi Celine yang menjawab.


"Ya udah, kita makan di sana yuk! Jangan khawatir, aku yang traktir kok" Ujar Arya sambil menyeringai.


"Boleh deh kak" Jawab Elena setelah lebih dulu bertanya kepada Celine. Elena dan Celine duduk bersebelahan sementara Arya duduk di depan mereka. Setelah memesan bubur mereka mengobrol ringan. Tapi sebelum pesanan datang, tiba-tiba Celine pamit ingin membeli cilok pesanan adiknya dulu sebentar. Padahal sebenarnya ia juga ingin meninggalkan Elena sebentar agar Elena dan Arya bisa leluasa mengobrol berdua.


Setelah di tinggal oleh Celine, Elena malah diam dan memandangi Arya.


"Eh... Elena? Ada sesuatu ya di wajahku?" Tanya Arya yang jadi salah tingkah melihat Elena sedari tadi memandangi Arya.


"Matamu masih abu-abu... "


"Apa?"


"Ah... Eeng... Ngga ada apa-apa kak... Aku cuma masih suka pangling lihat mata kakak yang berwarna abu-abu. Tadi aku lihat Dita juga sama. Kakak belum pernah benar-benar cerita soal warna mata kakak."


"Begitu ya? Jadi nenek aku berasal dari Turki, Lena. Warna mata kami warisan dari nenek" Jelas Arya singkat.

__ADS_1


"Oh gitu ya... Pantesan. Nenek kak Arya sekarang tinggal dimana?"


"Sejak menikah sama kakek ya tinggal di sini."


"Nenek dari pihak ibu ya, kak?"


"Iya benar. Kamu suka sama warna mataku ya?"


"Iya, suka banget"


"Mau tukeran?"


"Mana bisa, kak!"


"Bisa aja lewat operasi. Mau ga?"


"Kak Arya aneh-aneh aja deh. Bayangin operasi aja aku udah ngeri kak!"


Arya hanya terkekeh melihat reaksi Elena yang panik. Dia memang suka menggoda Elena.


"Ini Celine kemana ya kak, buburnya udah dateng nanti keburu dingin jadi ga enak"


"Ya udah ga apa-apa nanti pesan lagi aja kalau Celine datang. Kita makan duluan aja, gimana? Pasti kamu juga udah lapar kan?"


"Iya, lumayan sih kak"


"Ya udah kita makan duluan aja yuk!"


"Oke deh"


"Kakak kenapa?"


"Ga apa-apa, aku cuma suka aja liat kamu makan. Kamu ga jaim kayak perempuan lain"


"Gitu ya? Aku jadi malu"


Arya hanya tersenyum melihat Elena yang menunduk malu.


**


Celine sudah membeli cilok pesanan adiknya dan hendak kembali ke tempat Elena dan Arya, tapi kemudian ia melihat sosok lain yang tiap hari ia lihat di kantor. Sosok itu adalah Steven. Ia sedang berjalan dengan seorang perempuan cantik dengan kulit putih bersih. Ia memutuskan tak ingin menegur Steven dan hendak kembali ke tempat Elena, tapi Steven sudah keburu melihat Celine.


"Hei, tunggu! Celine!"


Kemudian Celine menoleh ke arah Steven.


"Kamu Celine kan? Dari bagian administrasi?"


Steven memang tidak setiap hari bertemu dan menyapa Celine, tapi ingatannya tajam dan ia hafal sebagian besar karyawan di kantornya.


"Hebat kamu, Steve. Ingat sama nama karyawan kamu" Ujar perempuan yang bersama dengan Steven.

__ADS_1


"I... Iya, pak. Saya Celine"


"Kamu kesini sama siapa?"


"Dengan Elena, pak"


"Trus Elena-nya kemana?"


"Sedang makan bubur sama kak Arya, pak."


"Apa? Mereka janjian kesini atau kebetulan ketemu di sini?" Steven heran karena tadi Arya tak bilang kalau ia mau ke tempat ini.


"Kebetulan ketemu, pak. Tadi kak Arya kesini sama adiknya. Udah ya pak, saya ke tempat mereka dulu"


"Tunggu! Aku ikut! Kamu ga keberatan kan Syl kalau ikut ke sana?"


"Aku panggil anakku dulu ya Steve, nanti aku ikut ke sana"


"Oke, aku tunggu ya"


"Oke"


Kemudian Steven berjalan di sebelah Celine untuk menyusul Arya dan Elena. Celine merasa badannya panas dingin saking gugupnya ia berjalan bersama Steven. Akhirnya mereka tiba juga di tempat Elena dan Arya berada. Mereka sedang bersenda gurau ketika Steven dan Celine tiba.


"Loh Tev, kamu ke sini juga?" Ujar Arya yang kaget melihat Steven datang bersama Celine.


"Iya, aku diajak Sylvia kesini." Ujar Steven.


"Emangnya kamu ga ke gereja, Tev?"


"Lagi ngga. Tadinya aku mau ajak Emily ke gereja, tapi dia ga mau jadinya aku juga ikutan males"


"Emang ga di omelin Papi kamu, Tev?"


"Ngga. Papi juga lagi kurang sehat makanya jadi ga ke gereja semua deh"


"Oh gitu"


"Kamu katanya ke sini sama Dita. Tapi kok ga ada Dita-nya?"


"Dia lagi keliling berdua sama Rido"


"Pantesan kok ga ada."


"Sini yuk duduk. Kita makan bareng. Sylvia mana? Tadi katanya kamu sama Sylvia?"


"Dia lagi jemput anaknya dulu, nanti juga kesini"


Elena dan Celine hanya menyimak obrolan mereka. Sebenarnya Celine penasaran dengan hubungan Steven dan Sylvia tapi ia tak mungkin bertanya kepada Steven. Tak lama kemudian, Sylvia datang bersama anak laki-lakinya yang bernama Feris. Steven lalu mengenalkan Elena dan Celine kepada Sylvia.


"Sylvia ini dokter sekaligus teman satu almamater aku di kampus" Ujar Steven menerangkan.

__ADS_1


"Iya, dan ini anakku Feris. Aku ajak kesini supaya selain bisa olahraga juga biar ga bosen di rumah terus. Apalagi papinya lagi dinas ke luar kota"


Setelah mendengar penjelasan Sylvia, Celine jadi lega. Ternyata Sylvia sudah punya suami dan anak. Jadi Steven dan Sylvia hanya berteman. Celine merasa jadi punya harapan untuk mendekati Steven, walau itu sepertinya agak mustahil mengingat posisi dia dan Steven di kantor sebagai atasan dan bawahan.


__ADS_2