Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 90 Setelah Pemakaman


__ADS_3

Pemakaman Steven dan Jade selesai di siang hari. Elena kemudian di antarkan pulang ke rumah oleh Mr. Rami. Di sore hari, setelah selesai sholat Ashar, Elena masih meringkuk di lengan neneknya. Ia masih begitu sedih dengan kepergian Steven.


Sekitar jam 5 sore, sebuah mobil datang di depan rumah kakek Elena. Elena mengenali mobil tersebut sebagai mobil keluarga Steven. 'Siapa yang datang? Apakah itu papi Steven?' Elena bertanya-tanya dalam hati. Tapi yang datang hanyalah Pak Sofyan, supir keluarga Steven. Ia membawa sebuah benda besar yang terbungkus rapi. Setelah menyerahkan benda tersebut, ia pamit.


Elena segera membuka bingkisan tersebut yang ternyata adalah rumah boneka Barbie Dream house lengkap beserta isinya. Ada Barbie, Ken, ayah dan Ibu Barbie, sampai ketiga adik Barbie yang bernama Skipper, Stacy dan Chelsea. Di dalamnya terdapat secarik kertas yang Elena kenali sebagai tulisan tangan Steven. Isinya sangat singkat :


Kamu bisa mengganti nama Ken menjadi Stevie dan Barbie menjadi Elena.


Berbahagialah


Love,


Stevie


Steven mengakhiri tulisannya dengan mencantumkan emoticon wink (mengedipkan mata). Elena kembali menangis tersedu-sedu. Bahkan ketika sedang sekarat pun Steven masih memikirkan untuk memberikan hadiah spesial ini untuk Elena. 'Aku takkan pernah melupakanmu, Stevie' batin Elena.


**


Steven meninggal di hari Sabtu. Di hari Minggu sore, Dimas dan Arya terlihat berada di bandara sedang mengantarkan Sylvia ke Jerman. Rencananya Sylvia akan mengikuti sebuah konferensi yang di hadiri oleh beberapa perwakilan dokter dari seluruh dunia.


Konferensi tersebut akan membahas tentang penyakit langka yang ada di dunia. Sylvia adalah salah satu dokter yang akan melakukan presentasi bersama dengan salah satu pasiennya yang memiliki penyakit langka tersebut. Saat ini pasien tersebut ikut bersama dengan Sylvia di penerbangan yang sama. Pasien yang duduk di kursi roda tersebut di bantu oleh Mr. Rami.


Rencananya Mr. Rami akan mengantar Sylvia dengan pasiennya sampai Jerman, setelah itu ia akan kembali ke kampung halamannya. Mr. Rami berkebangsaan Singapura. Ia adalah mantan petugas keamanan di salah satu hotel berbintang di Singapura. Ia bertemu Steven ketika Steven di serang oleh sekelompok orang tak di kenal sewaktu ia sedang berada di Singapura. Belakangan baru di ketahui kalau sekelompok orang tersebut adalah orang-orang suruhan Aldo.


Setelah kematian Steven, Mr. Rami tak ingin lagi bekerja untuk keluarga Steven. Hal itu sebenarnya di sayangkan, karena Dimas dan Arya ingin Mr. Rami tetap bekerja sebagai pelindung Hans. Tapi Mr. Rami yang dari awal bertemu Steven bertekad untuk mengabdi padanya, setelah kematian Steven ia sudah tak mau lagi bekerja untuk keluarga Steven.


"Mr. Rami, terima kasih atas segala bantuan anda selama ini. Kami sungguh berhutang budi pada anda" Ujar Dimas


"Don't mention it. Saya menikmati pekerjaan saya selama ini. Tapi sekarang saya sudah tak bisa lagi mengabdi kepada Mr. Steven. Saya doakan kalian selalu sehat dan bahagia, Mr. Dimas dan Mr. Arya"


"Kami juga mendoakan yang sama untuk anda, Mr. Rami" Ujar Arya dan Dimas sambil menyalami tangan Mr. Rami.


Ketika sudah waktunya untuk boarding ke pesawat, Dimas dan Arya bergantian memeluk Sylvia.


"Semoga sukses dengan konferensinya, Syl. Terima kasih untuk segala yang telah kau lakukan untuk Tev" Ujar Arya sambil memeluk Sylvia. Dimas hanya memeluk Sylvia tanpa berkata apa-apa, karena matanya sudah mulai berkaca.

__ADS_1


"Semoga sukses juga untuk anda, tuan" Kali ini Dimas berbicara dengan pasien Sylvia sambil menepuk pelan bahunya. Sementara Arya hanya meremas bahunya sekilas. Pasien yang memakai beanie dan masker tersebut hanya menganggukan kepalanya tanpa bersuara, karena Sylvia memberitahu kalau pasiennya sudah mulai kesulitan untuk bicara karena pita suaranya bermasalah.


Setelah memastikan Mr. Rami, Sylvia, dan pasiennya sudah masuk ke pesawat, Dimas dan Arya kemudian menuju ke parkiran mobil untuk pulang.


"Kau mau menyetir atau aku saja, Dims?"


"Kau saja, ya'. Aku sepertinya tak punya tenaga untuk menyetir"


Arya hanya menghela nafas panjang. Ia pun sama sedihnya dengan Dimas. Tapi mereka harus kuat demi Steven.


"Dims, sepertinya kita harus mencari bodyguard baru khusus untuk papi"


"Aku setuju ya'. Aku akan coba tanya sama anak buahku nanti"


"Oke, Dims."


"Kau juga perlu sebenarnya. Apalagi selama ini kan kau yang paling sering hilang. Atau menghilangkan diri"


Arya memutar bola matanya.


"Jangan sok berani, ya'. Aku tau kamu bisa bela diri. Kalau lawanmu cuma satu atau dua orang sih ga masalah, kalau banyak gimana? Aku tetap akan mencarikan bodyguard buat kamu. Titik. Jangan bantah lagi"


Selain Steven, Dimas juga punya beberapa bodyguard yang keberadaannya tak di ketahui oleh orang awam. Mereka hanya mengawasi dari jauh. Walau Dimas suka membawa mobil sendiri, sebenarnya dari jarak yang aman selalu ada yang mengikutinya untuk menjaganya. Begitu juga dengan Prakash, kakaknya yang tinggal dan bekerja di Singapura. Hanya Lili yang pengawalnya selalu terlihat, jumlahnya ada dua orang. Yang satu bertugas membawa mobil dengan rekannya yang selalu duduk di kursi depan bersamanya.


**


Setelah membicarakan tentang bodyguard, anehnya di hari Senin pagi, Dimas dan Arya yang seharusnya masuk kantor malah menghilang. Elena izin karena sakit. Ia sudah memberitahu Dimas dan Arya, juga Cindy.


Kini di area ruangan Dimas hanya ada Cindy dan Redi.


"Pak Dimas sih udah chat aku semalam, mba. Dia bilang hari ini dia sama Pak Ksatria ga masuk, tapi ga bilang apakah karena sakit atau apa. Mungkin karena masih berduka ya atas kehilangan Pak Steven, sahabatnya."


"Iya mungkin juga. Elena sampai sakit juga mungkin karena terlalu bersedih atas kepergian Pak Steven. Dia kan kekasihnya Pak Steven"


"Benarkah? Kok aku baru tau ya? Aku kira Elena malah pacaran sama Pak Ksatria"

__ADS_1


"Iya memang ga banyak yang tau kalau Elena pacaran sama Pak Steven. Tapi kamu jangan ngomong sama siapa-siapa loh, nanti aku jadi ga enak sama Elena!"


"Iya mba, aman. Aku kan bukan tukang gosip"


"Eh, tapi kok kamu bisa kepikiran Elena pacaran sama Pak Ksatria sih?"


"Mba, emang ga liat apa dari setiap Elena liatin Pak Ksatria? Aku rasa Pak Ksatria juga suka deh, tapi mungkin karena dia laki-laki jadi lebih bisa sembunyikan perasaannya sendiri"


"Ih, kamu sok tau deh!"


"Ya udah kalau ga percaya. Tapi nanti kalau mereka udah masuk kerja mba Cindy coba liatin mereka deh. Keliatan sih kalau menurut aku"


Mba Cindy hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil berfikir mungkin Redi ada benarnya juga.


**


Dimas dan Arya sedang berada di ketinggian 3.048 meter di salah satu puncak gunung tertinggi yang menempati urutan ke 10 di Indonesia. Mereka tampak sedang duduk termenung berdua, sementara keempat bodyguard berdiri di sekeliling mereka sambil mengawasi keadaan sekitar.


Gunung ini adalah gunung pertama yang mereka daki bersama Steven. Saat itu Steven baru saja di angkat sebagai CEO di Simmons Corp menggantikan Papinya yang saat itu terserang stroke. Di usia yang masih muda membuat Steven harus mengemban tanggung jawab besar tersebut. Ia menjadi tertekan dan itu membuat kedua sahabatnya menjadi khawatir.


Ketika libur panjang, Arya mengambil inisiatif untuk mengajak Steven untuk naik gunung bertiga dengan Dimas. Ketika sampai di puncak tertinggi gunung tersebut, Steven berteriak keras untuk melepaskan beban yang selama ini di pikulnya sendiri.


Kini, Steven telah tiada. Dimas dan Arya mengenang Steven dengan sedih.


"Kamu tau ga ya' yang orang-orang bilang ketika kehilangan seseorang seolah ada lubang di dada kita?" Tanya Dimas


"Iya, aku pernah dengar sih istilah itu"


"Kurang lebih itu yang kurasa sekarang. Kita kemana-mana selalu bertiga, walau sekarang kita punya kesibukan dan ga tiap hari bisa ketemu. Sekarang kita tinggal berdua. Masa iya trio tangguh berubah jadi duo tangguh sih?" Dimas menutup mukanya dengan kedua tangannya untuk menutupi kesedihannya.


"Ga ada yang namanya duo tangguh, Dims. Kalau satu ngga ada, ya sudah berarti trio tangguh udah ga ada lagi. Karena dari dulu emang kita bertiga. Kita harus move on demi Tev, Dims. Ada tambahan tanggung jawab dari Tev yang harus kita jalani juga. Kamu kalau jadi dia pasti akan melakukan yang sama, kan? Siapa lagi yang bisa menolong Tev kalau bukan kita? Masa iya si Aldo?"


"Iya juga sih. Ya udah, sekarang kita pulang yuk!"


"Yuk"

__ADS_1


*Kira-kira ada yang tau ga nama gunung yang di daki sama Dimas dan Arya? 😊


__ADS_2