
Kerah kemeja Arya terlihat kurang rapi. Elena pikir mungkin karena Arya tidak suka atau tidak terbiasa memakai setelan jas resmi, maka Ia terlihat kurang nyaman memakainya.
"Maaf kak, aku izin untuk membetulkan kerah kemeja kakak."
"Apa? Eeh... Oke... "
Lalu Elena membetulkan kerah kemeja Arya yang agak sedikit menunduk agar Elena sampai karena tinggi badan Elena dan Arya agak jauh jaraknya. Berada di jarak yang dekat membuat jantung Elena sedikit berdebar, begitu juga dengan Arya.
"Eemm... Elena, aku perlu bicara sesuatu denganmu"
"Bicara tentang apa, kak?"
Arya baru saja akan mengatakan sesuatu ketika seseorang memanggil nama Elena.
"Elena!'
" Pak Dimas?"
"Di cari dari tadi akhirnya ketemu juga. Kamu juga ya' kirain kemana taunya disini"
"Sorry Dims, lagi cari udara segar"
Dimas bergantian melihat Arya lalu ke Elena. Apa tadi aku mengganggu ya? Pikir Dimas. Di belakang Dimas muncul Eyang yang kursi rodanya di dorong oleh Prakash.
"Akhirnya Eyang ketemu juga sama Elena." Ujar Eyang.
"Oh jadi ini yang namanya Elena yang gantiin Bu Astri ya, Dim?" Ujar Prakash kepada Dimas.
"Iya, mas."
Lalu Prakash mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Elena.
"Saya Prakash, kakaknya Dimas"
"Saya Elena. Senang bertemu dengan Pak Prakash"
Prakash menganggukan kepalanya lalu membisikan sesuatu kepada Dimas.
"Dia cantik juga, pantesan kamu terima dia untuk gantiin Bu Astri"
"Ish, aku terima dia bukan cuma karena cantik aja, mas tapi karena aku yakin dia mampu"
"Iya... Iya... Mas percaya deh"
"Ngapain kalian bisik-bisik? Mencurigakan saja ini!" Ujar Eyang terlihat curiga.
"Ga apa-apa Eyang. Curiga aja nih" Ujar Dimas.
__ADS_1
"Iya nih, cuma ngomong biasa aja kok" Prakash ikut menimpali Dimas.
Elena lalu menghampiri Eyang dan mencium tangannya dengan santun.
"Selamat ulang tahun, Eyang. Semoga Eyang selalu sehat dan bahagia. Kakek sama nenek Elena juga titip salam untuk Eyang"
"Terima kasih, Elena. Tolong sampaikan juga salam Eyang buat kakek dan nenek kamu. Kamu menangnya masih tinggal sama kakek dan nenek kamu ya?"
"Iya Eyang"
"Orang tua kamu kemana?"
"Dua-duanya sudah meninggal Eyang sejak Elena lahir"
"Ooo.. Begitu ya"
Eyang kemudian mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ayo masuk, Eyang mau kenalkan sama seluruh keluarga Eyang."
Kemudian mereka masuk ke dalam. Dimas juga mengajak Arya untuk masuk ke dalam.
Eyang mulai memperkenalkan keluarganya satu persatu kepada Elena.
"Semuanya, perkenalkan ini Elena, sekretaris Dimas yang baru menggantikan ibu Astri yang sudah bertahun-tahun membantu kita sejak Bram menggantikan Eyang. Elena, ini Bram Papanya Dimas. Di sebelahnya istrinya, mamanya Dimas yang bernama Triana. Ini Lili, adiknya Dimas. Sebelahnya lagi mba Lady, istrinya Prakash. Nah, dua anak yang lucu-lucu ini cucu Eyang yang namanya Gendis dan Bisma."
"Kamu sudah berapa lama menggantikan Bu Astri?" Tanya Lili kepada Elena.
"Sejak hari Rabu, jadi baru sekitar 3 hari"
"Eyang ketemu Elena hari Senin waktu Elena masih tes ujian tertulis. Anaknya baik, Eyang di antarkan ke ruang Dimas padahal dia sendiri mau tes tapi mau anterin Eyang dulu" Ujar Eyang.
"Beruntung ya, baru 3 hari kerja bisa langsung di undang ke pesta ulang tahun Eyang" Ujar Lili dengan sinis.
"Ga usah iri, dek. Kamu lebih beruntung lagi dari lahir udah jadi cucu Eyang, jadi ga usah pakai diundang juga pasti datang sendiri" Ujar Dimas mencoba mengurangi ketegangan Lili yang kadang gampang emosi.
Keluarga yang lain hanya tersenyum mendengar ucapan Dimas.
"Selamat datang di Loekito Corp, Elena. Dimas memang keliatan santai dan suka bercanda, tapi kalau kerja dia serius dan bertanggung jawab" Ujar Bram membanggakan anaknya.
"Tapi jangan sampai buat dia marah, kalau marah serem. Macan aja takut sama dia kalau dia lagi marah" Ujar Prakash menimpali dan langsung di setujui oleh Arya. Yang lain hanya tertawa mendengarnya.
**
Steven mencari Arya dan Dimas, tapi tak kunjung menemukan mereka. Sekembali dari toilet, ia kebingungan mencari dua sahabatnya, sekarang ia malah di kerubumgi para wanita muda yang ingin mengajak Steven untuk ngobrol.
Steven tetap menghiraukan mereka lalu mencoba menelpon Arya untuk menanyakan keberadaannya. Ia lalu bergegas mencari Arya.
__ADS_1
Elena mengambil minuman yang disediakan oleh pramusaji. Tapi belum juga ia minum, seseorang menabraknya. Pria itu adalah pria yang sama yang mengotori baju kerjanya karena cipratan dari mobilnya beberapa hari yang lalu.
Minuman yang di pegang Elena membasahi jasnya. Baik Elena maupun Steven sama-sama terkejut melihatnya.
"Kamu... Kamu yang tempo hari menimpuk mobilku dengan batu, kan?"
"Saya takkan menimpuk dengan batu kalau mobil anda tidak mengotori baju saya!"
Tadinya Elena ingin meminta maaf karena tanpa sengaja menumpahkan minumannya ke jas pria itu. Tetapi karena ia pria yang sama yang telah membuatnya kesal beberapa hari yang lalu, Elena menjadi membatalkan niatnya untuk meminta maaf.
"Kamu harus minta maaf sekarang juga ke saya!"
"Tidak mau! Lagipula kan anda yang sebenarnya tadi menabrak saya duluan!"
Elena benar, memang Steven yang tadi menabraknya. Tapi Steven tetap menyangkal dan menuntut Elena untuk meminta maaf.
Perdebatan mereka memicu perhatian orang-orang di sekitar mereka. Dari kejauhan, Dimas dan Arya yang sedang bersama dengan keluarga Dimas memperhatikan keributan tersebut, tetapi mereka belum tahu siapa saja yang ribut di sana. Kemudian mereka memutuskan untuk mendatangi orang-orang yang telah melakukan keributan tersebut di pesta ulang tahun eyang.
"Loh Dims, itu Steven kan?"
"Iya! Dia kok ribut sama Elena? Ayo cepat kita ke sana!"
Situasi masih panas ketika Dimas dan Arya tiba di tempat. Elena dan Steven pun kaget ketika melihat Dimas dan Arya.
"Ada apa nih, Tev?" Tanya Arya kepada Steven.
"Perempuan ini udah numpahin minumannya ke jas aku! Dan dia ga mau minta maaf!"
"Anda yang tadi menabrak saya! Kenapa saya yang harus minta maaf?"
"Saya kan ga sengaja! Siapa suruh tadi berdiri di tempat yang ga tepat!"
"Emangnya Anda kira saya sengaja gitu numpahin minuman ke Anda? Sama aja kan, saya juga ga sengaja jadi saya ga perlu minta maaf!"
Dimas dan Arya hanya menggeleng-gelengkan kepala karena heran dengan sikap Elena dan Steven.
"Udah... Udah... Tev, ayo aku antar ke toilet untuk bersihin jas kamu. Kamu bisa pakai jas aku nanti. Lagipula ini kan memang jas kamu, kan?" Ujar Arya menyeringai kepada Steven.
"Iya Tev, bersihin aja dulu jas kamu. Nanti Elena pulangnya aku yang antar"
"Seperti biasa ya, kamu kebagian yang enaknya!" Ujar Arya sambil tersenyum masam kepada Dimas.
"Kamu mau tukeran? Ya udah nih kamu yang anterin Elena, aku yang bantuin Tev bersihin jasnya"
"Ga usah!" Ujar Arya pura-pura ngambek.
"Dih, ngambeknya jelek banget sih!"
__ADS_1
Elena jadi tersenyum melihat kelakuan mereka.