Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 60 Sydney in Memory (1)


__ADS_3

Setelah puas jalan-jalan di hari Sabtu, di hari Minggunya Elena beristirahat di rumah, sehingga di hari Seninnya ia dapat beraktivitas lagi di kantor seperti biasa dengan kondisi prima. Dimas dan Redi tidak ada di kantor karena mereka harus melakukan perjalanan dinas ke Sydney, sehingga posisi Dimas di kantor pusat selama beberapa hari ini di gantikan oleh Arya yang jabatannya adalah wakil CEO.


Di hari Senin pekerjaan cukup padat. Karena Redi sedang membantu menemani Dimas ke Sydney, Arya jadi agak repot dengan pekerjaannya walaupun sudah di bantu oleh Elena dan Cindy.


**


Dimas berangkat pagi sekali menuju bandara. Setibanya di bandara, Dimas bertemu dengan Redi. Karena sudah terbiasa melakukan perjalanan dinas bersama, jadi keberangkatan hampir tidak mengalami hambatan, karena Redi tidak takut naik pesawat terbang seperti Elena.


'Tapi sebenarnya lebih enak melakukan perjalanan dengan Elena, karena ia tidak kaku seperti Redi. Dan dia cantik juga menyenangkan jadi aku tak pernah bosan. Seharusnya dulu aku menerima asisten pribadi yang perempuan saja biar tidak bosan seperti ini,' keluh Dimas dalam hati.


Tetapi bagi Dimas sebenarnya memiliki asisten pribadi berjenis kelamin pria lebih efektif di banding wanita. Seperti ketika mau check-in di hotel seperti ini. Semuanya di urus oleh Redi, Dimas hanya tahu beres saja. Sebenarnya apabila punya asisten perempuan pun mereka bisa melakukan yang sama, tapi Dimas tak bisa asal memberi perintah jika dengan asisten perempuan.


Redi juga bukan tipe yang senang berjalan-jalan apalagi shopping. Jadi jika tugasnya di hari itu sudah selesai, Redi lebih memilih untuk beristirahat di kamarnya sampai waktu menjelang makan malam tiba.


Lokasi hotel tempat Dimas menginap dekat dengan pantai, jadi Dimas memutuskan untuk ke sana. Suasana pantai begitu ramai, banyak orang berdatangan ke sana sambil menunggu matahari terbenam.


Dimas menghela nafasnya. Ia pikir pasti akan menyenangkan dan romantis kalau bisa kesini bersama pasangan. Sejak lepas dari jeratan Diva, Dimas belum berkencan lagi. Tiba-tiba ia mendengar seseorang berteriak kepadanya.


"Hei, could you pass the ball, please!"


Dimas melihat seorang wanita cantik dengan memakai bikini warna pink meminta bola voli yang ada di dekat Dimas untuk diberikan kepadanya. Kemudian Dimas membantu mengoper bola tersebut kepada wanita itu.


"Thank you"


Kemudian ia mengamati Dimas dengan seksama.


"Apakah kamu... Orang Indonesia?"


"Iya. Kamu juga ya?"


Kemudian mereka saling memandang. Mereka merasa pernah bertemu sebelumnya, tapi mereka lupa kapan tepatnya. Teman-teman dari wanita itu kemudian malah menawarkan untuk ikut bergabung bermain bersama mereka, karena mereka memang kekurangan satu orang. Dimas akhirnya setuju untuk bermain voli pantai sebentar sampai matahari terbenam.


Dimas bermain satu tim bersama wanita itu. Mereka bersenang-senang, dan akhirnya tim Dimas menang.


"Perkenalkan, namaku Dimas" Ujar Dimas sambil menjulurkan tangannya.


"Namaku Viera" Jawab perempuan itu sambil menerima uluran tangan Dimas.

__ADS_1


"Kenapa aku merasa mengenalmu ya?" Tanya Dimas yang merasakan semacam deja vu.


"Mungkin kau memang mengenalku" Ujarnya sambil tersenyum penuh misteri.


Dimas merasa penasaran dengan wanita itu. Kemudian ia memberikan kartu namanya kepadanya dan menawarkan untuk makan malam bersama. Wanita itu berkata ia akan menghubungi Dimas jika ia berubah pikiran.


**


Di malam hari, Dimas memberi tahu Redi untuk makan malam sendiri dulu karena ia ada janji dengan seseorang, walaupun saat itu Viera belum menghubunginya untuk mengabari apakah ia mau makan malam dengan Dimas atau tidak.


Dimas sudah lebih dulu pergi ke restoran tempat ia akan makan malam. Ia sungguh berharap kalau Viera akan datang. Tapi setelah dua jam menunggu, wanita itu tidak kunjung menghubunginya via ponsel apalagi datang. Dimas sungguh kecewa.


Keesokan paginya, Dimas mulai bekerja dengan Redi. Mereka akan melakukan survei lokasi karena rencananya perusahaan Dimas akan membuka kantor cabang di Sydney. Seharian mereka berada di luar ruangan dan baru kembali ke hotel sore.


Dimas sudah tidak berharap Viera akan menghubunginya lagi, karena itu ia berencana untuk makan di salah satu restoran seafood yang lokasinya tidak jauh dari hotel tempat ia menginap bersama Redi. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam ketika Dimas dan Redi mulai makan ketika ponsel Dimas berbunyi.


"Duh, lagi seru makan ada yang telepon gini kayaknya ga pas banget"


Dimas memutuskan untuk tidak mengangkat telepon dan lanjut makan. Redi yang mendengar keluhan Dimas tadi hanya tersenyum lalu fokus makan. Kemudian ponsel Dimas berdering lagi.


"Angkat aja, pak. Siapa tau penting" Ujar Redi. Dimas lalu mencuci tangannya dan deringan di ponselnya sempat berhenti, tapi tak lama berdering kembali. Dimas memicingkan matanya melihat layar ponselnya. Hanya nomor tanpa nama, tapi sepertinya nomor kode Australia. Lalu Dimas langsung mengingat Viera dan mengangkat ponselnya.


"Viera? Apakah ini kau?"


"Yes, you're right. Miss me?"


"Yes, I miss you. Where have you been?"


"Bussy. Aku mendadak ada pekerjaan kemarin"


"Oke"


"Masih ingin dinner sama aku?"


"Of course. Kamu dimana? Nanti aku jemput"


"Tidak usah. Nanti kita bertemu di restoran saja. Aku sudah booking tempat di sana"

__ADS_1


"Oke, aku akan kesana sekarang juga"


Redi yang mendengarkan percakapan Dimas di telepon hanya memutar bola matanya. Ia tak heran dengan kelakuan Dimas. Setelah ini pasti ia akan di tinggal jadi ia akan pulang sendirian.


"Redi, maaf sepertinya aku mendadak ada janji dengan seseorang. Kamu bisa pulang sendiri kan ke hotel?"


"Iya Pak"


"Oke, kalau gitu aku tinggal dulu ya. Kamu kalau udah selesai langsung pulang aja. Aku yang akan bayar semua ini"


"Baik, Pak. Terima kasih"


Porsi makanan yang mereka pesan malam ini besar. Redi tidak sanggup memakannya sendiri, dan Dimas tadi baru makan sedikit. Kemudian Redi memandang keluar dan melihat dua orang tunawisma yang sedang meminta-minta uang receh kepada tiap orang yang hendak masuk dan keluar restoran.


Redi kemudian memanggil pelayan restoran dan meminta tolong supaya makanan yang masih tersisa banyak untuk di bungkus agar ia bisa memberikan kepada kedua tunawisma tersebut. Setelah itu ia berjalan kaki untuk kembali ke hotel.


**


Keesokan harinya, Redi dan Dimas kembali melanjutkan pekerjaan mereka sampai seharian. Redi tidak tahu Dimas pulang jam berapa semalam, tapi ia lega akhirnya Dimas tetap bisa bekerja dengannya, tidak seperti waktu di Singapura, seperti cerita yang ia dengar dari Elena ketika Elena dan Dimas sedang melakukan perjalanan dinas ke Singapura.


Hari sudah menjelang senja ketika Redi dan Dimas kembali ke hotel. Rencananya besok pagi mereka akan kembali ke Jakarta sesuai rencana perjalanan yang sudah di persiapkan sebelumnya. Dan malam ini Redi kembali makan malam sendirian, karena lagi-lagi Dimas ada janji dengan seseorang.


**


Dua hari kemudian, Redi kembali masuk bekerja seperti biasa di kantor pusat Loekito Corp. Kemarin pagi ia berangkat dari Sydney ke Jakarta sendirian.


Setelah duduk, Redi langsung di berondong pertanyaan oleh Cindy dan Elena yang langsung menghampiri mejanya.


"Redi, Pak Dimas kemana? Dia ga pulang bareng kamu?" Elena hanya diam mendengarkan sementara Cindy bertanya kepada Redi.


"Ngga, mba. Pak Dimas extend di Sydney sampai waktu yang tidak ditentukan karena dia sendiri ga bilang akan di sana sampai kapan."


"Kerjaan lagi banyak-banyaknya, kasihan pak Ksatria. Aku takutnya dia kecapekan trus sakit aja."


"Mudah-mudahan ga ada apa-apa, mba. Aku udah ada di sini sekarang dan siap untuk bantu kalian." Ujar Redi dengan mantap.


"Iya, untungnya kamu ga ikutan ekstend jadi bisa bantu kita"

__ADS_1


"Iya, mba. Ayo kita mulai kerja karena aku harus ngejar ketinggalan juga nih"


"Oke, siap" Lalu Cindy dan Elena kembali ke meja kerjanya masing-masing.


__ADS_2