
Di hari Senin pagi, sebelum berangkat kerja Dimas menelepon Arya
"Halo Dims, tumben pagi-pagi nelpon. Ada apa?"
"Ya' aku butuh bantuan kamu. Sepertinya hari ini aku ga bisa interview para calon pengganti Bu Astri deh. Kamu bisa tolong gantiin ga?"
"Bisa aja sih. Trus jadinya aku yang nentuin nih siapa yang jadi pengganti Bu Astri?"
"Gini aja deh, karena aku masih pengen ketemu sama Elena, jadi interviewnya dibuat dua kali aja. Calonnya ada berapa ya?"
"Kata Bu Astri sih tinggal 5 orang karena banyak yang gugur di psikotes. Emangnya kamu kenapa ga bisa hari ini, Dims?"
"Ada masalah di kantor cabang Singapore. Karena proyeknya merger sama Tev, jadi nanti aku ada rapat sama Tev sekalian tele conference sama mas Akash"
Mas Akash adalah panggilan Dimas untuk kakak sulungnya yang bernama Prakash yang memegang kantor cabang di Singapura.
"Ya udah nanti aku yang handle interviewnya. Kamu tenang aja yang penting urusan di Singapura selesai dulu"
"Oke ya', thanks ya... "
"Iya sama-sama"
Setelah menutup telpon, Arya malah panik. Tunggu dulu, kalau aku nanti wawancara Elena, nanti dia bisa tau yang sebenarnya nih. Gimana ya? Setelah bolak-balik di kamarnya, akhirnya Arya memutuskan untuk jujur kepada Elena kalau sebenarnya ia tidak bekerja di bengkel melainkan sebagai wakil CEO di perusahaan keluarga Dimas.
**
Semalam hujan turun dengan deras, membuat Elena khawatir hari ini jalanan jadi becek. Benar juga dugaan Elena, jalanan becek dan macet dimana-mana. Padahal tadi dia sudah berangkat pagi-pagi.
Jarak ke kantor Dimas agak jauh dari jalan raya, jadi Elena harus berjalan sedikit karena ia naik kendaraan umum. Kalau ia naik taksi online ia tidak akan melewati kubangan air dimana-mana seperti ini.
Ketika sedang berjalan, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi lewat dan mencipratkan air genangan yang ada di jalan ke baju Elena. Baju Elena dari atas sampai bawah jadi kotor semua. Padahal hari ini ia harus interview dengan CEO perusahaan.
Karena kesal, Elena kemudian menimpuk mobil itu dengan batu yang cukup besar yang dia temukan di jalan. Timpukannya tepat sasaran. Kini mobil itu menjadi kotor juga seperti baju Elena.
Tak lama kemudian, mobil itu berhenti dan seseorang keluar dari mobil tersebut. Ternyata itu mobil Steven.
"Tuan, tidak perlu keluar. Tadi saya yang salah bawa mobilnya jadi nona itu kena cipratan" Ujar Pak Sofyan supir keluarga Steven.
"Ga apa-apa, biar saya aja pak"
__ADS_1
Kemudian Steven menghampiri Elena.
"Apa-apaan kamu? Liat nih mobil saya jadi kotor gara-gara kamu!"
"Lah sama, baju saya juga jadi kotor gara-gara cipratan dari mobil anda! Bagus kan sekarang kita jadi impas!"
"Impas apanya? Jangan sembarangan ya, cepetan bersihin mobil saya!"
"Iya saya akan bersihin mobil anda kalau anda mau ganti baju saya! Gimana?"
"Ngapain juga saya ganti baju kamu! Udah deh, percuma ngomong sama orang nyebelin kayak kamu. Buang-buang waktu aja!" Kemudian Steven kembali ke mobilnya untuk segera ke kantor Dimas.
Elena hanya melongo melihat kelakuan orang itu. Dia kesal sekali. Tapi setelah itu dia malah menangis.
Arya memelankan laju sepeda motornya ketika melihat seorang perempuan yang sedang berjalan sambil menangis di pinggir jalan. Lalu ia memberhentikan motornya dan kaget ketika mengetahui perempuan itu adalah Elena.
"Elena?"
"S... Siapa?" Jalanan agak sepi jadi Elena agak takut orang ini akan merampoknya. Ia memegang tasnya dengan kuat.
"Ini aku, Arya"
Karena Arya memakai helm tertutup, jadi Elena tidak bisa melihat wajahnya. Kemudian Arya membuka helmnya.
"Ooh.. Kak Arya! Syukurlah... " Ucap Elena lega.
"Kamu kenapa? Kok nangis?"
"Ini baju aku kecipratan genangan air dari mobil yang lewat. Sekarang bajuku jadi kotor. Aku kan ga bawa baju lain lagi. Aku malu mau interview tapi bajunya kotor kayak gini! Huhuhu... "
"Duh, kasihan... Atau gini aja deh, di deket sini ada butik. Kita kesana yuk sekarang!"
"Tapi kak... "
"Udah ga usah tapi-tapian! Ayo naik, nanti aku anter kesana" Ujar Arya.
Di sekitar kantor Dimas, terdapat sebuah butik yang ternyata milik ibunya Arya. Arya langsung mengajak Elena kesana untuk mengganti bajunya yang kotor.
"Loh Arya... Tumben ke sini... Ada apa nak?"
__ADS_1
Setelah mencium pipi ibunya, Arya menjelaskan.
"Ini bu, kenalin ini Elena, teman Arya. Tadi dia abis dapet musibah bajunya terkena cipratan genangan air dari mobil yang lewat. Jadi tolong carikan baju kerja yang cocok ya buat dia"
"Salam kenal tante, saya Elena..." Ujar Elena sambil mengulurkan tangan untuk salim.
"Jangan panggil tante, panggil ibu aja ya. Elena cantik jadi ibu rasa pakai baju apa saja cocok"
"Betul bu... " Ujar Arya sambil tersenyum. Setelah itu Arya meninggalkan Elena dan ibunya agar leluasa memilih baju. Kemudian ia menelpon Bu Astri untuk mengabari kalau ia akan datang terlambat jadi ia minta para calon pegawai yang akan di interview untuk menunggu.
Elena sebenarnya bingung apakah ibu ini ibunya Arya atau bukan. Kalau ibunya punya butik sebesar ini, masa dia biarkan anaknya bekerja di bengkel? Tapi Elena akan menanyakan itu nanti, yang penting ia ke kantor Dimas dulu untuk interview.
Setelah selesai mengganti baju, Elena dan Arya langsung berangkat ke kantor Dimas. Sesampainya di sana, Elena langsung meminta maaf kepada Bu Astri karena datang terlambat.
"Tidak apa-apa, mba. Pak Ksatria juga baru datang sedang bersiap-siap. Tapi mba Elena jadi di interview terakhir. Ga apa-apa ya?"
"Iya, ga apa-apa Bu, yang penting saya masih bisa di interview" Ujar Elena sambil tersenyum
Giliran Elena tiba untuk interview, Elena masuk ke ruangan dan kaget melihat Arya di dalam.
"Loh, kak Arya?"
"Iya, Dimas berhalangan karena ada meeting mendadak jadi aku bantu gantikan. Tapi besok tetap ketemu kok sama Pak Dimas"
"Iya kak, aku ikut aja. Mudah-mudahan besok ga kecipratan genangan air lagi. Apa besok aku bawa baju dua ya?"
"Ga usah. Kalau kena cipratan air lagi kamu telpon aku aja nanti aku anterin lagi ke butik"
"Ih jangan kak, baju-bajunya kan disana mahal-mahal! Tapi baju yang aku pakai ini nanti aku ganti ya kalau diterima disini"
"Udah, ga usah di ganti. Anggap aja itu hadiah dari aku"
"Makasih ya, kak. Aku jadi ga enak"
"Jadi enak kali, Len... "
"Hehehe... Iya juga ya. Tapi ngomong-ngomong pak Dimas kayaknya orangnya baik ya, ga suka milih-milih teman. Padahal kak Arya kan juga kerja di bengkel tapi pak Dimas masih mau minta tolong sama kak Arya"
Arya bingung mau menjawab apa. Sepertinya niat Arya untuk jujur kepada Elena hari ini belum bisa terwujud.
__ADS_1
"