Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 42 Elena hilang


__ADS_3

Dimas sibuk berbicara dengan para tamu sampai ia tidak menyadari kalau dua sahabatnya tidak terlihat di mana-mana. Kemudian handphonenya berdering. Nama Arya muncul di layar dan Dimas langsung mengangkatnya.


"Halo, ya'... "


"Dims, Tev luka parah dan pingsan di depan toilet!"


"Ya Tuhan! Kok bisa sih? Kenapa ya'?"


"Aku juga ga tau ini aku baru ketemu Tev waktu aku mau ke toilet! Tolong kesini sekarang, Dims! Aku perlu bantuan untuk angkat Tev!"


"Oke, aku ke sana sekarang!"


"Ada apa, Dim?" Tanya Leticia penasaran melihat muka Dimas yang khawatir.


"Steven pingsan di depan toilet! Aku ke sana dulu ya!"


"Aku ikut!" Ujar Leticia. Dimas sebenarnya keberatan, tapi ia tak bisa berkata apa-apa. Lalu Dimas dan Leticia bergegas untuk menemui Arya dan Steven.


**


Dimas tiba sambil membawa beberapa asisten rumah tangga yang membawa peralatan P3K. Setelah sempat kaget melihat keadaan Steven, Dimas dan Arya kemudian membawa Steven ke kamar tamu. Leticia masih mengikuti mereka.


Kemudian Arya mencoba mendekatkan minyak angin ke dekat hidung Steven. Lama kelamaan Steven mulai siuman. Terdapat beberapa luka memar di wajahnya.


"Arrrggghhh... Dimana aku, ya'?" Steven yang masih bingung bertanya kepada Arya.


"Di kamar tamu rumah Dimas, Tev. Kamu kenapa sih? Kok tau-tau pingsan sama babak belur gini sih?"


"Aku tadi habis... Ya Tuhan! Elena, ya'! Tadi ada yang ganggu Elena tiga orang! Aku khawatir Elena di culik!" Steven langsung panik mengingat kejadian tadi.


"Hah! Kok bisa? Berarti mereka yang pukuli kamu yang bawa Elena ya? Gimana nih, Dims?" Arya bertanya kepada Dimas.


"Oh iya! CCTV, ya'!" Dimas langsung berlari ke ruang security di depan lalu memeriksa CCTV di lokasi sekitar toilet tamu.


"Aku ga kenal sama mereka. Kapan mereka masuk ya?" Tanya Dimas kepada bagian security.

__ADS_1


"Kami juga tak memperhatikan mereka, den. Tapi katanya tadi tukang kebun ada yang melihat salah satu dari mereka berbicara dengan non Lili, den"


"Dengan Lili?" Tanya Dimas heran. Tapi belum sempat security itu menjawab, rekan kerjanya yang bernama Abram datang.


"Maaf den, saya mau laporan. Salah satu mobil ada yang hilang"


"Mobil yang mana, Pak? Biar nanti saya lacak"


"Yang hilang mobilnya den Prakash, den."


"Oke, saya lacak dulu. Kalian ada yang liat Lili ga dari tadi?"


"Tidak liat, den. Sepertinya masih di dalam rumah"


Kemudian salah seorang asisten rumah tangga memberitahu kalau Lili sedang ada di kamarnya. Tapi setelah Dimas ke kamar Lili, dia tidak ada di dalam kamarnya.


"Apa Lili terlibat ya atas hilangnya Elena, ya'?" Tanya Dimas kepada Arya yang sedari tadi menemani Dimas.


"Bisa jadi. Tapi kita jangan su'udzon dulu tanpa bukti, Dims."


Tak lama kemudian, Steven muncul dengan berjalan tertatih di dampingi oleh Leticia.


"Dimas, aku antar Steven ke dokter dulu ya buat cek ada luka dalam atau tidaknya." Ucap Leticia kepada Dimas. Steven hanya mengangkat bahu melihat Dimas dan Arya yang heran melihat sikap Leticia yang begitu perhatian kepada Steven.


"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya. Kamu di antar Pak Sofyan kan, Tev?"


"Iya, Dims."


Setelah itu Dimas dan Arya melacak keberadaan mobil Prakash yang hilang.


**


Elena yang sebelumnya pingsan baru saja siuman. Ia kaget melihat ke sekeliling tempat dimana ia berada. Tempat ini begitu asing dan gelap. Dan ia langsung merasa kedinginan dan ketakutan. Kedua tangannya terikat di lengan kursi.


"Dimana aku? Apa yang telah terjadi?" Elena kemudian mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Ia di serang oleh tiga orang yang berpakaian serba hitam ketika ia keluar dari toilet tamu rumah keluarga Dimas.

__ADS_1


Steven yang kebetulan lewat melihat kegaduhan tersebut. Lalu ia mencoba menolong Elena. Namun ketiga orang tersebut sangat kuat dan Steven yang kalah jumlah tak lama ambruk di lantai.


"Koh Steven bagaimana kabarnya ya? Apakah ia baik-baik saja?" Batin Elena sambil meneteskan air mata karena khawatir.


"Coba lihat, tuan putri akhirnya bangun juga!" Elena mendengar sebuah suara dan kaget ketika melihat sumber dari suara tersebut. Ternyata ia adalah Lili, adik dari Dimas.


"Lili? Kenapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku padamu?" Elena heran kenapa Lili bisa bertindak senekat ini.


"Kau masih bertanya apa salahmu padaku? Aku benci padamu yang selalu merasa sok kecakepan! Mentang-mentang kakakku dan dua sahabatnya baik kepadamu, kau langsung besar kepala dan merasa paling cantik sedunia!"


"Tapi aku tak pernah merasa seperti itu, Lili!"


"Diam kau! Apapun yang kau katakan, aku takkan percaya kepadamu!"


Kemudian Lili hendak menyuruh anak buahnya untuk mengerjai Elena, tapi Lili menjadi heran karena ia tak melihat satu pun anak buah mereka. 'Kemana perginya mereka ya?' Lili bertanya-tanya dalam hati sambil merasa bingung.


"Kamu cari siapa, Lil?" Dimas tiba-tiba muncul sambil membawa tongkat bisbol kesayangannya.


"Mas... Mas Dimas? Kok mas bisa tahu...?" Lili tak bisa meneruskan ucapannya saking gugupnya.


"Bisa tahu kamu ada disini gitu?" Ucap Dimas melanjutkan ucapan Lili.


"Aku memang ga pernah kasih tau kamu sebelumnya kalau semua mobil yang ada di rumah kita, semuanya mas pakai pelacak, termasuk mobil mas Akash yang kamu pakai untuk menculik Elena!"


"Aku ga culik Elena! Aku cuma... Cuma mau sedikit menggertak dia supaya dia ga coba untuk dekati kak Arya atau koko Steve karena mereka milik aku!"


"Lili, kenapa kamu jadi seperti ini sih? Arya dan Steven sahabatku, kalau mereka nanti mau atau ngga sama kamu, itu pilihan mereka. Kamu ga bisa atur mereka seperti ini, dek!" Ujar Dimas mencoba untuk menjelaskan kepada Lili.


"Dek? Rasanya udah lama sekali mamas ga panggil aku dengan sebutan itu. Aku kangen, mas! Aku kangen sama kamu yang dulu mau nemenin aku main. Sejak kamu sibuk sama kak Arya dan koko Steve, mamas jadi lupa sama aku! Huhuhu... " Lili kemudian menangis tersedu-sedu.


"Maafin mamas, deek... " Dimas yang perasa malah ikutan menangis. Setelah itu mereka berpelukan erat. Lalu Dimas berbisik kepada Arya agar melepaskan Elena dan mengantarkan Elena pulang ke rumah. Arya kemudian menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Ayo Elena, aku antar kamu ke rumah" Ujar Arya sambil melepaskan ikatan di tangan Elena.


"Iya kak, Terima kasih banyak" Ujar Elena kepada Arya.

__ADS_1


Setelah itu mereka langsung bergegas keluar dari tempat itu, meninggalkan Dimas dan Lili yang masih berada di dalam dan berbicara dari hati ke hati sebagai kakak dan adik. Sementara ketiga anak buah Lili sudah di amankan oleh beberapa petugas keamanan yang sebelumnya telah ikut serta ke tempat itu atas perintah Dimas.


__ADS_2