
Sudah seminggu sejak Steven di biopsi. Hari ini ia kembali ke rumah sakit untuk pembacaan hasil biopsinya oleh dokter Sylvia, dokter kepercayaan sekaligus sahabatnya di luar trio tamgguh. Elena sebenarnya ingin menemani ke rumah sakit, tapi Steven menolaknya. Ia lebih suka datang sendiri dan tidak ingin mengganggu pekerjaan Elena.
"Hasilnya masih sama, Steve. Kanker paru-paru stadium 2. Minggu depan kau akan menjalani operasi untuk pengangkatan tumormu. Jika sel-sel kankernya masih ada, maka harus dilakukan kemoterapi di awal bulan."
"Oke, Syl. Lakukanlah yang terbaik, aku akan ikuti semua prosedurnya. Aku sudah mengundurkan diri dari perusahaan, jadi aku bisa fokus ke pengobatanku"
"Good. Be strong, Steve. Aku yakin kamu akan sembuh"
"Aku akan berjuang Syl, demi semua sahabat dan keluargaku"
"Termasuk Elena?" Sylvia bermaksud untuk menggoda Steven. Ia tahu kalau Steven dan Elena sudah resmi menjadi sepasang kekasih.
"Bukan termasuk, tapi terutama untuk Elena"
"Wah Steve, aku tak tahu kau bisa seromantis ini. Biasanya kaku banget ngalahin kanebo kering"
"Hei, jangan meledekku! Steven yang itu sudah tidak ada, yang ada Steven yang sedang jatuh cinta"
"Dasar bucin... budak cinta!"
"Terserah kau mau ngomong apa, sekarang aku mau pulang dulu"
"Seperti biasa ya, ga inget ngucapin terima kasih."
"Terima kasih Sylvia yang cerewet, aku akan kirim cek untukmu"
"Hih, blak-blakan sekali kau, Steve"
Steven hanya menyeringai lalu keluar dari ruangan praktek Sylvia.
Sylvia mengenang pertemanannya dengan Steven. Mereka saling kenal sewaktu masih menjadi mahasiswa baru di kampus yang sama, tetapi beda jurusan. Sylvia jurusan kedokteran, sedangkan Steven jurusan Manajemen Bisnis. Dari awal, Steven memang karakternya pendiam dan sejak mengetahui maminya jatuh sakit, Steven jadi pemurung.
Lama kelamaan Sylvia jadi suka dengan Steven. Sejak kenal Steven, Sylvia jadi kenal juga dengan dua sahabat Steven, yaitu Dimas dan Arya. Sylvia hanya beberapa kali bertemu dengan Arya, karena ia kuliah di luar negeri. Jadi ia lebih sering curhat dengan Dimas tentang perasaannya kepada Steven.
Karena Steven pasif dan dingin, suatu hari akhirnya Sylvia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Steven dengan dukungan Dimas. Tapi sayang, Steven menolak Sylvia dengan halus dan lebih memilih untuk berteman. Untungnya Sylvia tak lama patah hati, sejak bertemu dengan Reynold sampai akhirnya menikah, Sylvia jadi bisa melupakan perasaannya kepada Steven dan mereka terus berteman dengan baik sampai sekarang.
**
Steven merasa baik-baik saja dan ia merasa optimis untuk sembuh, berkat dukungan keluarga dan teman-teman dekat. Sebelum di operasi, Steven ingin menghabiskan waktu bersama Elena. Ia berencana untuk berkencan selama sehari penuh bersama Elena.
Di hari Sabtu, Steven berkeliling mall bersama Elena. Mereka sempat bermain bersama di area permainan, mencoba beberapa permainan seperti dance bersama yang tentu saja jadinya malah berantakan karena mereka lebih banyak tertawa, bermain bola basket, dan mengambil boneka dengan capit. Steven ternyata piawai melakukannya. Ia berhasil mendapatkan dua boneka besar untuk Elena.
__ADS_1
Di hari Minggu, Steven mengajak Elena ke pantai. Mereka makan siang di sana dan sore harinya memandang matahari terbenam bersama. Seharusnya momen tersebut pas untuk berciuman, tapi Steven sangat malu untuk memulai duluan, jadi ia hanya diam saja.
Di hari kerja, jika sedang tidak terlalu lelah, Steven selalu menyempatkan diri untuk menjemput Elena pulang dari kantor, mengingat ia sudah tidak bekerja lagi jadi ia punya banyak waktu luang. Ia tak ingin menyia-nyiakan waktunya sedikit pun sampai waktu ia harus di operasi.
**
Akhirnya tiba juga waktu Steven untuk di operasi. Ia terlihat agak tegang, tapi Elena menemaninya sampai Steven masuk ke ruang operasi.
"Koko akan baik-baik aja. Aku di sini untuk temani koko sampai operasi selesai"
"Terima kasih, Elena"
"Semangat koko"
"Semangat"
Karena operasi di lakukan pada siang hari di pertengahan minggu, Elena meminta izin kepada Dimas. Posisi Elena sementara di gantikan oleh Cindy. Dimas dan Arya berjanji setelah pulang kerja mereka akan datang ke rumah sakit.
Operasi Steven di mulai pada pukul 13.15. Sebelum di operasi, Steven sempat memaksa Elena untuk makan. Tapi karena tak ingin meninggalkan Steven, Elena hanya keluar sebentar untuk membeli roti, supaya ia bisa makan sambil menemani Steven.
Sudah 4 jam Elena menunggu Steven selesai di operasi. Sebelumnya, Sylvia sempat memberitahu Elena kalau operasi akan berlangsung selama 2-6 jam. Elena begitu khawatir. Bagaimana jika operasi berlangsung lebih dari 6 jam? Apakah itu tidak berbahaya? Satu jam kemudian operasi masih belum selesai juga. Dimas dan Arya datang untuk menemani Elena.
"Belum selesai juga operasinya?" Tanya Arya
"Sabar dan tenang, Elena. Kita harus percaya kalau dokter bisa menanganinya." Ujar Dimas.
"Kamu sudah makan?" Tanya Arya
"Sudah, kak"
"Tapi mukamu kelihatan pucat. Apa kamu sudah makan dengan benar? " Tanya Arya lagi
"Aku tak apa-apa. Mungkin hanya sedikit lelah"
"Ya', aku mau ke supermarket dulu. Kamu mau nitip ga?"
"Nitip apa ya? Baju ada ga? Kan aku mau nginap di sini nanti"
"Aku mau ke supermarket, bukan departemen store! Palingan adanya cuma CD sama kaos oblong aja"
"Tenang, ga usah emosi dong. CD juga ga ada kali di supermarket"
__ADS_1
"Ada ya', aku kan pernah beli waktu darurat traveling ke Bromo dulu. Inget ga?"
"Emang di Bromo ada yang jual Compact Disc?"
"Bukan Compact Disc, dodol! Tapi ****** *****! Aku jitak juga nih kepala kamu!"
"Hehehehe... Tenang dong, galak banget sih! Pasti tadi siang salah makan deh"
Elena yang melihat ulah mereka yang selalu berdebat jadi tertawa. Dimas dan Arya saling memandang dan tersenyum. Misi mereka untuk membuat Elena tertawa untuk mengurangi ketegangan akhirnya berhasil. Setelah itu Dimas pamit ke supermarket.
"Nanti setelah Tev selesai di operasi, kita temui Tev sebentar trus kamu pulang di antar sama Dimas ya?"
"Kak Arya nanti yang nginap disini ya?"
"Iya. Sampai seminggu juga aku mau temenin Tev disini"
"Kenapa?"
"Sepertinya aku tak punya alasan untuk pulang"
"Apakah karena ayahnya kak Arya?"
Arya hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Aku... Belum mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya adik kak Arya. Turut berduka cita ya, kak"
"Terima kasih, Elena. Kamu tau darimana? Dari Dimas ya?"
"Iya, kak"
"Dimas sesekali emang harus di plester mulutnya"
Elena kembali tertawa.
"Nah gitu dong, sering-sering tertawa kayak gini. Elena, kita semua sedih Tev sakit, tapi kita juga harus kuat demi Tev. Supaya dia semangat untuk sembuh. Oke?"
"Iya, Oke kak"
"Good Girl" Ujar Arya sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, Sylvia keluar dari ruang operasi. Ia memberitahu bahwa operasinya berjalan dengan baik dengan sedikit komplikasi. Setelah di operasi, Steven masih harus di rawat di rumah sakit selama masa pemulihan kurang lebih selama seminggu.
__ADS_1
Sylvia juga memberitahu beberapa hari setelah operasi, area sayatan, dada, dan lengan biasanya akan terasa sakit. Nyeri juga bisa terasa saat menggerakkan lengan maupun menarik napas panjang. Ini takkan mudah bagi Steven, tapi ia meminta semuanya untuk selalu mendukung Steven. Setelah itu Arya menghubungi papi Steven untuk mengabari kalau operasi Steven sudah selesai.