
"Kau yang membuat ini?"
Dendy melangkah ke arah ranjang, seraya mengelus permukaan ranjang. Siapa sangka istri bar-barnya ternyata juga bisa seromantis itu.
"Apa kau suka?"
"Ya!"
"Tuan!"
Degg.
"Bolehkah saya bertanya?"
"Apa itu?"
"Bolehkah aku berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padaku?"
"Apa alasanmu?"
__ADS_1
"Apakah cinta memerlukan alasan untuk tumbuh ataupun hadir?"
Matanya berkaca-kaca, secara tidak langsung Dendy telah mempertanyakan cintanya. Pria itu tidak yakin akan cintanya kepada pria itu. Betapa kecewanya hati Tica, mendengar pertanyaan itu dari mulut Dendy.
"Hey hey, jangan menangis. Aku tak pantas kau tangisi! Aku hanya pria brengsek, Tica. Jika itu memang keinginanmu, baiklah. Kau boleh mencobanya."
Tica mengangguk, seakan mendapat lampu hijau. Kini persetujuan dari pria itu telah ia kantongi. Ia sangat yakin di dalam hatinya, bahwa ia pasti bisa membuat pria itu takluk akan cintanya.
"Jika dalam sembilan bulan aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta, maka kau boleh pergi dariku."
Tica meremat kain piyamanya, menahan air matanya agar tidak sampai jatuh. Dari hati kecilnya, wanita itu begitu berharap Dendy akan membalas cintanya suatu hari nanti. Entah kapan itu, tidak ada yang tahu pasti.
Bayangkan seorang Dendy Faresh, bisa melawak hanya di depan wanita itu. Pria yang dianggap begitu dingin tak tersentuh itu, bisa melucu di depan sang istri. Entah rasa apa ini, Dendy juga tidak tahu. Yang pasti itu bukanlah rasa cinta, karena cinta Dendy hanya untuk Angeline seorang.
"Minggir! Aku ngantuk!"
Sial! Wanita ini langsung saja bar-bar semula, belum ada sepuluh menit drama bawang.
Tica menyenggol lengan Dendy seraya menerobos pria itu. Dan wanita itu segera saja melompat ke arah ranjang, hingga tubuhnya terpelanting naik dan turun. Dendy hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku istri bar-barnya itu.
__ADS_1
Mereka tidur dengan damai, tanpa ada beban di wajah keduanya. Namun Tica, wanita itu masih saja tidur dengan linangan air bening itu. Bekas air bening yang meleleh itu terlihat jelas di pipi Tica. Wanita cantik dengan keceriaannya itu.
Ingatlah! Jika kau harus pergi, maka kau akan pergi dengan kenangan kita bersama dirimu. Anak ini akan ikut bersamaku, aku ibunya, aku yang melahirkannya ke dunia dan aku juga yang akan merawatnya dengan sepenuh cinta hingga dia tumbuh menjadi generasi penerus yang berguna.
Di tengah malam, Dendy terbangun. Wajah yang pertama kali ia tatap adalah, wajah Tica. Wajah Tica menghadap ke arah dirinya, bahkan terlihat jelas jejak air mata di pipi mulus itu. Jari-jari Dendy terangkat untuk menghapus jejak itu.
"Maafkan aku, pria brengsek ini hanya bisa merusak dirimu! Tanpa bisa melakukan apapun selain bertanggungjawab, hati ini seakan dilema, dirimu atau dirinya. Ibu dari anakku atau wanita masa laluku? Istriku atau mantan kekasihku? Aku harap kau akan mendapatkan kebahagiaan yang pantas kau dapatkan setelah kepedihan yang kau rasakan ini!"
Dendy kembali tidur, namun kini dengan posisi menghadap wajah Tica. Bahkan jarak wajah mereka hanya beberapa centi saja. Hal ini benar-benar membuat pria itu merasakan hal yang berbeda. Entah rasa apa itu ia juga tidak paham.
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
Vote like and komennya yah.