Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-84


__ADS_3

Pagi yang indah telah tiba, mentari bersinar di ufuk timur membawa kemilau cahaya dengan kehangatan untuk semua insan yang hendak melakukan aktivitasnya di pagi hari. Embun pagi menyegarkan pagi ini dengan kicauan burung-burung kecil yang hinggap di dahan pohon dibantu suara hembusan angin yang akan membuat semua orang semakin merasa nyaman untuk berolahraga di pagi hari.


"Mas, nanti jadi kan pertemuan bersama Jerry dan Nadya?" Tanya Tica pada Dendy yang tengah menyuapi si kembar sedangkan Tica menidurkan sang putri yang baru saja selesai meminum asi, bayi berumur satu bulan itu tengah terlelap dalam gendongan sang ibu.


"Jadi, Sayang! Hari ini kan weekend, jadi mereka libur dan tentu saja akan datang nanti sore dan mungkin mereka mau menginap, tetapi aku pikir mereka tidak akan menginap karena akan sibuk untuk esok hari." Dendy menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua putranya yang masih memakan makanan dari tangannya sembari bermain di karpet berbulu di kamarnya.


"Oh baiklah, nanti aku akan minta tolong sama bibi untuk siapin ruangannya. Dan untuk memasak beberapa hidangan juga agar mereka bisa makan sekalian." Kata Tica. Ibu beranak tiga itu memang sengaja mengundang kedua sahabatnya agar datang ke mansionnya hari ini, mereka sama-sama tinggal di USA dan Tica pikir mereka pasti bisa meluangkan sedikit waktunya di hari weekend.


"Baiklah Sayang, aku hanya ikut semuanya kamu yang atur. Biar nanti aku yang akan mengurus anak-anak dibantu oleh Wila." Dendy selalu mengerti istrinya, ia tidak mau membuat Tica terlalu lelah, istrinya kerap kali mengeluh lelah padanya dan Dendy tidak akan segan untuk memijit tubuh Tica. Kurang apalagi pria itu? Tica bahkan tidak tega untuk hanya sekedar menyuruh suaminya ini dan itu, karena ibu muda itu juga paham kalau Dendy pasti lebih lelah darinya.


"Kalau Mas lelah, biar aku yang mandikan anak-anak. Mas istirahat gih, nanti yang masak kan ada bibi. Aku tahu kamu cape kan? Mumpung hari libur, Mas istirahat aja." Ucap Tica, seraya menghampiri Dendy yang telah selesai menyuapi si kembar. Tica mengecup pipi suaminya, Dendy tersenyum bahagia. Istrinya memang selalu mengerti dirinya, wanita itu adalah yang terbaik bagi Dendy.


"Tapi aku ga mau kamu lelah, Sayang! Lebih baik aku yang lelah daripada kamu, kalau kamu lelah terus sakit, siapa yang akan merawat anak-anak?"


"Aku kan kuat, Mas! Hahaha... Aku engga lelah kok, orang Anak-anak engga pernah rewel kok, udah sana istirahat nanti sore aku bangunin terus langsung mandi aja."


"I love you, Sayang!"


"I love you too, udah sana ih. Kamu mah kebanyakan wejangan."


"Hehe..."


Dendy mengistirahatkan dirinya sebelum menemui kedua rekannya nanti, Tica mengambil alih mengurus si kembar dengan tetap dibantu oleh Wila selaku pengasuh si kembar. Setelah memandikan kedua batita tampan itu, Tica segera mandi dan segera menyiapkan segala keperluan untuk nanti sore agar tamunya merasa nyaman berada di mansion Dendy.


Di tempat lain, sepasang suami istri juga tengah menikmati hari weekend mereka di pagi hari dengan mengajak istrinya jalan-jalan berkeliling sekitar lingkungan rumah.


Keduanya memakai pakaian olahraga, sang istri memakai tanktop yang dibaluti jacket dipadukan dengan celana training yang tidak terlalu ketat. Sedangkan suaminya memakai sebuah kaos olahraga polos berwarna senada dengan sang istri yang dipadukan dengan celana training pendek. Dan sneakers berharga fantastis melekat di kedua kaki mereka.


"Honey, aku haus." Karmila duduk di sebuah bangku yang muat untuk dua orang. Melihat istrinya kehausan, Jerry bergegas untuk membeli sebuah air mineral di toko dekat mereka beristirahat.


"Minumlah, apa kaki kamu sakit? Bukankah sedari tadi kamu hanya berjalan ringan, Sayang?" Jerry melihat kaki istrinya yang nampak baik-baik saja, Karmila menggeleng seraya meminta suaminya untuk duduk di sebelahnya kemudian ia bersandar di bahu kokoh itu yang merupakan tempat ternyaman untuknya bersandar.

__ADS_1


"Terimakasih, Honey! Apa nanti kita akan pergi ke rumah Tica dan Tuan Dendy?" Tanya Karmila, beberapa hari yang lalu Tica mengundang dirinya dan Jerry untuk hadir ke mansion mereka di hari weekend. Namun Karmila bergantung pada pria yang ia sandari itu, jika Jerry mengizinkan maka mereka akan datang.


"Tentu, Sayang! Tadi Tuan Dendy menghubungi aku, nanti juga akan ada Tuan Brydan dan Nyonya Nadya." Sahut Jerry, pria itu memainkan anak rambut istrinya yang terkibas angin menutupi wajahnya. Rambut merah adalah rambut yang paling langka, rambut itu akan berkilau di bawah cahaya matahari. Ibu mertuanya lah yang menurunkan gen rambut merah pada istrinya.


"Wah, aku tidak menyangka bisa berkumpul bersama orang-orang berpengaruh di dunia! Bukankah aku merupakan wanita yang beruntung, Honey?"


"Tentu karena kau memiliki aku, dan aku adalah pria paling beruntung karena bisa menyelesaikan misiku!"


"Misi?"


"Ya, apa kamu tahu Sayang, kalau aku membuat misi untuk diriku sendiri yang aku sebut dengan misi Conquer Girlfriend's Heart! Karena saat itu sangat sulit untuk menaklukkan hatimu, jadi aku buat saja misi ini. Dan sekarang misi ini telah sukses, dan misiku tinggal satu lagi!"


"Astaga Honey! Kamu pikir aku ini apa, ishh!! Misi apa itu?"


"Misi membuat perut kamu buncit!"


Sontak Karmila memukul pelan bahu Jerry seraya terkekeh ringan.


Karmila tiba-tiba sjaa termenung membisu, ia tidak lagi menyandar pada bahu suaminya. Wanita yang menguncir rambutnya seperti ekor kuda itu menatap lurus ke depan seakan berpikir sesuatu.


"Ada apa, Sayang? Hey tidak perlu sedih, aku tidak memaksa kamu hamil! Aku hanya ingin berusaha saja, okey?" Jerry yang mengira kata-katanya telah menyakiti hati istrinya, reflek menangkup wajah diamond shape istrinya, seraya menjelaskan maksudnya dan mencium sekilas bibir istrinya.


"Tapi Honey..."


"Kenapa Sayang?"


"Aku..."


"Sayang katakan dengan jelas, jangan membuat aku khawatir!"


"Aku telat haid sudah lebih dari seminggu." Karmila menatap intens netra hijau milik Jerry. Seminggu ini dirinya memang telat Hadi, biasanya haidnya tidak pernah mundur selama ini. Mungkin hanya akan mundur sekitar dua sampai tiga hari dari waktu yang sebenarnya.

__ADS_1


"Benarkah, Sayang?"


"Benar Honey!"


"Ayo jalan, di dekat sini bukankah ada apotek?"


"Iya Honey!"


"Akhh..." Karmila merasakan tubuhnya melayang, benar saja suaminya itu menggendongnya ala bridal style.


"Honey aku masih bisa berjalan!"


"Aku hanya ingin menggendongmu!"


"Kita akan membeli testpack!"


"Baiklah, setidaknya biarkan aku berjalan. Kamu akan lelah, Honey. Lihatlah tubuhku melebar."


"Aku tidak akan lelah, kamu seringan kertas."


"Hahaha..."


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


Vote like and komennya yah.


__ADS_2