Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-53 Kecewa.


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, sepasang suami istri itu masih saja tidak mau bertukar sapa. Hanya diam dan keluar jika hendak makan atau hendak bermain dengan si kembar yang kini telah bisa tidur di kamar mereka sendiri bersama Wila. Tica bahkan tidak lagi menyiapkan baju atau apapun yang berkaitan dengan suaminya sama halnya dengan Dendy yang masih kekeuh tidak mau memberi izin pada istrinya.


Dendy hanya bisa menyentuh istrinya jika wanita itu sudah terlelap dalam tidurnya baru kemudian Dendy akan menyelinap dan memeluk istrinya diam-diam jangan sampai wanitanya itu terbangun dan kembali mengusirnya.


Malam ini, Dendy kembali melakukan hal yang sama dengan wajah yang sudah kusut dan lelah ia berjalan sempoyongan membaringkan dirinya perlahan setelahnya ia memeluk tubuh seksi wanitanya dan mengelus perut Tica lembut ia dapat merasakan kehadiran sang buah hati di dalam sana.


Tak butuh waktu lama, Dendy sudah terlelap dalam tidurnya dengan posisi yang masih sama merengkuh Tica. Mereka saling merengkuh dalam tidur menghangatkan tubuh masing-masing dengan bersentuhan kulit. Sungguh Tica merasa nyaman, tidak dapat diduga bagaimana reaksinya ketika ia tahu yang memeluknya adalah suaminya, lelaki yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Hiks..hiks..." Dendy terganggu mendengar suara tangisan seorang wanita terlebih langit masih gelap dengan kicauan burung malam yang menakutkan. Dendy mengerjap mata melihat siapa yang menangis di tengah malam. Dan benar saja seorang wanita meringkuk di pojok ruangan dengan posisi wajahnya ia tenggelamkan di kedua lututnya.


"Sayang?" Suara serak khas orang bangun tidur, Dendy menghampiri dan merengkuh tubuh wanita itu yang masih saja menepis tangannya. Tica masih marah padanya lihat bagaimana cara wanita itu menepis tangan Dendy sedikit kasar hingga Dendy terpaksa menjauh menghela nafas berat.


"Baiklah!" Dendy sudah lelah untuk terus bertengkar dengan wanita itu, lebih baik ia mengalah ia sudah tidak tahan didiamkan oleh Tica. Dunianya seakan hampa tanpa celotehan manja atau absurd istrinya, bahkan ia sulit untuk tidur setiap malam tanpa merengkuh tubuh wanita itu dan menghirup aroma lavender yang begitu menenangkan dari tubuh wanita itu.


"Beneran Mas?" Tica mendongak penuh binaran bahagia. Dan Dendy mengangguk ragu, biarlah ia yang mengalah daripada dirinya selalu dianggurkan ia hanya khawatir rumah tangganya akan semakin renggang hanya karena ngidam istrinya yang tidak ia turuti. Tica yang begitu merasa senang akhirnya memeluk Dendy dengan erat, begitupun Dendy yang juga senang jika wanitanya itu bisa kembali tersenyum walau hatinya harus sakit.


"Besok aku akan memanggil Recaz kemari, boleh kan Mas?"


"Boleh, Sayang!" Dendy nampak memaksakan tersenyum walau ia harus segera menyiapkan hatinya untuk melihat hal yang akan membuatnya sakit. Tetapi ia harus menahan demi kebahagiaan wanita tercintanya dan juga demi keberlangsungan rumah tangganya.


***


Pagi tiba dengan cepat memberi Sinaran semangat dan kehangatan untuk setiap insan yang bangun dan hendak melaksanakan aktivitas pagi mereka dengan penuh sukacita dan kebahagiaan. Pagi hari memang kerap menjadi momen yang paling banyak digemari oleh orang yang ceria. Karena pagi seakan membawa lembaran baru dalam kehidupan mereka.


"Mas bangun!" Hari-hari berjalan lebih baik, kini Tica tengah duduk di samping suaminya yang masih saja tidak mau terbangun. Pria itu justru semakin terlelap dengan sentuhan tangan Tica di pipinya membuat Dendy sungguh terbuai, ia benar-benar mencintai wanita ceria yang kerap kali ia panggil wanita ceroboh itu.

__ADS_1


"Iya Sayang!"


Setelah beberapa menit menyelesaikan acara mandinya, Dendy segera turun ke bawah untuk menemui sang istri yang telah menunggunya di meja makan. Bersama dengan kedua putra mereka yang juga makan MPASI dengan duduk di kursi khusus untuk batita. Dengan Tica yang menyuapi keduanya sedangkan di meja makan, Recaz tengah duduk dengan santai mengobrol bersama Tica.


"Sayang? Kamu udah makan?"


"Halo Bro! Aku datang kembali!"


"Diam saja, sialan!" Ketus Dendy melengos tanpa menatap Recaz yang terkekeh melihat kecemburuan Dendy yang begitu besar.


Selepas menyuapi putranya, Tica segera memberitahukan niatnya kepada Recaz. Sembari Wila yang dengan segera membawa si kembar untuk bermain di play ground.


"Re, aku meminta kamu kemari untuk memenuhi keinginanku!"


"Bisakah hidung kita bersentuhan? Seperti di adegan drama yang aku tonton?" Sontak Recaz tertawaan terbahak-bahak mendengar permintaan lugu wanita itu, jika hanya menyentuh hidung itu bukan masalah baginya. Toh Tica juga adalah sepupunya, anggap saja itu hanya sebuah kasing sayang keluarga.


Mendapat lampu hijau dari Recaz, Tica segera menyambar hidung mancung milik Recaz dengan hidungnya bersamaan dengan itu Dendy datang membawa segelas susu hamil untuk istrinya yang ia genggam seerat mungkin untuk menahan emosi yang berdongkol di hatinya. Jujur saja, pria mana yang tidak marah jika ada di posisi Dendy? Istrinya dengan jelas berdekatan dengan pria lain.


Pyarr! Gelas itu pecah, susu panas itu seketika mengucur di lantai bercampur dengan darah segar yang juga mengucur dari pergelangan tangan Dendy yang terkena tancapan pecahan gelas itu.


"Mas?" Tica tercengang melihat ekspresi wajah suaminya yang seakan ingin menelannya mentah-mentah dengan darah yang sudah banyak berceceran di lantai bercampur dengan susu putih yang kental itu.


"Mas kamu engga apa-apa?" Tica memegang tangan itu perlahan, Tica menarik Dendy untuk duduk dan meminta pelayan untuk membereskan semua kekacauan itu. Wanita cantik itu dengan telaten mengobati luka yang ada di pergelangan tangan Dendy dengan sesekali meniupnya.


"Apa sakit?"

__ADS_1


"Tidak! Aku pergi dulu, Sayang. Bicaralah bersama dia!" Dendy beranjak dengan tatapan kecewanya. Ia ingin menenangkan diri dan mengontrol emosinya. Sedangkan Recaz yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu sontak segera mengeluarkan suaranya.


"Aku hanya menyayangi Tica sebagai sepupu! Tidak lebih!" Ujarnya yang dengan jelas dapat didengar oleh Dendy namun Dendy mengabaikan dan tetap beranjak pergi.


Tica tertunduk diam, apakah ia sudah keterlaluan? Tapi bagaimana lagi, ini adalah keinginannya yang seakan wajib ia penuhi hingga tanpa sadar dirinya telah menyakiti suaminya sendiri.


"Tic, sudah jangan bersedih! Nanti kamu bisa membujuk suamimu!"


"Hmm terimakasih, Re!"


"Tidak perlu sungkan, aku pergi dulu karena sebentar lagi aku akan ada meeting dengan klien! Ev Eth, Daddy pergi, Buddies!" Ia menghampiri si kembar dan mengecup kedua bayi itu penuh cinta.


"Iyyayaaa..." Seakan tahu maksud Recaz, Evan menyahut dengan riangnya sednagkan Ethan hanya memeluk Recaz sesaat. Bayi tampan itu sangat tidak suka banyak bicara.


.


.


.


.


TBC!


Vote like and komennya yah.

__ADS_1


__ADS_2