
"Dok, bagaimana keadaan suami saya?"
Tica terus-menerus menanyakan pertanyaan yang sama, Dokter pun hanya bisa tersenyum melihat betapa besarnya cinta wanita itu untuk pasien yang tengah terbaring lemah di atas pembaringan rumah sakit. Dengan cekatan dokter memberikan sebuah gambar yang menunjukkan kondisi di dalam tubuh Dendy melalui sebuah alat khusus yang bisa merekam gambar.
"Nyonya, perihal kondisi kami masih belum bisa memastikan. Tetapi operasi telah berjalan dengan lancar dan sesuai proses yang seharusnya. Jadi, untuk melihat hasilnya kita akan tahu setelah dua hari lagi. Jika dalam dua hari pasien masih belum siuman, maka terpaksa kami terpaksa harus menyuplai vitamin dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh melalui infus."
Jelas Dokter panjang dan lebar, Tica hanya manggut-manggut mengerti.
"Jika suami saya tidak siuman dalam dua hari, lalu berapa hari lagi yang dibutuhkan agar ia bisa siuman?"
"Seperti yang tadi saya katakan kami tidak bisa memastikan, Nyonya. Kami pun telah mengusahakan yang terbaik." Lagi-lagi dokter itu berusaha untuk menjelaskan serinci mungkin agar Tica bisa menangkap apa yang ia jelaskan. Ia tidak bisa menjelaskan secara jelas dan lengkap, karean ilmu kedokteran tidak mudah untuk dimengerti.
"Baiklah, terimakasih Dok!" Tica beranjak dari ruangan dokter dengan berjalan gontai. Tidak ada kepastian untuk kondisi suaminya, itu artinya dia harus kembali menunggu untuk melihat senyuman menawan dari pria menyebalkan miliknya itu.
"Nyonya, apa tidak sebaiknya Anda pulang. Sepertinya Tuan Eth dan Ev merindukan Anda, mereka susah untuk ditidurkan." Jerry yang melihat Tica datang dengan raut wajah yang kurang bersahabat mencoba untuk berbicara sebaik dan sesopan mungkin pada ibu dua anak itu.
"Tapi suamiku?"
"Nyonya, saya ada di sini. Saya berjanji akan menemani Tuan dengan baik, Anda juga butuh istirahat. Saran saya, temuilah dulu tuan kecil."
"Baiklah Jer, antarkan aku pulang." Akhirnya setelah sekian purnama membujuk, hari ini Tica menyetujui permintaan Jerry untuk pulang sementara. Dan ia akan kembali besok atau lusa ke rumah sakit.
"Sebentar, aku akan pamit." Ujar Tica masuk ke dalam ruangan Dendy. Ia tilik wajah tampan yang biasanya selalu bersinar itu, menatap dengan aura dingin dan nada suara yang menggertak. Langkah gagah nan tegap, kini tidak ada lagi karena sang empu tengah terbujur tak berdaya di atas pembaringan.
"Hey jelek! Biar saja kalau kau tidak bangun aku panggil jelek! Aku akan pulang, jangan percaya diri aku hanya tidak ingin kau mencariku! Dua hari lagi aku kembali, kau dengar tidak? Lihat saja akan aku balas saat kau sudah bangun! Tuan jelek yang tertidur!" Ujarnya mengatakan tepat di telinga Dendy. Ia tahu sang suami bisa merasakan apa yang ia katakan tetapi pria itu tidak akan bisa merespon.
Cup!
Tica melabuhkan sebuah kecupan nakal di pipi Dendy. Tetapi rupanya ia tidak puas dengan hanya satu kecupan, lagi dan lagi melabuhkan banyak kecupan di semua bagian wajah Dendy.
"Entah apa skincare-nya kenapa dia tidak berjerawat! Kulit ini juga kenyal seperti bayi, dan hidung ini mancung. Matanya biru, bibirnya seperti petasan yang selalu berkata galak! Membuat orang sakit hati, ish! Sudahlah, kenapa aku jadi aneh? I love you, tapi..."
"Tapi boong, wlekkk..." Tica keluar setelahnya.
***
__ADS_1
Jerry mengantarkan Tica menuju ke mansion, di tengah perjalanan empat orang preman jalanan menghadang mobil mereka. Tetapi Jerry merasa heran, karena Tica melarangnya untuk turun tetapi justru wanita itu turun sendiri. Berbicara sesuatu pada empat preman itu dan memulai kuda-kuda.
"Apa Nyonya pesilat? Kenapa dia bisa bertarung? Ah, Nyonya selalu saja membuatku dalam kondisi ini!" Dendy menggusar rambutnya, ia ingin turun dan membasmi para kotoran jalanan itu. Tetapi Tica bahkan telah mengancamnya hingga membuatnya tidak bisa turun.
"Selesai!"
"What? Nyonya mengalahkan mereka berempat sendiri?"
"Jalan Jer! Kuman jalanan memang harus dibasmi!"
"Waw, harus diberi apresiasi. Apa Anda mantan pesilat, Nyonya."
"Ayahku seorang pendekar dan aku bawahannya." Sahut Tica dengan bangganya memperkenalkan sang ayah yang memang merupakan seorang pendekar di perguruan pencak silat yang ia ikuti.
"Pantas saja. Anda sangat memukau, Nyonya."
"Ah, kau berlebihan."
Wanita sempurna! Baik, cantik, jago masak, jago silat, entah kenapa Tuan bisa mengecewakan wanita sebaik dia. Mungkin pada saat itu otak Tuan sedang konslet.
***
Setelah membersihkan dirinya, Tica segera menemui kedua putra tampannya yang begitu ia rindukan karena beberapa hari tidak ditemuinya. Semakin bertambah usia, si kembar semakin cerdas dan cepat tanggap.
"Tidak sia-sia ibu membelikan susu mahal untuk kalian. Ayo sebentar lagi kalian empat bulan, ayo merangkak lagi."
"Mmaahmmahammah...."
Si kembar terus berusaha untuk merangkak perlahan walau masih kaku. Merangkak menuju tempat di mana Tica duduk, di atas karpet berbulu yang harganya tidak main-main.
"Yeayyy sampai! Baiklah hari sudah malam, waktunya tidur. Yuhuuuu...."
Tica menggendong si kembar dan memberikan susu pada dua bayi tampannya. Susu formula yang berwarna putih kental itu sangat disukai oleh kedua bayi tampan Tica. Beberapa menit berselang, Ethan dan Evan telah terpejam, bahkan kedua tangan Tica sudah kram sedari tadi memegang botol susu.
"Aduh, pegalnya..."
__ADS_1
"Wila!!"
"Iya Nyonya?"
"Kamu istirahat aja yah, kamu pasti capek. Besok kamu bantuin saya masak, setelah itu kamu urus anak-anak."
"Siap Nyonya." Wila senang memiliki manikan sebaik Tica yang sangat memerhatikan dirinya walau ia hanya seorang baby sitter untuk si kembar.
"Wila, tolong kamu sampaikan pada kepala pelayan. Saya ingin masakan untuk besok di lebihkan, nanti kita bagikan pada anak-anak yatim dan anak-anak jalanan. Saya ingin mereka mendoakan suami saya supaya bisa cepat siuman."
Wanita baik hati, benar-benar wanita mulia!
"Baiklah Nyonya, kalau begitu saya permisi."
Tica kembali merasa sepi tanpa kehadiran pria itu di sampingnya. Ia menilik foto suaminya di sebuah pigura.
"Semangat sembuhnya, Sayang."
"Apa kau memberi aku sebuah mantra? Kenapa aku sangat merindukanmu! Kau tahu, anak-anak sudah bisa merangkak. Apa kau tidak ingin melihat perkembangan mereka, aku mohon bangunlah, Sayang. Hiks...hiks.. ini tidak semudah yang semua orang pikirkan. Aku...aku tak kuat, hiks...hiks.."
Kata-kata di mimpi itu terus terngiang di pikiran Tica. Dendy memintanya untuk menjaga kedua putra mereka, Tica juga tidak tahu apa maksud dari mimpi itu.
"Aku janji akan menjaga anak-anak sebaik mungkin. Tetapi aku juga membutuhkan seseorang untuk bersandar, Sayang. Aku juga butuh kamu, aku butuh kamu, Sayang. Hiks...hiks..."
"Ibu mencintai kalian, Nak!"
Cup. Cup.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
Vote like and komennya yah.