Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-41 Kecurigaan Tica.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Jerry datang ke mansion Dendy dengan pakaian formalnya sehari-hari. Bahkan Dendy pun sudah terlihat rapih dengan setelan jas formal yang ia kenakan, berpamitan pada sang istri bahwa dirinya hendak melakukan pertemuan dengan salah satu kliennya.


"Sayang, aku berangkat!"


Cup. Ia mengecup dahi Tica dengan dengan penuh cinta dan ketulusan. Juga tidak lepas untuk mengecup bibir istrinya dan kedua putranya.


"Hati-hati Mas, jangan pulang terlalu malam."


"Iya Sayang."


Sangat tidak mungkin, ini masih begitu pagi bahkan biasanya dia susah dibangunkan di pagi hari. Tunggu, memangnya ada klien yang mau bertemu di pagi buta begini? Bukannya ini di luar jam kerja? Ini tidak beres, aku harus menyelidiki!


Tica segera masuk memesan taksi online dan mengambil tasnya. Sekarang tujuannya adalah perusahaan Robson.Drction karena Dendy mengatakan bahwa pertemuannya akan dilakukan di kantor. Tica tidak boleh terkecoh, kenapa ia tidak memikirkan ini sedari tadi. Sangat mencurigakan, terlebih lagi pria itu terlihat begitu aneh belakangan ini seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Wil, aku pergi dulu. Titip anak-anak!"


"Baik, Nyonya!"


Tica baru saja memesan, tetapi taksinya sudah ada di depan mansion dan ia yakin itu taksinya karena plat mobil itu sama dengan plat mobil taksi yang dipesannya melalui online.


"Where are you headed, Madam?" Ujar sopir taksi menanyakan tujuan Tica akan kemana.


"Robson.Drction Company!" Sahut Tica dalam bahasa Inggris. Karena ini bukan di Indonesia jadi harus menggunakan bahasa internasional terlebih lagi USA adalah negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat tujuan yang Tica minta. Tica sebenarnya juga tidak begitu hafal jalanan di ibukota Amerika ini tetapi ia masih melihat maps yang tertera di handphone-nya untuk memastikan bahwa mobil menuju arah yang benar.


"Sesibuk apapun Dendy tidak pernah mengacuhkan panggilanku. Aku akan coba menelfonnya." Tica berulang kali mencoba untuk menelfon Dendy tetapi nihil tidak ada satu panggilan pun yang dijawab oleh Dendy. Semua panggilannya diabaikan, membuat Tica semakin curiga dan perasaannya mulai tidak karuan.


Sudah beberapa menit berlalu tetapi mobil tak kunjung sampai di tempat tujuan, membuat Tica tertarik untuk melihat maps dan benar saja dugaannya mobil ini tidak menuju ke kantor. Tetapi ke arah lain, sedari awal Tica sudah curiga karena pengemudi mobil ini terlihat begitu tertutup dan seperti mengantongi sebuah pistol di saku celananya. Mata Tica begitu jeli, bahkan ia tidak tertipu jika hanya dengan trik remahan..


Grab!


Tica segera mengambil pistol itu dari si pengemudi dan menodong pengemudi itu untuk berhenti. Mobil berhenti di sebuah lahan yang terlihat seperti hutan dengan tidak adanya sebuah bangunan dan hanya ada rumput liar yang tumbuh panjang dan juga tanaman menjalar yang sudah tumbuh tidak beraturan.


Sopir itu sontak terkejut dan mengangkat kedua tangannya. Berusaha mengecoh Tica untuk mengambil kembali pistol yang ada di tangan Tica. Tetapi tidak akan semudah itu, karena Tica juga mengusai tak-tik memegang senjata agar tidak mudah dikecoh lawan.


"Jangan berusaha untuk mengecoh, atau peluru ini akan menembus kepalamu!" Ujar Tica mengancam dalam bahasa Inggris. Sopir itu tercengang.


"Tidak baik wanita memegang pistol!"


"Turun sekarang, atau peluru ini akan benar-benar menembus kepalamu!" Tica menekan pelatuk pistol itu ke dalam hingga timbul bunyi dari benda itu. Perlahan, sopir palsu itu turun dari mobil dan Tica segera mengunci mobil kemudian hendak mengendari mobil itu sendiri.

__ADS_1


"Dasar penjahat bodoh! Ini hanya pistol mainan, pistolnya yang asli aman bersamaku! Untung saja aku bawa replika pistol selalu di tasku, bubuk cabai dan juga pisau palsu. Lumayan untuk keadaan genting." Bukannya membawa make-up atau kebutuhan wanita lainnya, Tica justru membawa alat-alat untuk bertarung. Di dalam tas mewah itu hanya ada beberapa benda di antaranya yang disebutkan oleh Tica barusan.


Brummm!


Mobil berjalan menuju kantor pusat. Di mana masih jauh dari tempat itu. Untung saja Tica tahu bagaimana caranya agar ia tidak terkecoh. Terlebih dirinya adalah mantan pesilat walaupun tidak begitu handak setidaknya dia bisa menguasai sedikit ilmu beladiri.


Sesampainya di kantor, Tica segera bertanya kepada resepsionis apakah Dendy berada di sana atau tidak. Dan sayangnya resepsionis itu menjawab kalau Dendy sedang cuti dan digantikan oleh Alex salah satu orang kepercayaan Brydan juga. Berarti benar Dendy telah membohongi dirinya, lelaki itu memang harus diberikan pelajaran. Tica pulang dengan perasaan kesal yang terus mengganjal di dadanya.


Rupanya pria itu masih belum jera juga. Ia harus lebih tegas lagi dalam menghadapi Dendy, kalau tidak dirinya akan selalu diremehkan.


***


Di tempat lain, Dendy tengah mencari alamat seseorang. Hingga mobil yang ia tumpangi berhenti di sebuah rumah yang jauh dari pemukiman masyarakat. Rumah nuansa kuno yang masih sangat terjaga dan begitu bersahabat dengan alam.


"Apa benar kalau ini rumah keluarganya?" Dendy menilik rumah itu, sepertinya keluarga itu mengasingkan diri dari masyarakat atau mungkin dikucilkan oleh masyarakat.


"Iya Yuan, menurut informasi yang para anggota dapatkan, rumahnya memang ini. Tetapi kenapa aneh? Tidak mungkin rumah seorang dokter begitu sederhana kan?" Sahut Jerry juga merasa aneh dengan rumah itu.


"Baiklah, coba ketuk!"


Jerry mengetuk pintu rumah itu.


Sepasang suami istri yang nampaknya sudah sepuh keluar dari rumah itu dengan sang istri yang membantu suaminya berjalan.


"Siapa Anda?"


"Perkenalkan Saya Jerry dan ini atasan saya, Tuan Dendy."


"Kami tidak mengenal Anda berdua, apa maksud kedatangan Anda kemari?"


"Bisakah kamu masuk?!"


"Tentu! Silahkan!"


Mereka duduk di kursi yang telah disediakan. Dan Jerry mulai membuka pembicaraan dengan sesopan mungkin.


"Apa benar Anda adalah orang tua dari Dokter Karmila?"


Deg!


"Karmila? Putriku?"

__ADS_1


Ya, jadi benar mereka adalah orang tuanya.


"Siapa kalian?"


"Kami hanya ingin bertanya sesuatu mengenai Dokter Karmila!"


"Tidak, aku tidak ingin membicarakan itu lagi. Hiks...hiks..." Wanita tua itu menangis dan meminta kedua pemuda tampan itu untuk keluar dari rumahnya.


"Keluar dari rumahku!"


"Tapi Nyonya, kami mohon ini sangat penting!"


"Aku tidak akan menceritakan pada siapapun!"


Brak! Pintu ditutup dengan keras. Dendy dan Jerry menatap pias, sepertinya akan sulit untuk mendapatkan informasi mengenai dokter itu. Mereka berdua terpaksa harus kembali pulang, tidak ada lagi harapan untuk hari ini. Tetapi mungkin besok kedua orang tua dokter itu akan berubah menjadi lunak.


"Tuan, apa saya kurang sopan?"


"Tidak Jer! Pasti ada kenangan buruk mengenai putri mereka yang membuat mereka tidak mau untuk mengungkitnya kembali. Sepertinya ini akan sedikit sulit! Kita akan datang ke sana setiap hari!"


"Untuk meluluhkan hati mereka?"


"Ya!"


"Oh ayolah Tuan, aku bahkan tidak bisa meluluhkan hati seorang wanita untuk aku kencani!"


"Kau memang jomblo abadi! Tidak usah banyak protes!"


"Terserah Anda!"


.


.


.


.


TBC!


Vote like and komennya yah.

__ADS_1


__ADS_2