
"Tuan! Tunggu Tuan!!"
Tica berlari mengejar seseorang di bandara yang ia kira adalah sang suami. Namun nihil saat pria itu menoleh, Tica langsung dilanda kekecewaan. Pria itu bukanlah suaminya, melainkan orang lain yang tidak ia ketahui.
"Who are you?" Ujar pria itu. Pria bule dengan wajah tampan yang tidak sengaja Tica panggil tadi. Karena dirinya mengira pria itu sebagai Dendy. Postur dan bentuk tubuh serta style rambutnya sama persis seperti Dendy. Terlebih lagi, pria itu mengenakan setelan jas formal dan rapih jadi terlihat sekilas seperti Dendy dari belakang.
"Sorry Sir, i got wrong people. I thought you were my husband."
"Oh no problem, bolehkah saya tahu nama Anda, Nona?"
Tica menganga tak percaya, bule yang baru saja ia temui itu ternyata bisa berbahasa bahasa Indonesia dengan baik. Sontak Tica senang bukan main, karena ia tak begitu bisa berbahasa Inggris.
"Loh, Anda?"
"Iya saya bisa bicara bahasa, karena sudah dua tahun di Indonesia. Bagaimana kalau kita mengobrol sembari duduk di sana?"
Ujar bule itu menunjuk sebuah restoran yang ada di bandara. Tica melihat arloji di pergelangan tangannya. Seketika wajah wanita itu berubah pias, sepuluh menit telah berlalu. Artinya pesawat yang dinaiki Dendy telah take off beberapa menit yang lalu.
"Baiklah!"
Sahutnya lemas tiba-tiba. Pria bule itu duduk dan memesan minuman untuk dirinya dan juga Tica.
"Duduklah Nona!"
"Terimakasih, Mr Bule."
Sahutnya seraya duduk di kursi seberang dengan satu meja bersama pria bule itu. Pikirannya masih kalut memikirkan Dendy, pria itu benar-benar membuatnya tak karuan.
"Boleh saya tahu nama Anda, Nona?"
Ujar si bule, sembari menyeruput minumannya. Tetapi lawan bicaranya justru melamun.
"Ehm, Nona?"
"Ah maaf, apa yang Anda tanyakan?"
"Apa Anda memikirkan sesuatu?"
__ADS_1
"T..tidak!"
"Baiklah. Kalau saya boleh tahu, siapa nama Anda?"
"Nama saya, Tica! Kalau Anda?"
"Nama saya, Recaz Hemezz!"
Cukup lama keduanya mengobrol hingga bisa sedikit mengalihkan pikiran Tica dari Dendy. Bahkan pria itu juga menawarkan sebuah pekerjaan pada Tica dan juga memberikan kartu namanya pada Tica. Ia bermaksud untuk mengenal Tica lebih jauh.
Tica kembali ke apartemen dengan perasaan campur aduk. Sedih, kecewa dan lelah bercampur menjadi satu. Wanita itu membaringkan tubuhnya telentang di ranjang, mengheningkan cipta.
***
Drtt... Drtt...
Suara getaran handphone membangunkan putri tidur yang tertidur dengan lelapnya di atas ranjang. Melamun beberapa menit membuat matanya asam dan merapat enggan terbuka.
"Hallo? Siapa ini?"
"Ada apa? Aku masih belum butuh pekerjaan!"
Inilah yang Recaz suka dai Tica, sejak pertama kali bertemu. Recaz paham bahwa wanita itu anti jaim dan bisa dikatakan bar-bar dalam bahasa jaman sekarang. Ia tersenyum geli di seberang sana. Padahal niatnya menelfon Tica, hanya untuk menanyakan kabar wanita itu.
("Apa kabar?")
"Oh ayolah, kita baru saja bertemu. Belum juga sehari pisah!"
Ujar Tica menjawab jengah pertanyaan tak berbobot pria itu.
("Baiklah, aku hanya iseng saja.")
Tutt.
Tica mematikan sambungan telepon pria yang mungkin tidak memiliki pekerjaan itu. Ia mencoba untuk menelfon Dendy, tetapi wanita itu ingat satu hal.
"Ya Tuhan! Aku tidak punya nomornya! Tica kenapa kau bodoh sekali, bagaimana kalau begini? Ah minta Nadya saja, dia pasti punya!"
__ADS_1
"Hallo Nad?"
("Ada apa?")
"Aku boleh minta nomornya Sekertaris Dendy?"
("What? Kau kan istrinya, kenapa meminta padaku?")
"Aku tak punya nomornya, lagian tak penting juga!"
("Dasar istri Sableng! Dia kan sudah ada di Amerika beberapa jam ke depan. Nomor telfonnya pasti akan berganti, nanti aku minta suamiku saja. Aku akan kirim nomor barunya.")
"Ah baiklah, aku tunggu yah! Jangan lupa."
("Iya, suami istri kok sama-sama sableng!")
"Makasih, bye!"
Tica bodoamat seakan tak mempedulikan soal olokan Nadya. Toh ia memang ceroboh, Nadya bahkan sering mengatainya sableng hanya karena ia lupa mengunci rumah setiap keluar bersama teman-temannya. Atau bahkan ia lupa menutup resleting celananya.
Tutt.
"Bawaan orok memang ceroboh mau diapakan lagi? Terima apa adanya lah, udah syukur masih punya muka bening sekaligus Good looking!"
Gumam Tica dengan percaya dirinya mengatakan hal tersebut sembari memperhatikan kecantikan wajahnya di depan sebuah cermin rias.
.
.
.
.
TBC!
Vote like and komennya yah.
__ADS_1