
Dua hari telah berlalu, pagi hari ini langit nampak cerah diiringi dengan sinar yang dipancarkan oleh sang Surya untuk semua mahkluk bumi. Hari ini, Dendy sudah diperbolehkan untuk pulang dan Jerry pun telah menjemput sepasang pasutri yang saling diam itu. Tica sibuk dengan terus memandangi Dendy, sedangkan Dendy sibuk memikirkan sesuatu yang entah apa yang ia pikirkan.
"Jer, menurut kamu, gimana cara mengembalikan ingatan orang yang amnesia? Apa dengan memukulnya dengan panci anti lengket, bisa mengembalikan ingatannya?" Tanya Tica, tanpa maksud ia bertanya demikian kepada Jerry yang sontak di jawab gelengen kepala oleh Jerry. Tentu saja Jerry tidak tahu, dirinya saja tidak begitu suka dengan ilmu science.
"Apa perlu aku bawa dia ke samudera Pasifik kemudian memberikannya untuk hiu-hiu lapar di samudera sana?" Ucapan Tica mengangetkan Dendy, hingga pria tampan itu melotot tak percaya mendengar perkataan wanita itu yang seperti seorang psycho.
Nyonya, Anda menempatkan aku dalam masalah. Jika aku tidak menjawab, Nyonya akan marah tetapi jika aku menjawab Tuan pasti akan menelan tubuhku mentah-mentah tanpa dikunyah. Kenapa sangat sulit ada di posisiku, tenggelamkan saja aku, Nyonya! Tuan!
Mansion Dendy.
Setelah melakukan perjalanan beberapa menit, mobil telah berada di garasi mansion Dendy dan kini ketiganya masuk ke dalam mansion. Dengan memasang tatapan anehnya, Dendy terus berjalan masuk ke dalam mansion mengikuti dua orang pemandu, yakni Tica dan Jerry. Sesekali Dendy akan bertanya mengenai suatu hal, atau bahkan hanya diam saja tanpa menjawab penjelasan Tica dan Jerry.
"Kamar itu, ya putra kita ada di dalam kamar itu! Ayo masuk, aku akan buktikan padamu kalah aku bukanlah pembual seperti yang kau katakan." Tica segera menarik lengan Dendy menuju sebuah kamar di lantai bawah yang ditempati oleh si kembar dan Wila. Perlahan pintu kamar berukuran 10 × 10 meter itu terbuka, hingga nampak lah sebuah kamar yang luas dengan fasilitas memadai bahkan mewah di dalamnya.
"Eth, Ev, Ibu datang, Sayang. Kalian dimana? Wila?" Teriaknya, tetapi nihil tidak ada siapapun di dalam kamar itu. Kamar kosong melompong yang hanya terdengar bunyi hembusan AC dan juga hembusan dari luar jendela yang masih terbuka. Tica mencoba menilik dari jendela, siapa tahu Wila mengajak si kembar keluar ke taman yang ada di mansion. Tetapi nihil, taman juga tidak ada orang. Dan herannya pelayan pun juga tidak ada, tetapi Tica sama sekali tidak menyadari hal itu.
"Mana? Kita sudah menelusuri seluruh ruangan. Dan hanya kamar ini yang tersisa, tetapi putra yang kau ada-adakan itu pun tidak ada di ruangan ini! Itu artinya kau hanya membual, kau itu memang wanita aneh yang mengaku-ngaku menjadi istriku! Lebih baik pergi dari––"
"Cukup!"
"Pembual marah? Tidak mungkinkan wanita aneh bisa marah? Mana buktinya? Kau tidak punyakan, itu artinya kau memang pembual sejati!" Ujar Dendy lagi dan lagi hingga hati Tica begitu remuk merasakan bagaimana dihina oleh suaminya sendiri. Orang yang telah ia perjuangkan bahkan ia terpuruk hanya karena pria itu jatuh sakit tetapi lagi dan lagi pria itu menghinanya. Entah amnesia atau tidak, Dendy memang selalu menyebalkan.
"Cukup! Aku memang tidak memiliki bukti lain. Terlebih lagi sekarang handphone aku sudah ganti. Dan aku tidak menyimpan foto pernikahan kita, ya aku hanya pembual. Puas? Kau puas? Sekarang yang aku pedulikan bukan kau, tetapi putraku! Kau memang tidak pernah berubah, entah amnesia atau tidak, kau selalu saja menyebalkan." Tica berlari keluar dari mansion untuk mencari sang putra.
Tetapi saat dirinya berada tepat di pintu utama, pintu itu justru tidak bisa dibuka. Seakan ada orang mengunci pintu dari luar tetapi Tica ingat benar ia sama sekali tidak mengunci pintu utama. Biasanya pintu itu memang tidak pernah terkunci, tetapi kenapa hari ini bisa terkunci.
Brak! Brak!
Entah berapa kali Tica mencoba untuk membuka tetapi tidak ada hasil yang ia dapat. Pintu itu masih lekat tidak mau memisah.
__ADS_1
"Jerry! Ya Jerry pasti tahu kuncinya. Lagian ini pintu kenapa sih, engga biasanya eror apalagi kekunci sendiri. Masa iya rumah sebagus ini ada hantunya, kan engga mungkin? Ini juga pintu mahal, masa iya bisa eror? Aku bingung dengan barang-barang orang kaya ini!" Omelnya kesal pintu besar mansion menguras tenaganya sampai telapak tangannya terasa nyeri dan memerah saat memukul pintu tadi.
"Jer, Jerry! Dendyy! Dimana kalian?"
Dup.
Mansion tiba-tiba saja gelap gulita tanpa secercah cahaya pun yang menelusup masuk. Sontak wanita yang tengah kebingungan itu semakin bertambah ketakutan, walaupun ia tidak phobia kegelapan tetapi siapa yang tidak takut berada di kegelapan. Semua orang pasti takut, terlebih lagi dia seorang wanita.
"Kenapa lampunya mati sih! Siapapun tolong, aku takut! Jerry! Denddy..." Teriak Tica terus dan semakin kencang. Walau ia sudah menambah volume suaranya, namun tidak ada sahutan seakan mansion itu rumah tak berpenghuni. Yang kosong melompong dan hanya dirinya salah satu makhluk hidup yang masuk ke dalamnya.
"Aku mohon, hiks...hiks... Aku takut, hiks...hiks..."
Tica duduk meringkuk di lantai, wanita itu takut akan keadaan gelap gulita ini. Ia bahkan tidak bisa melihat apapun dengan jelas, semuanya nampak hitam dan kelabu. Membuatnya semakin takut ia akan menabrak atau merusak barang. Akhirnya Tica memilih untuk duduk meringkuk menunggu seseorang datang menyelamatkan dirinya.
Dorr!
Segerombol manusia datang dari berbagai arah dengan lampu yang tiba-tiba menyala dan petasan kertas itu dinyalakan hingga banyak kertas warna-warni yang bertaburan dari atas. Dan kerumunan manusia itu membelah menjadi dua kubu hingga nampak seorang pria tampan memakai tuxedo putih dengan kue cantik yang ia bawa. Pria itu dengan senyum secerah embun pagi berjalan di antara dua kubu.
"Happy birthday, Sayang." Ujarnya. Wila dengan si kembar yang menyaksikan Dendy memperlakukan Tica dengan romantis, hanya bisa bertepuk tangan bahagia.
Tica masih diam, ia sama sekali tidak dapat mencerna semua yang terjadi secara mendadak ini. Ia sungguh terkejut, dan tidak pernah menyangka ternyata semua ini adalah kejutan. Matanya mengembun dan bibirnya tersenyum membentuk sebuah lengkungan indah yang mempercantik wajahnya.
"Katakan ini bukan mimpi! Katakan, Dendy!"
"Ini bukan mimpi, Sayangku!"
Cup!
"Cieeee!!!!" Semua orang bersorak melihat sepasang pasutri yang tengah dimabuk asmara itu berciuman mesra saling memagut keindahan bibir masing-masing mengeksplor kelembutan dari benda kenyal itu seraya Wila yang menutupi mata si kembar agar tidak terkontaminasi adegan tak layak tonton ini.
__ADS_1
Setelah make a wish, Tica meniup lilinnya dan memberikan suapan pada suaminya.
"Selamat ulang tahun cintaku, semoga semua yang kamu inginkan akan segera kamu dapatkan. Maaf aku harus membuatmu kesal terlebih dahulu agar aku bisa menjalankan rencana ini. Ingatlah bahwa aku tidak pernah melupakan dirimu, Sayang. Because I love you, its Unity Of Love. We will go through it all together."
"Yes Daddy's Baby!"
"Malam ini, akan indah Sayang!"
"Mesum kamu mah! Sana ih, aku kesal sama kamu! Pura-pura amnesia segala lagi. Ish! Nyebelin tahu engga?!"
"Hahaha...."
Semua orang yang menyaksikan drama gratis itu sontak tertawa melihat Tica merajuk seperti anak kecil yang meminta mainan kepada ayahnya.
Jika saat ini mereka bahagia, belum tentu nanti masih tetap sama. Jika saat ini tidak ada masalah, belum tentu nanti masih aman. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetaplah berharap yang terbaik dan terus berperilaku positif.
.
.
.
.
TBC!
Vote like and komennya yah.
Jangan sungkan untuk komen ya, silahkan aja sampaikan isi hati kalian saat membaca tulisan Cyndii yang masih berantakan ini.
__ADS_1