Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-85


__ADS_3

"Sayang, apa sudah?" Tanya Jerry sekali lagi, sedari tadi jantungnya berdetak tak karuan menanti istrinya yang masih berada di dalam kamar mandi mengecek menggunakan testpack kehamilan. Jerry berharap ini akan menjadi kabar baik untuknya, ia sudah tidak sabar menjadi seorang ayah setelah melihat betapa bahagianya menjadi seorang ayah. Ia berkaca dari kehidupan atasannya, Dendy.


Setiap akan berangkat dan pulang bekerja Dendy selalu saja disambut oleh istri dan anak-anaknya membuat hati Jerry terketuk untuk merasakan bagaimana berada di posisi yang sama seperti Dendy. Bahkan pria itu juga banyak mempelajari susah dan senang menjadi seorang ayah, senang ketiks kita melihat senyuman dari bibir mungilnya yang seolah menyiratkan sebuah kebahagiaan teramat dalam. Dan susahnya yaitu ketika kita harus bertanggung jawab untuk selalu menjaganya dan memenuhi semua kebutuhannya serta harus siap dengan segala konsekuensi, yaitu kurang tidur.


Ya Tuhan, semoga istriku hamil. Aku sangat berharap untuk ini, kehadiran seorang anak dalam rumah tangga kami pasti akan semakin memperkuat hubungan kami, terlebih sekarang istriku mudah emosi dan marah. Batin Jerry, pria yang masih lengkao dengan setelan olahraganya itu mondar-mandir di depan pintu kamar mandi. Sudah beberapa menit berlalu, namun istrinya masih belum keluar juga hingga Jerry merasa sangat penasaran.


Ceklek.


Pintu terbuka, Karmila keluar dari pintu dan kembali menutup pintu seraya menyembunyikan hasil tes itu di belakang punggungnya. Raut wajah wanita itu menunduk pias, begitu menandakan kesedihan yang teramat dalam, Jerry yang melihatnya pun dapat mengerti apa hasil yang istrinya dapatkan. Pria itu menghela nafas perlahan, ia merengkuh Karmila seraya menguatkan wanita itu.


"Maaf Honey!" Lirih Karmila di ceruk leher suaminya, ia masih menyembunyikan hasilnya. Mungkin dirinya tidak mau lelaki itu kecewa jika sampai melihat hasil yang baru saja mereka dapatkan.


"Sttt! Sudah tidak apa-apa, kita masih bisa berusaha lagi, hmm?" Jerry mengusap punggung Karmila, berusaha untuk menguatkan istrinya. Apapun hasil yang didapatkan, tidak ada kata menyerah untuk itu, karena kesuksesan selalu diawali oleh kegagalan. Itu adalah hal normal bagi Jerry, walau jujur di hati kecilnya tersirat secuil kekecewaan.


"Maaf Honey, aku..." Karmila kembali mengucapkan hal yang sama, demi menghibur istri tercintanya Jerry menyela ucapan istrinya seraya menuntun wanita itu untuk duduk di ranjang dan mengusap air mata yang mengalir di wajah cantik wanitanya. Jerry tersenyum lembut kemudian mengecup penuh cinta dahi istrinya, Karmila merasa puas seakan ia dihujani oleh ribuan cinta.


Aku bangga padamu, Honey. Walau aku belum menyampaikan hasilnya dan aku yakin kamu pasti mengira hasilnya negatif kan? Walau begitu kamu tetap memberikan hal positif dan sepenuhnya mendukung aku, i love you, Honey. Gumam Karmila dalam hatinya, ia begitu bahagia dengan mengucapkan beribu syukur pada Tuhan karena telah menakdirkan pria itu menjadi jodohnya.


"Honey, aku belum selesai bicara." Kesalnya, memanyunkan bibirnya lima senti ke depan. Jerry yang merasa gemas sontak mencium gemas bibir yang telah diolesi lipgloss itu. Karmila menarik nafas seraya mempersiapkan diri untuk berbicara hal ini pada suaminya yang juga terdiam menunggu istrinya berbicara, walau dalam dugaannya istirnya akan berbicara hal yang mengecewakan.


"Maksudku, Maaf karena aku membuat kamu menunggu lama, tadi aku masih poop, Honey. Dan untuk hasilnya... You're going to be a Dad!"

__ADS_1


Jerry melotot tak percaya, bibir yang tadinya mengatup itu kini terangkat membentuk sebuah senyuman indah seraya langsung memeluk tubuh istrinya ke dekapan dadanya. Ia memeluk istrinya begitu erat, menyampaikan banyak rasa syukur pada Tuhan atas karunia yang telah diberikan untuk mereka. Pria itu masih speechless dan belum mengucapkan apapun pada sang istri, menilik hasil tes yang diberikan istrinya. Menampilkan sebuah garis dua di dalam sana, walau ia tidak tahu apa artinya, tetapi ia begitu bahagia sekarang.


"Sayang, terimakasih. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi, aku mohon tetaplah bersamaku hingga nafas terakhirku." Kata Jerry seakan tidak memiliki kata lagi untuk mengucapkan terimakasih kepada wanita yang dicintainya itu. Ia menggenggam tangan istrinya dan mencium tangan seputih melati itu yang begitu harum memabukkan.


"Sebagai ucapan rasa syukur kita, aku akan meminta bawahanku untuk membagikan buket bunga pada setiap wanita hamil di kantor." Karmila mengangguk masih tetap tersenyum melihat kebahagiaan yang dirasakan suaminya, ia begitu bahagia dengan kehadiran malaikat kecil di rahimnya.


"Mulai minggu besok, kita akan pindah ke mansion yang telah aku bangun. Dan kita juga akan mengajak Mommy dan Daddy, jika mereka mau." Mansion yang Jerry bangun memang sudah hampir selesai hanya tinggal tahapan penataan furniture di dalamnya yang tidak akan memakan waktu lama.


"Aku ikut saja, Honey. Apapun itu aku yakin kamu sudah memikirkannya dengan matang. Aku rasa Daddy dan Mommy tidak akan mau keluar dari rumah itu, karena di sana banyak kenangan masa lalu." Sahut Karmila, beranjak menyiapkan pakaian mereka untuk nanti sore bertamu ke mansion Dendy.


"Sayang, mulai hari ini kamu jangan terlalu lelah. Istirahat yang banyak, nanti baby juga ikut lelah. Jangan sering marah-marah, jangan ngambek terus, nanti baby juga galak kaya Mimam-nya. Kalau mau apa-apa itu bilang, bukan nyuruh aku nebak, aku bukan paranormal, Sayang. Nanti ujung-ujungnya juga aku yang salah."


"Ingat pasal satu! Perempuan selalu benar! Pasal dua, kalau laki-laki benar, maka perempuan lebih benar. Pasal tiga, kalau perempuan salah, maka laki-laki lebih salah. Hahaha...." Karmila tertawa terbahak-bahak di akhir ucapannya saat ia melihat raut wajah suaminya yang seperti oranb frustasi. Ingin marah tapi tidak bisa, ingin ngambek tapi Jerry tahu istrinya pasti akan lebih ngambek.


"Aku bercanda, Honey. Wanita memang seperti itu, mereka mau para prianya mengerti apa yang tengah mereka rasakan tanpa menanyakan. Kamu harus paham, kalau aku sedang marah maka tunggu sebentar saja sampai kemarahanku sedikit menurun baru kamu bisa membujukku. Kalau aku diam, itu artinya aku butuh perhatian kamu, Honey?!"


"Ah baiklah, Sayang. Aku akan belajar rumus wanita. Aku rasa akan lebih sulit dari rumus matematika."


"Tidak sulit, Honey. Kamu hanya perlu memahami perasaannya saja. Dan situasinya juga harus kamu pahami, baru kamu bisa bertindak setelahnya."


Karmila memeluk Jerry dari belakang, menyandarkan kepalanya ke punggung suaminya.

__ADS_1


"Tetapi serumit apapun wanita, dia tetap akan menemanimu hingga akhir. Memberikan kamu semua kebahagiaan yang ia dapat, melayani kamu dengan semampu yang ia bisa serta menjadi sandaran ketika kamu dalam semua kegundahan."


"Benar sekali, Sayang. Cause you're the everything."


"You're not the everything, but everything in my life always need you there, Honey."


"I love you, Sayang."


"I love you more, Honey."


.


.


.


.


TBC!


Vote like and komennya yah.

__ADS_1


__ADS_2