Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-54 Menggoda Dendy.


__ADS_3

Setelah kejadian ngidamnya sang istri, Dendy masih saja diam walau beberapa hari telah berlalu seakan tidak ada niatan sama sekali untuk sekedar bertukar senyum dengan istrinya. Ia hanya akan mengingatkan Tica perihal yang berkaitan dengan kandungan wanita itu, seperti memakan makanan sehat dan juga meminum susu hamil seperti biasa. Tetapi dengan nada datar yang sama sekali tidak membuat Tica bahagia mendengarnya.


Seperti pagi ini, Dendy libur ke kantor karena memang akhir pekan, bukannya menemani istrinya di kamar bersama si kembar, pria itu justru membaca buku majalah di halaman rumah dengan wajah yang serius seperti tidak mau diganggu. Tica yang baru saja selesai menyuapi kedua putranya, berniat hendak memperbaiki hubungan dirinya dengan sang suami yang beberapa hari ini sudah renggang. Siapa yang tahan didiamkan oleh orang yang mereka cintai? Tidak ada.


Tica melangkah, mendekat ke arah kursi taman bercat putih itu dengan tangan yang ia lingkarkan mata suaminya seakan meminta Dendy untuk menebak siapa yang tengah menutup matanya. Bukannya menebak, Dendy justru menyingkirkan tangan Tica perlahan hingga wanita itu menunduk sedih.


"Mas, aku minta maaf ya... Hiks..hiks.. Itu bukan kemauanku..hiks..hiks.. Baby yang mau... Hiks...hiks.." Tica terus saja menangis membuat Dendy merasa iba, akhirnya pria itu meminta Tica untuk duduk di sebelahnya. Ia merengkuh wanita itu ke dalam dada kekarnya, sudah beberapa hari tidak menghirup aroma lavender itu, kini hatinya berdesir tenang seakan aroma wanita itu adalah aromaterapi baginya.


"Maaf..hiks...hiks... Ak...aku janji engga begitu lagi...hiks...hiks .." Dendy menempatkan jari telunjuknya tepat di bibir Tica hingga bibir cantik peach itu menutup walau dengan sedikit sesegukan masih tersisa. Dendy masih menatap datar seperti biasanya tanpa ada tatapan penuh cinta yang biasanya Tica lihat dari aura pria itu jika menatap dirinya.


"Aku sudah memaafkan kamu!"


Deg.


Suara dingin itu masih menyeruak nyata di telinga Tica membuat bulu kuduknya meremang mendengar suara seksi nan dingin itu. Aura kekelaman itu masih terpancar, Tica bisa melihat jelas dari tatapan mata Dendy yang belum juga bersinar. Entah bagaimana caranya agar sang suami bisa memaafkan dirinya, apa ia harus melakukan sesuatu? Atau mungkin bertanya-tanya sesuatu pada orang yang berpengalaman?


"Aku masuk, Sayang!"


"Eh iya Mas.." Tica terdiam terpaku, melihat suaminya meninggalkannya seorang diri di taman tidak seperti biasanya pria itu bersikap demikian. Biasanya, suaminya akan selalu menemani dirinya kemanapun ia pergi dan kapanpun itu jika pria itu tengah cuti bekerja.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus bertanya pada ibu? Ah tidak! Ibu pasti akan kepikiran, lalu aku harus apa? Ah, Nadya! Ya, Nadya pasti tahu!" Akhirnya Tica menelfon Nadya untuk meminta petunjuk bagaimana agar suami tidak merajuk lagi pada mereka.


"Hallo Nad!"


(...)

__ADS_1


"Suamiku marah padaku beberapa hari ini hanya karena kejadian ngidam yang aku ceritakan pada kamu beberapa hari yang lalu. Bagaimana ini? Aku tidak mau didiamkan terus, aku ini bukan patung loh! Ayolah Nad, Carikan jalan keluar untuk masalah yang aku hadapi ini." Ujarnya memelas seakan ia adalah wanita yang bernasib paling malang.


(...)


"What?"


(...)


"Baiklah! Aku akan melakukannya, bagaimana jika dia menolak?"


(...)


"Dia tidak akan menolak?"


(...)


Nadya mematikan sambungan telepon karena putrinya terbangun akibat suara melengking Tica yang mengangetkan. Tica hanya diam memikirkan nasehat yang baru saja diberikan oleh Nadya, apa ia harus melakukan hal itu? Tetapi ini terlalu menjijikan menurutnya, apalagi jika suaminya menolak, ia akan terlihat seperti wanita nakal. Tetapi demi keberlangsungan rumah tangganya ia akan mencoba untuk melakukan saran yang diberikan Nadya.


Tica masuk ke dalam mansion, Dendy tengah bermain bersama si kembar. Ia pikir ini kesempatan yang bagus untuk segera melakukan rencananya. Wanita itu mengendap masuk ke dalam kamar dan segera melakukan apa yang ingin ia lakukan.


Setelah beberapa jam, sore hari telah tiba matahari mulai terbenam di ufuk barat seakan tenggelam dalam garis cakrawala dunia. Tica pun segera membersihkan dirinya setelah semua yang ia siapkan telah siap dan ia tengah menyiapkan mentalnya agar berani untuk melakukan ini pada suami galaknya itu.


"Mas?" Ujar Tica yang baru saja menyelesaikan semua kegiatannya segera menyusul suaminya di dalam ruang kerja. Seraya menarik lengan suaminya untuk ikut ke dalam kamarnya. Seketika Dendy terkesiap, kamar itu telah didekorasi sedemikian rupa menjadi ruangan yang harum dan benar-benar meninggalkan kesan romantis begitu mendalam.


"Duduk Sayang!" Dendy masih diam, mengikuti ucapan wanitanya itu untuk di sebuah sofa di kamar mereka. Tanpa aba-aba Tica meraba dada bidang itu hingga Dendy tersenyum penuh misteri menyadari apa yang dilakukan wanita itu padanya.

__ADS_1


Kamu mulai nakal, Sayang! Ayo terus lakukan, akan aku lihat seberapa berani kamu menggodaku!


Tica terus menggoda Dendy, membuka kemancing kaos yang digunakan Dendy kemudian naik ke atas pangkuan Dendy setelahnya wanita itu segera menyambar bibir seksi milik suaminya. Dengan penuh gairah ia ******* bibir itu, mengecap dan merasakan manisnya benda kenyal itu. Dendy masih saja diam tanpa memberikan respon apapun membuat Tica sedikit ragu untuk meneruskan rencananya. Tetapi ia terlampau jauh mengenai air dan ia harus berenang untuk segera menyelesaikan.


"Akhmm!" Dendy meremang halus, wanita itu begitu tahu titik sensitif tubuhnya. Tica meraba tengkuk Dendy dengan begjtu sensual, begitu mendengar remangan halus itu, dirinya semakin bersemangat. Ia yakin rencananya pasti akan berhasil beberapa menit lagi. Tica semakin gencar menciumi tengkuk Dendy, hingga Dendy tidak lagi dapat menahan godaan wanitanya itu. Ia segera membalik tubuh mereka dan menyosor istrinya.


Pergerumulan panas itu tidak dapat dihindarkan walau hari masih belum terlalu malam untuk itu, tetapi kedua insan itu seakan tengah digoda oleh gairah yang membuat mereka tidak bisa menolak sentuhan satu sama lain. Pergerumulan di dalam selimut itu terus berlanjut hingga hari naik semakin malam, bahkan mereka telah melupakan makan malam mereka dan bermain dalam selimut tebal itu.


"Akhss Sayangg!"


"Akhmm... Ka..muu ... Maafkan...aakk..ku kan?"


"Iya...ashh...Sahh...yang!!" Mereka terus meremang menikmati sentuhan satu sama lain. Tubuh yang indah dengan kemolekan yang tidak bisa dibantah lagi. Pikir Dendy kala melihat tubuh istrinya terus menari di atasnya.


Akhh sayang! Kamu sungguh nikmat, aku mencintaimu! Selamanya dan tidak akan pernah berubah! Batin Dendy menjerit dengan senyum kecil mengingat bagaimana wanita itu dengan berani menggodanya. Biasanya, dirinya duluan yang akan meminta untuk hal ini, bahkan Tica sama sekali tidak pernah bertingkah senekat ini. Ia sungguh tidak tahu darimana wanita itu belajar.


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


Vote like and komennya yah.


__ADS_2