
"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?"
"Seperti biasa, kondisi fisik Dokter Karmila itu sangat-sangat sehat, Tuan. Tetapi trauma ini yang membuat mentalnya tidak stabil, saya sudah memberikan obat penenang tetapi beliau bilang tidak mau ketergantungan pada obat dan lebih memilih untuk membiarkan saja trauma ini perlahan menggerogoti mentalnya."
"Apa? Katakan bagaimana caranya agar istriku lepas dari trauma ini!"
"Ada banyak cara, Tuan! Tetapi semua itu bukanlah cara yang mudah, terlebih jika diri Dokter Karmila sendiri tidak mau menghadapi rasa takut itu dan lebih memilih untuk berlari dari rasa takut itu. Karena semakin beliau berlari, maka rasa takut yang mengejarnya itu akan semakin membesar. Saya hanya menyarankan, sebaiknya Dokter Karmila melakukan terapu rutin dengan psikolog atau psikiater."
"Lalu apa lagi?"
"Beliau hanya butuh dukungan dan ketenangan dari orang-orang terdekatnya, Tuan. Jika beliau bisa membangun benteng keberanian dalam dirinya, maka presentasenya untuk sembuh akan meningkat."
"Baiklah, aku akan mengatur semuanya! Terimakasih Dokter!"
"Tentu, Tuan!" Dokter itu melangkah keluar setelah menjelas kondisi Karmila yang sebenarnya pada Jerry, ia pikir Jerry adalah orang tepat untuk berada di sisi Karmila dengan kondisi Karmila yang sangat membutuhkan perhatian dan dukungan dari orang-orang sekitarnya. Terlebih lagi dirinya merasakan trauma saat dimana ia disekap dalam waktu yang begitu lama, dan juga dilecehkan oleh mereka.
Netra abu itu perlahan terbuka menilik atap kamar yang putih bersih, raga wanita itu terbangun menegang dengan posisi menyilangkan tangannya di dada seraya melindungi dirinya saat melihat Jerry masuk ke dalam kamar dengan membawa senampan makanan beserta minuman.
"Pergi! Hiks..hikss... Kalian jahat, pergi! Tuhan tolong aku...hiks...aku takut... Pergi aku bilang!" Karmila melempar apapun yang ada di sebelahnya ke arah Jerry seakan Jerry adalah pria jahat yang hendak membunuhnya. Jerry menatap iba pada sang istri, ia melangkah merengkuh wanita itu yang memberontak dengan segenap tenaga yang ia miliki mencoba lepas dari rengkuhan erat Jerry.
"Aku di sini bersama kamu, Sayang. Aku suamimu, aku bukan orang jahat seperti mereka!" Perlahan Karmila mulai lelah memberontak, ia menurut mulai membuka tangannya untuk merengkuh Jerry dan bersembunyi di bawah ketiak pria itu, seakan dirinya tengah bersembunyi dari segala hal yang membuatnya takut.
__ADS_1
"Aku di sini, Sayang! Jangan takut, mereka tidak akan mengganggu kamu lagi, hmm? Ada aku di sini, akan aku hajar siapapun yang berani mengganggu istri cantikku ini!"
"Aku takutt..hiks...hiks... Jauhkan mereka dariku, aku tidak mau melihat mereka! Hiks...hiks..." Karmila menangis tersedu-sedu, mengadu pada Jerry dengan tangan yang berpegangan erat pada kaus yang dipakai Jerry.
"Tatap aku!" Jerry mengurai pelukan mereka, menatap Karmila dengan serius dan begitu dalam menyiratkan sebuah ketenangan di dalam netra hijau itu yang menatap penuh teduh dan begitu lembut.
"Hiks...ehmm..."
"Sayang, aku tahu kamu sama sekali tidak mencintai aku! Tetapi aku mencintaimu dengan segenap hatiku. Aku bukan orang yan pandai berbicara romantis, jadi maaf jika kata-kata aku menyinggung kamu. Bisakah kita saling terbuka, Sayang? Ceritakan semua ketakutan kamu padaku, agar aku bisa membantu kamu untuk menyingkirkan ketakutan itu. Hmm? Terbukalah agar aku tahu apa yang kamu rasakan."
"Bagaimanapun, sekarang akulah suami kamu. Pendamping hidup kamu selamanya, aku adalah sandaran kamu sekarang. Jadi biasakan dirimu untuk selalu terbuka, dan aku berjanji untuk selalu terbuka pada apapun yang istriku mau aku untuk jujur. Hmm?"
Cup.
"Aku takut..hiks..." Karmila menggeleng melepas tautan tangan mereka seraya menjauhkan dirinya dari Jerry. Ia sungguh takut, ketakutan itu selalu mengejarnya tak peduli sekuat apapun ia berlari. Jerry menggeleng lemah, kembali mendekat dan lagi-lagi merengkuh wanita yang psikisnya tengah tidak stabil itu.
"Hey! Apa kamu tidak percaya pada suami kamu?" Dan benar saja Karmila menggeleng. Bagaimana ia bisa percaya jika mereka saja baru beberapa hari yang lalu bertemu setelah aksi Jerry menyelamatkan dirinya.
"Baiklah aku akan membuktikan keseriusanku dalam membina rumah tangga bersamamu." Jerry berdiri melangkah mengambil gawainya, ia membuka sesuatu di benda pipih itu dan menunjukkan pada Karmila.
"Ini adalah sebuah mansion yang aku bangun dengan uang tabunganku untuk kita berdua atas namamu! Dan ini adalah sebuah toko bunga yang aku bangun di kota New York, yang kini dalam proses pembangunan. Aku membangun ini karena kamu sangat suka bunga dan aku rela menghabiskan berapapun itu uang, agar bisa melihat secercah senyum indah dari bibir ini, Sayang."
__ADS_1
Karmila menggeleng tidak percaya, ia kembali berkaca-kaca. Masihkah ia tidak percaya akan semua ketulusan pria itu?
"Masih tidak percaya, Sayang?"
Grep! Karmila bisa! Ia merengkuh tubuh pria itu dengan tangisan yang menjadi, tidak pernah menyangka kebaikan apa yang telah ia lakukan hingga dirinya bisa memiliki pria sebaik Jerry dengan beribu ketulusan untuk wanita tidak sempurna seperti dirinya.
"Aku butuh waktu, hiks...hiks.."
"Hey, apapun yang kamu minta akan aku berikan! Berapa lama waktu yang kamu butuhkan? Kamu bisa menenangkan dirimu, dan memberikan waktu untuk berpikir. Tetapi ingat Sayang, psikismu harus segera di obati. Setelah ini berjanjilah kalau kamu akan terbuka padaku, hmm?"
Karmila mengangguk setuju setelahnya Jerry keluar memberikan ruang untuk Karmila agar bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan perlahan bisa membangun benteng keberanian dalam dirinya untuk melawan semua ketakutan yang datang mendera.
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
Vote like and komennya yah.
Ceritanya akan dimulai sama Jerry dan Karmila tetapi Tica dan Dendy masih akan muncul untuk beberapa part yah.