
Hari ini, Tica meminta izin untuk cuti kepada Recaz. Ia hendak kontrol kandungan ke dokter dan hari ini ia telah membuat jadwal dengan teman Dokter Meysha, karena kebetulan Dokter Meysha sedang tidak praktek hari ini.
Tetapi disinilah Tica sekarang, di rumah sakit bersama dengan Recaz. Pria itu justru datang ke apartemen dan mengantarnya walau Tica tak meminta. Terlebih lagi Recaz memaksa padahal dirinya sudah berusaha untuk menolak sehalus mungkin.
"Selamat yah, Bu. Babynya ada dua, sebentar saya lihat jenis kelaminnya!"
Dokter cantik itu terus mengamati isi rahim Tica dari layar komputer. Tica sontak terkejut saat mengetahui bahwa calon bayinya ada dua. Itu artinya bayinya kembar.
"Bayi saya ada dua, Dok? Dokter engga becanda kan?"
Tanya bumil yang tengah berbaring telentang itu kepada sang dokter. Dengan penuh semangat dokter mengangguk. Ia bisa merasakan betapa bahagianya ibu hamil yang merupakan pasiennya itu.
"Semuanya jagoan, Bu!"
Tica tak menjawab lagi, ia hanya diam dengan mata berkaca. Siapa sangka dirinya akan memiliki dua bayi sekaligus, walau ia tak memiliki gen kembar.
Recaz yang mengamati interaksi kedua wanita itu, hanya bisa tersenyum dan mengucapkan selamat kepada Tica. Namun menggunakan raut wajah saja Tica sudah paham apa yang diucapkan Recaz.
"Loh, bapak ini suami ibu?"
Deg!
Suami? Seketika kata itu membuat mood Tica hancur. Seharusnya suaminya lah yang menemaninya untuk kontrol kandungan. Tetapi Malang sekali nasibnya, bukannya ditemani ia malah ditinggal.
"Bu...bukan, Dok!"
"Iya Dok!"
Tica dan Recaz menjawab bersamaan. Recaz mendekat seraya bertingkah selayaknya suami sungguhan, memeluk dan mengelus pucuk kepala Tica. Sedangkan wanita itu hanya bisa mendelik tajam, beraninya Recaz mengatakan hal tidak masuk akal itu.
"Sayang, aku ini suamimu!"
"Ma..maksud saya, Bu..bukan hanya suami, tetapi dia pujaan hati saya. Hehe!"
__ADS_1
Apa maksud semua ini? Akan ku cincang Anda hidup-hidup!
Tica menatap Recaz dengan tajam, sungguh pria itu membuat darahnya naik dengan mengaku sebagai suaminya. Sangat tidak sopan.
"Bapak, tolong dijaga mood bumilnya yah. Jangan stres yah, Bu. Biasanya mood ibu hamil memang engga menentu, bilang aja kalau ibu mau sesuatu. Pola makannya dijaga yah, Bu. Dan jangan melakukan aktivitas yang terlalu berat."
Dokter berambut sebahu itu terus menasehati Tica mengenai pantangan untuk ibu hamil.
"Siap Dok! Kamu dengar, Sayang? Jangan stres!" Recaz berakting seolah-olah dirinya benar-benar suami Tica. Entah kenapa pria itu tertarik untuk melakukan hal itu, Tica juga tidak tahu.
***
"Kenapa kau mengaku sebagai suamiku? Itu sangat tidak sopan!"
Sarkas Tica ketika mereka telah berada di dalam mobil. Tica sungguh merasa geram, bagaimana bisa Recaz bertindak seberani itu. Mengaku sebagai suaminya tanpa seizinnya. Bagaimana kalau dokter tadi sampai bilang kepada Meysha, urusannya akan bertambah rumit.
Setelah sampai di depan gedung apartemen-nya, Tica segera keluar dari mobil dan mengucapkan terimakasih kepada Recaz.
"Baiklah, maafkan aku."
Sebenarnya niat Recaz baik, tadi ia melihat dua orang perawat nyinyir mengira kalau Tica hamil diluar nikah karena usianya yang masih terlihat muda. Recaz melihat dan mendengar jelas mereka membicarakan Tica. Oleh karena itu, ia dengan lantang berbicara bahwa dirinya adalah suami Tica. Agar kedua perawat tidak ada kerjaan itu tak lagi menghina Tica. Seharusnya Tica berterimakasih juga pada pria itu, bukan hanya menghardik saja.
Tetapi Recaz paham dirinya memang sedikit tidak sopan. Ia biarkan saja Tica memarahinya dan salam paham pada perbuatannya tadi.
Di dalam apartemen, bumil itu tengah melamun. Memikirkan hal yang sangat ia nantikan serta ia harapkan yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
"Ini sudah tiga bulan sejak kau meninggalkanku. Kau berjanji akan menjemputku, tetapi hingga sekarang kau pun bahkan tidak ada kabar. Sampai kapan aku harus menunggu? Nak, kenapa ini sangat berat?"
Bumil itu nampaknya hendak menangis, namun ia tahan. Ia yakin kalau dirinya bisa menghadapi semuanya sendiri.
"Satu bulan lagi! Aku akan menunggu, kalau dia belum datang. Kita akan pergi, Nak. Dan kalian hanya anak ibu!"
Saat seharusnya ibu hamil diperlakukan dengan begitu baik dan dimanja oleh suaminya. Kenapa aku justru diperlakukan seperti seorang yang tak dibutuhkan. Kenapa aku seakan dicampakkan oleh suamiku sendiri? Mungkin dia telah melupakan aku, tetapi apa mungkin dia melupakan anaknya? Rasanya begitu sakit, saat aku menginginkan sesuatu. Justru lelaki lain yang selalu ada untukku. Aku hanya ingin suamiku, hanya itu, apa itu sulit? Ya Tuhan, aku tak tahu harus pergi atau menetap. Kumohon berikan aku jawaban untuk penantianku!
__ADS_1
Jeritan batin bumil itu terus meluap. Ia ingin menangis histeris di pelukan suaminya, tetapi mungkin itu hanya hayalannya. Bahkan lelaki itu kini telah menghilang dan mungkin telah melupakannya. Bersabarlah Tica, akan selalu ada akhir yang bahagia untuk siapapun yang bersabar menghadapi ujian Tuhan.
Drttt... Drttt...
Tica menormalkan suaranya sebelum mengucapkan sesuatu pada ibunya. Ibunya pasti akan tahu kalau ia baru saja bersedih. Ia tak mau membebani sang ibu dengan kesedihannya. Maka sebisa mungkin dirinya harus terdengar bahagia.
"Halo Bu?"
("Apa kau punya nomornya Nadya?")
"Tumben ibu tanya Nadya?"
("Kirimkan saja jika punya, ibu rindu pada Nadya. Ibu ingin mengobrol dengannya!")
"Baiklah, Bu!"
Tutt.
Tica mengirimkan nomor telepon Nadya pad ibunya selepas mematikan sambungan telepon. Ia percaya saja jika mungkin ibunya rindu ingin mengobrol dengan Nadya. Tanpa ada maksud terselubung lainnya.
Ibu Tica memang akrab dengan Nadya. Karena saat di kampung dulu, Nadya sering berkunjung bahkan menginap di rumah Tica. Nadya sangat suka jika sudah berkunjung ke rumah sahabat karibnya itu, selain Tica yang menyenangkan, ibu dan ayah Tica juga memperlakukannya dengan sangat baik.
.
.
.
.
TBC!
Vote like and komennya yah.
__ADS_1