Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-13 Aku berangkat.


__ADS_3

Suasana malam yang sepi dan tamaram. Hanya berhiaskan cahaya bulan dan juga cahaya dari lampu tidur. Kicauan burung hantu terdengar jelas menemani kelamnya langit malam. Karena tak ada satu bintang pun yang hadir untuk memperindah.


Tica yang baru saja menyelesaikan tugasnya mencuci piring, bermaksud hendak ke kamar mandi untuk buang air. Tetapi nampaknya wanita itu mengurungkan niatnya tatkala mendengar suara gelutakan barang dari dalam kamar. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar dan ternganga melihat kekacauan yang terjadi.


Baju-baju berserakan keluar dari tempatnya dan juga ada beberapa lembar berkas yang telah tertata rapi di atas karpet berbulu di kamar.


"Ada apa ini? Jangan bilang Anda mau minggat?" Ujar Tica dengan enteng sembari membantu Dendy merapikan kembali baju-baju yang berserakan.


Dendy tak menyahut, tetap fokus membaca file-file yang akan ia bawa. Bahkan tak sedikitpun menengok ke wajah Tica.


***


"Duduklah!"


Dendy meminta Tica untuk duduk di kursi seberang. Keduanya tengah berada di luar ruangan tepatnya di balkon kamar. Pria itu berniat untuk membicarakan keberangkatannya menuju Amerika kepada Tica. Entah Tica setuju atau tidak, intinya Dendy akan tetap berangkat.


"Aku akan berangkat ke Amerika besok!"


Degg.


Seketika Tica terlonjak, kenapa sangat mendadak. Kenapa dia baru diberitahukan saat Dendy sudah hendak berangkat dan kenapa tidak diberitahu jauh-jauh hari? Apa setidak penting itukah dirinya di mata Dendy? Tidakkah pria itu menganggap keberadaannya sedikit saja. Sakit hati itu pasti, tetapi dia bisa apa. Selain diam dan tetap mencoba untuk kuat menahan linangan air mata yang hendak turun. Tidak, dirinya tidak boleh menangis seperti orang lemah, atau Dendy akan lebih menginjak-injak dirinya.


"Hanya itu yang ingin Anda katakan?"


"Hm! Kau tetaplah disini, jika usia kehamilanmu sudah diperbolehkan untuk menempuh perjalanan jauh. Aku akan menjemputmu!"


"Apa yang Anda katakan bisa dipercaya? Dokter bilang janinku kuat, dan usianya sudah berjalan dua bulan."


"Konsultasi pada Meysha, berapa usia janin yang boleh menempuh perjalanan jauh!"


"Minggu ke-14! Artinya dua bulan lagi."


"Hmm! Baiklah!"


Sahut Dendy tetap fokus pada hamparan pemandangan malam yang terlihat banyak kendaraan berlalu-lalang di sekitar bangunan gedung apartemennya.

__ADS_1


"Baiklah, saya permisi!"


Tica beranjak dan masuk ke dalam kamarnya. Angin malam tidak bagus untuk tubuh apalagi kondisinya yang tengah hamil muda.


"Huh, semangat Tica! Kamu bisa, kamu pasti bisa! Jangan cengeng kamu kuat!"


Ujar wanita berkuncir kuda itu seraya mengepal tangan memberikan dukungan untuk dirinya sendiri. Dirinya merasa Dendy sudah sedikit mempedulikannya walau masih dalam kadar yang rendah. Setidaknya pria masih tetap memintanya untuk tinggal di apartemen.


***


Keesokan paginya, cuaca terlihat begitu cerah dan matahari bersinar dengan membawa kehangatan. Tica bangun terlambat pagi ini, mungkin karena terlalu lelah melakukan kegiatan rumah semalam. Ia terbangun dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tanpa menyadari kalau tempat ditiduri Dendy semalam sudah kosong.


Lima belas menit kemudian, Tica keluar dengan setelan casualnya. Menguncir rambutnya bagaikan ekor kuda dan juga merias wajahnya dengan riasan ringan. Bibir peach yang cantik dan merona karena telah diolesi liptint. Ia beranjak keluar berniat hendak memasak untuk suaminya. Tetapi ia sadar, Dendy sudah tidak ada di ranjang.


"Loh, dia kemana? Tumben pagi gini udah bangun, biasanya juga nanti agak siang."


"Kertas apa ini?"


Gumam Tica ketika melihat secarik kertas tergeletak di atas nakas yang ditindih dengan segelas susu untuk ibu hamil.


'Aku berangkat. Minum susunya!'


Dendy Faresh.


Sontak jantung wanita itu berpacu. Dendy sudah berangkat? Tanpa berpamitan atau mengatakan sesuatu padanya. Ia memegang gelas susu yang tadi menjadu tindih kertas itu.


Deg! Masih hangat!


Itu artinya Dendy baru saja pergi. Tica shera mengenakan sandal jepit rumahannya. Dan membawa dompet serta handphonenya kemudian berlari menuju ke lantai bawah mencari ojek.


Tica tergopoh-gopoh sampai melupakan bahwa dirinya tidak boleh berlari kencang karena khawatir terjadi hal buruk pada janinnya.


"Pak!"


Tica menepuk bahu seorang tukang ojek yang mangkal di dekat gedung apartemen.

__ADS_1


"Eh apa Neng?"


Ujar si tukang ojek terlonjak karena Tica datang dengan tergopoh-gopoh dan wajahnya terlihat seperti orang khawatir.


"Ayo antarkan saya ke bandara terdekat!"


"Wah lumayan jauh jaraknya Neng!"


"Cepatt! Akan saya bayar berapapun!"


"Berangkatttt!"


Tica segera naik ke jok belakang motor dan mengenakan helm yang diberikan oleh Abang tukan ojek. Kendaraan beroda dua itu pun segera meluncur menuju bandara terdekat.


"Ayo Bangg! Gas poll lossss!"


"Siap Nenggg!"


Sahut Abang ojek menambah kecepatan dari laju motor.


Setelah menempuh perjalan selama dua puluh menit Tica sampai di bandara. Banyak orang berlalu-lalang membawa koper besar entah itu ingin pergi atau datang dari luar negeri. Tica terus berputar kesana-kemari mencari sosok yang ia cari. Ticket dari Indonesia ke Amerika akan take off lima menit lagi.


"Tuan! Tunggu Tuan!!"


.


.


.


.


TBC!


Vote like and komennya yah.

__ADS_1


__ADS_2