
"Sayang, kita resmi bertunangan?"
Ujar seorang wanita cantik dengan dress glamour berwarna gold dengan sentuhan aksesoris indah yang bertengger cantik di rambut blondenya. Wanita bertubuh proporsional itu nampak begitu bahagia karena sang pria baru saja meresmikan pertunangan mereka. Setelah tujuh bulan, akhirnya pria itu meresmikan pertunangan mereka.
"Iya Sayang!"
Aku sudah mantap memilihnya! Dia wanita yang aku cintai dan akan selamanya begitu.
Batin pria itu, menatap sosok wanita yang begitu ia cintai. Hingga dirinya melupakan seseorang yang menanti kehadirannya di setiap hari yang akan datang selanjutnya.
***
Tujuh bulan telah terlampaui, perut Tica semakin membesar. Tanpa kehadiran sang suami disisinya, banyak orang berasumsi bahwa dirinya hamil tanpa suami, ada juga beberapakali orang yang memandang rendah hingga mencemoohnya. Tetapi tak ada satu pun cemoohan orang yang berhasil membuat wanita itu menangis bahkan bersedih. Wanita cantik dengan tubuh indah itu hanya akan membalas dengan senyuman atau menghiraukan saja.
Menurut Tica, hanya dialah yang berhak menilai hidupnya, karena setiap detik dalam hidupnya hanya dapat dirasakan oleh dirinya sendiri. Sedih atau bahagia, bukan orang lain yang merasakan, melainkan dirinya sendiri. Itu artinya, hanya dirinyalah yang berhak menilai semua aspek yang berkaitan dengan hidupnya.
"Sembilan bulan, sebentar lagi mereka akan hadir. Tetapi dia masih belum pulang juga, Ya Tuhan, apa ini adalah jawaban dari penantianku? Apa ini artinya aku harus pergi? Huh.. hiks."
Bumil itu terduduk diam menyeret sebuah koper kecil berisi baju dan semua barang-barang pribadinya. Tica memutuskan untuk pergi, cukup sudah ia menunggu selama tujuh bulan tanpa ada kabar yang pasti. Cukup sudah sakit yang ia rasakan karena hidup menyendiri dalam kondisi hamil besar. Perlahan ia menyeret kopernya masuk ke dalam mobil Recaz.
"Ayo Re!"
"Apa kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Ya!"
Recaz tahu benar apa yang dirasakan oleh wanita cantik yang disia-siakan itu. Sebagai seorang pria, ia merasa begitu geram kepada pria yang telah menyakiti wanita sebaik dan setegar Tica. Recaz pun tak segan untuk merengkuh wanita yang memiliki hati setegar batu itu ke dalam rengkuhan hangatnya.
"Aku ada Tica! Aku memang bukan siapa-siapa untukmu, tetapi bagiku kau adalah adikku! Kau sama seperti adikku, yang akan selalu aku sayangi."
"Hiks... Kenapa kamu sebaik ini? Kita hanya orang asing yang baru mengenal!"
"Karena wajahmu mengingatkanku pada adikku yang telah tenang di alam sana!"
Degg.
"Maksudmu?"
"Bi..bisa aku melihat fotonya?"
Recaz dengan senang hati menunjukkan foto sang adik yang saat itu tengah mencium pipinya mesra.
Deg.
Sangat mirip denganku!
"Ya kau benar, wajahnya hampir mirip dengan wajahku! Hanya hidung kami yang berbeda, dia mancung dan aku terlalu mancung!"
__ADS_1
"Hahaha...."
Lihat saja, dalam suasana hatinya yang masih bersedih, bumil itu masih saja bertingkah lucu hingga membuat Recaz tertawa dibuatnya.
Recaz masih terus melajukan mobilnya menuju kampung halaman Tica karena Tica ingin lahiran di kampung ditemani oleh sang ibu. Sebenarnya Tica tidak enak hati selalu saja menyusahkan Recaz, tetapi apalah daya ini adalah kemauan Recaz sendiri. Bahkan Recaz mengancam jika Tica sampai menolak.
Setelah beberapa jam perjalanan, mereka sampai dengan selamat di rumah Tica. Mobil putih bersih milik Recaz terparkir rapi di halaman rumah Tica yang tidak begitu luas.
"Bu! Tica Bu, ayo kemari!"
Baru saja turun dari mobil, ayah Tica sudah berteriak kegirangan memanggil ibu Tica. Sontak ibu pun loncat dari kegiatannya yang tengah mencuci piring. Ia langsung buru-buru keluar untuk menyambut putrinya yang begitu ia rindukan.
.
.
.
.
TBC!
Vote like and komennya yah.
__ADS_1
Thanks guys ~