
"Huaaa... Huaaaa... Mmahhmmaahh...." Sedari dua puluh menit yang lalu, tangisan baby Eth tak kunjung berhenti bahkan semakin menjadi. Membuat Tica menjadi khawatir seketika, karena sang putra tidak pernah menangis selama ini. Apalagi Eth cenderung diam dan lebih suka menyimak apapun yang terjadi.
Ketiga pria bule itu masih di sana mengupayakan segala hal agar baby Eth bisa diam, tetapi nihil. Tica terlihat terus berusaha untuk membujuk sang putra dan baby Ev akhirnya juga ikut menangis ketika melihat tangisan kakaknya tak kunjung mereda.
"Ya Tuhan, diam Sayang. Ibu di sini, cup cup cup."
"Tic, biar aku bawa Ev ke depan. Mungkin dia khawatir pada kakaknya." Ujar Recaz kemudian melangkah pergi meninggalkan Tica bersama Dendy dan Jerry. Jerry yang statusnya masih jomblo akut pun ikut merasa heran. Jujur ia bahkan tidak tahu apapun mengenai bayi dan segala kebutuhannya.
"Tic... Bolehkah aku menggendong putra kita sebentar?" Tanya Dendy dengan ragu, dan ia mengisyaratkan Jerry untuk pergi karena ia ingin berdua bersama sang istri. Mungkin ini waktu yang tepat untuk ia menceritakan semuanya.
"Tak perlu! Aku tidak membutuhkan bantuanmu!" Ketus Tica.
"Kumohon, mungkin dia merindukan ayahnya."
Tica semakin khawatir karena tangisan baby Eth semakin menjadi. Tidak baik bayi menangis terlalu lama, itu akan berdampak buruk pada kesehatan si bayi. Tica masih kekeuh memeluk erat putranya tanpa memberikan Dendy celah bahkan hanya untuk sekedar menyentuh bayi tampan itu.
"Tic, aku mohon sekali ini saja. Setelah ini aku akan berbicara sesuatu padamu. Aku mohon, setelahnya aku janji akan pergi!!" Dendy mencoba kembali berdamai, ia juga ingin menggendong putranya tetapi Tica sama sekali tak membiarkan hal tersebut. Dendy juga memaklumi, mungkin dirinya terlalu menyakiti hati wanita baik itu. Ia memang pria yang tak berguna, ia tahu itu.
__ADS_1
Tica nampak sedikit berpikir, jika dengan begitu Dendy bisa pergi, maka ia akan iyakan. Tanpa menunggu lama, Baby Eth telah berada di gendongan Dendy walau masih terlihat kaku. Dendy tetap berusaha untuk menggendong tubuh gempal sang putra.
Keajaiban terjadi, seketika tangisan bayi mungil itu mereda dan berhenti setelah beberapa saat kemudian. Padahal Tica sedari tadi sudah berusaha tetapi putranya justru semakin gencar menangis. Sedangkan Dendy hanya mengecup kening sang putra dan baby Eth langsung terdiam menenang. Apakah ini yang disebut ikatan batin?
Dendy meneteskan air matanya, siapa sangka pria seperti dirinya bisa seberuntung ini memiliki dua putra tampan. Ia pandangi wajah baby Eth yang benar-benar tak terbantahkan sangat mirip dengan wajahnya. Dendy tilik netra hijau sang putra yang sangat memancarkan aura ketegasan di masa depan, Ethan mungkin akan menuruni sifatnya. Tetapi ia berharap sang putra memiliki nasib yang lebih baik darinya.
"Tic, dia putra kita. Tampan sekali seperti aku, terimakasih Sayang. Terimakasih sudah menghadirkan dua putra kita ke dunia. Terimakasih, kau adalah wanita terbaik, Sayang. Aku mencintaimu!"
Deg.
"Jaga bicaramu! Sebaiknya tanda tangani saja surat cerai yang telah aku berikan!" Tegas Tica.
Dendy menggiring Tica untuk duduk di sebelahnya. Pria itu menitipkan Ethan yang telah terlelap pada Jerry.
"Bolehkah aku menjelaskan semuanya? Sayang, ini semua engga seperti yang kamu pikirkan!"
Tica duduk dengan menjaga jarak dari Dendy, ibu muda itu menepis tangan Dendy yang mencoba untuk menyentuh tangannya. Ia hanya tidak ingin terjatuh dalam kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
__ADS_1
"Aku pergi ke Amerika dan bertemu kembali dengan Angeline. Aku tahu aku salah, karena aku mau kembali padanya tanpa mempedulikan dirimu. Tetapi semua itu ada alasannya, aku ingin menyelidiki apakah Angeline adalah dalang dibalik kematian ibuku. Karena saat ibuku tiada, aku masih begitu labil dan tak menyadari apapun.
Namun beberapa bulan yang lalu aku bertemu dengan dokter yang dulu menangani otopsi ibuku saat beliau meninggal. Dan aku tak menyangka ternyata dokter itu masih mengingat aku. Jujur, aku begitu sedih mendengar kalau ternyata dokter itu bilang ibuku meninggal karena diberi obat yang berdosis tinggi setiap harinya. Terjadi masalah pada jantungnya. Hiks.. hiks.."
Tica masih diam terlihat menyimak dengan saksama walau ia tidak merespon apapun. Tetap diam dan menjadi pendengar yang baik. Sesaat kemudian, Dendy melanjutkan kata-katanya.
"Kau tahu siapa yang selama ini merawat ibu? Angeline, wanita itulah yang selama ini merawat ibuku!"
Oh jadi dia bilang wanita itu berjasa karena telah merawat ibunya. Aku paham sekarang! Tetapi aku harus waspada, aku tak boleh kembali jatuh ke lubang yang sama.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
Vote like and komennya yah.