
Setelah tiga hari berada di rumah Tica di kampung, Dendy dan Tica pun kembali ke kota. Mereka kembali tinggal di apartemen kelas atas milik Dendy. Baru saja kedua pasutri itu masuk ke dalam apartemen, sudah disuguhkan pemandangan tidak mengenakkan, dimana seorang wanita hamil dan suaminya tengah menatap tajam ke arah mereka.
Gawat! Aku terciduk!
Tica membatin, ia hanya cengar-cengir kemudian menaruh tas-tas bawaannya ke dalam. Dan segera kembali ke ruang tamu untuk menyapa Nadya dan juga Brydan. Namun Dendy, pria itu hanya tertunduk membatu di sofa.
"Hy Nad! Hy Tuan Brydan."
"Nyonya dan Tuan, maaf kami tidak tahu kalau Anda datang.'
"Aku akan memaafkanmu jika kamu bisa menjelaskan sesuatu kepada aku!"
"Apa itu, Nyonya?"
"Bagaimana kamu bisa menghamili sahabat dekatku dan bagaimana kamu bisa menikah tanpa mengundang kami berdua?"
Dendy terhenyak, ia seakan terhipnotis akan pertanyaan yang diajukan oleh istri dari tuannya itu. Nadya pasti tahu dari Brydan, ia yakin seratus persen untuk itu.
"Ah Nad, ini engga seperti yang kamu pikirkan!"
"Tica, kamu diam! Aku minta Sekertaris Dendy untuk berbicara. Jelaskan agar aku tidak salah paham dan jangan sampai aku mengulang kalimat yang sama sebanyak tiga kali!"
Sial, Nyonya Nadya telah terpengaruh akan kekejaman tuannya. Lihat saja wanita itu bahkan mengancam dirinya, persis seperti yang sering dilakukan Brydan.
"Kami menikah karena sebuah accident, Nyonya. Saat itu saya dijebak oleh teman-teman saya, mereka memasukkan obat pembangkit gairah ke dalam minuman yang saya minum. Dan sialnya saya tidak menyadari akan hal itu. Singkat cerita, malam itu saya bertemu dengan Tica dalam kondisi yang bergairah. Melihat tubuh wanita, akal sehat saya seakan hilang. Maafkan saya, Nyonya."
"Seharusnya kau meminta maaf pada sahabatku, Den!"
"Kau tahu, apa akibat dari perlakuan burukmu itu? Tica bisa saja depresi karena telah hamil di luar nikah, yang kedua keluarganya akan merasa sangat malu terutama ayah dan ibunya. Dan yang ketiga, seluruh masyarakat akan mencemoohnya jika saja kau tidak mengetahui langsung perihal kehamilan Tica. Sudahkah kau memikirkan hal itu? Sekarang aku tanya, apa kalian saling mencintai?"
"Tidak!"
"Tidak!"
"Lihatlah, kalian tidak saling mencintai, lalu bagaimana kalian bisa menjalani rumah tangga yang langgeng? Apa kalian sudah berpikir, kalian ini sudah sama-sama dewasa! Jika suatu saat hal buruk terjadi, karena tidak adanya kekuatan cinta di dalam rumah tangga kalian, kalian bisa saja berpisah. Dan itu akan berakibat buruk pada anak kalian nanti."
"Nad, maafkan aku. Terimakasih telah mengkhawatirkan keadaanku! Kau tahu, aku menikah demi anakku, dan aku akan memperjuangkan keutuhan rumah tanggaku sampai kapanpun! Itu pasti, Nad."
Sedangkan Dendy hanya diam saja, dia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya untuk meyakinkan Nadya. Tapi Dendy paham, sebagai seorang sahabat Nadya tentu akan merasa khawatir jika melihat sahabatnya menikah tanpa dasar cinta.
__ADS_1
"Baiklah kami pamit, selamat atas pernikahan kalian."
"Selamat atas pernikahan kalian, untuk kado pernikahan aku sudah kirimkan ke rekening kalian masing-masing."
"Terimakasih Nadya dan Tuan Brydan!"
"Terimakasih Nyonya dan Tuan."
Selepas kepulangan Nadya dan Brydan, pasangan pengantin baru itu masih belum beranjak. Mereka terbengong, terhanyut akan pikiran masing-masing.
Dendy beranjak, ia melangkah ke arah kamar mandi. Seharian ini pikirannya benar-benar kacau dan badannya juga lengket karena berada di perjalanan selama dua jam lebih.
Keluar dari kamar mandi, pemandangan yang pertama ia lihat adalah sang istri yang sudah terlelap di ranjang membelakangi dirinya.
"Maaf, aku tidak bisa mencintai siapapun kecuali dia. Aku sudah berjanji bahwa aku akan menunggunya kembali."
Ia mengelus dahi Tica, karena wanita itu berkeringat akhirnya Dendy menyalakan AC. Dan mengganti pakaiannya, ia tahu istrinya pasti lelah seharian dalam perjalanan jauh apalagi wanita itu tengah hamil muda.
"Hey bangun, mandi dulu baru boleh tidur lagi."
Tidak ada jawaban dan sang empu pemilik raga. Wanita itu hanya diam saja, bahkan tidurnya terlihat begitu nyenyak. Tidak terusik sedikit pun walau Dendy sudah menggoyangkan lengan bahkan menepuk-nepuk perlahan pipi wanita itu.
"Hmm!"
"Oh rupanya kau sudah berani melawanku!"
Dendy yang geram akhirnya langsung membopong tubuh Tica menuju bathub, tetapu herannya wanita itu masih tidak bangun juga.
"Kau tidur atau pingsan? Dasar kebo!"
Karena Tica tak kunjung bangun walaupun tubuhnya sudah berada di air. Dendy semakin bertambah kesal, pria itu terpaksa harus memandikan istri barunya itu, dengan tekat yang kuat. Dendy membuka helai demi helai pakaian yang Tica pakai, walaupun tubuh indah itu terpampang nyata tetapi Dendy tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya menyabuni dan membilas tubuh istrinya dengan air hangat. Kemudian ia mengangkat lagi tubuh wanita itu menuju ranjang, dan memakaikan pakaian.
"Kau pikir aku pelayanmu! Istri bar-barku ini memang tidak ada tandingannya."
Setelah memakaikan pakaian untuk Tica, Dendy mengambil iPad miliknya dan melihat laporan-laporan yang masuk ke email-nya. Pria itu akhirnya melanjutkan dengan mengerjakan beberapa pekerjaannya yang terbengkalai karena ia tinggalkan untuk mengurus dokumen pernikahannya dengan Tica.
Dendy duduk berselonjor di ranjang dengan bersandar di kepala ranjang. Sedangkan Tica tidur tepat di sebelahnya dengan posisi membelakangi Dendy. Namun tiba-tiba, wanita itu berbalik dan tangannya tepat menyentuh benda perkasa milik Dendy. Bukan hanya menyentuh bahkan wanita itu juga mempermainkan benda itu, sedikit memencet dan mengelus-elus.
"Akh! Sial!"
__ADS_1
"Hey bar-bar, kau menyentuh milikku!"
Bentakan keras itu berhasil membangunkan putri yang tertidur. Tica mengerjap, ia melihat ke arah tangannya yang seperti menyentuh benda kenyal.
"Akhhh!"
Tica sontak berteriak, ketik matanya melihat tepat dimana tangannya berada. Di atas benda milik Dendy, bahkan Tica sadar berarti squishi yang ada di mimpinya tadi itu adalah benda itu.
"Singkirkan tanganmu dari milikku!"
"Ah ya, maaf Tuan."
Tica segera menarik kembali tangan nakalnya itu. Sungguh ia tidak habis pikir, bagaimana dirinya bisa menjadi semesum ini. Wajahnya benar-benar merah sekarang, karena malu. Kalau bisa ingin ia sembunyikan wajahnya di dalam kantong kanguru saja.
Dendy masih diam, pria itu memejam mata seakan menahan gejolak yang datang menghampiri berkat ulah Tica.
"Sekarang kau harus bertanggungjawab!"
"Ma... Maksud Tuan?"
"Milikku berdiri, tidurkan kembali!"
"Sa... Saya harus menggunakan obat tidur untuk menidurkan benda itu?"
"Bodoh! Diam saja kau, tidak berguna!"
Dendy yang kesal pun hanya bisa melampiaskan kemarahannya di dalam kamar mandi. Kamar mandi akan menjadi saksi bisu pelepasannya kali ini.
.
.
.
.
TBC!
Vote like and komennya yah.
__ADS_1