Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-83


__ADS_3

Tiga hari sudah perang dingin antara dua insan yang dimabuk asmara itu berlangsung, sang istri yang jatuh akan kesalahan pahaman dan tidak mau berbicara walau hanya sepatah katapun ada suaminya. Sedangkan sang suami yang tidak tahu dimana letak kesalahannya hingga istrinya bahkan sama sekali tidak mau berbasa-basi padanya. Ia bagaikan patung yang selalu didiamkan tanpa disentuh atau diajak berbicara.


Mereka tinggal dalam satu atap dan satu pondasi yang sama tetapi seakan terpisah oleh ego masing-masing. Keduanya seakan gengsi untuk berbicara terlebih dahulu sehingga kesalahan pahaman yang tercipta akan terus berlanjut tanpa adanya kebenaran atau sekedar hanya untuk meluruskan masalah.


Sudah tiga hari juga mereka tidur terpisah, Jerry selalu tidur di sofa sebab istrinya tidak mengizinkan dirinya tidur seranjang. Jerry yang tidak mau memperdalam masaah, akhirnya hanya menurut tanpa memprotes apapun.


"Cukup Karmila!"


Deg!


Seketika darah Karmila mendidih saat Jerry membentak dirinya, ia yang baru saja hendak melewati Jerry menuju meja makan terlonjak kala Jerry membentaknya dengan cukup keras. Wanita itu berhenti, ia meremas dress rumahan yang ia kenakan , dadanya naik turun pertanda ia tengah menahan gejolak di dalam sana agar tidak meledak sekarang.


Karmila mengabaikan, tetap melanjutkan langkahnya kembali menuju kamarnya tanpa melihat wajah Jerry yang sudah merah padam di belakang tubuhnya, pria itu menggebrak meja dengan begitu keras sampai tangannya memerah dan piring-piring dan sendok berpindah posisi menimbulkan suara nyaring berbunyi.


Bruak!


"AKU BILANG CUKUP, KARMILA!" Bentaknya sekali lagi, dan kali ini Karmila benar-benar takut. Karmila berbalik menatap Jerry dengan mata yang tak kalah menyala, seakan kobaran api tengah menyala berkobar dengan menggelora di netra kedua insan yang tengah panas pikiran dan hati itu.


"Bentak aku lagi! BENTAK AKU LAGI!?" Teriak Karmila tepat di depan wajah Jerry, ini waktunya! Tumpahkan semua kemarahan yang kau pendam, Karmila! Ayo tumpahkan semuanya, ini waktunya, dia berada di sini, inilah waktu tepat yang telah kamu tunggu. Katakan semuanya padanya, dia telah tega melakukan ini padamu. Dia tidak lagi mencintai kamu! Seakan bisikan itu terus terngiang di telinga Karmila. Sekuat apapun Karmila berusaha menahan, namun akhirnya ia meluapkan juga.


"Ini, ini caramu memperlakukan suamimu? Istri seharusnya menghormati suaminya, istri seharusnya menjadi tempat suaminya bersandar, istri seharusnya menyiapkan segala sesuatu yang suaminya butuhkan. Dan istri seharusnya tidak pernah mengusir suaminya dari ranjang, lalu istri macam apa yang berani membentak suaminya, yang berani mengusir suaminya dari ranjang, dan bahkan tidak peduli entah suaminya hidup atau mati!"


Deg!


Kalimat panjang kali lebar yang Jerry ucapkan sungguh menancap sempurna melukai hati Karmila semakin dalam. Mata wanita cantik itu mulai berkaca-kaca dengan kaki gemetar yang sudah tak kuat menahan ini semua, ingin rasanya ia menggelosorkan dirinya di lantai dan menangis melepaskan semua kesakitan ini, melepaskan semua emosi yang mengendap di hatinya.


"Jik kamu merasa aku punya salah, kamu merasa aku telah membuatmu sakit hati atau apapun itu yang membuat kamu tidak nyaman. Katakan padaku, bukan malah mendiamkan aku! Apa kamu pikir aku paranormal, yang bisa membaca pikiranmu? Apa kamu pikir aku tidak bisa merasakan sakit hati?"


Karmila tidak lagi diam dengan kalimat Jerry barusan. Wanita itu membuka katupan bibirnya untuk mengatakan semua yang ingin ia katakan.


"Jika yang membuat kesalahan saja sakit hati, lalu bagaimana dengan korbannya? Jika yang menyakiti saja sakit, lalu bagaimana dengan yang disakiti? Aku istri macam apa? Lalu kamu suami macam apa yang lebih memilih makan di luar bersama wanita lain daripada memakan masakan istrinya di rumah? Katakan Jerry!"


"Apa maksudmu?" Jerry semakin bingung dengan ucapan istrinya yang menurutnya melantur. Memangnya kapan dirinya makan di luar bersama perempuan lain? Dan bagaimana wanita itu bisa tahu, Jerry mengangkat alisnya bingung.


"Ini apa?" Karmila menunjukkan sebuah foto di handphonenya.

__ADS_1


"Astaga, kamu marah dan mendiamkan aku hanya karena ini, Sayang? Aku bisa jelaskan semuanya!" Jerry menepuk jidatnya, ia tidak pernah menyangka istrinya marah hanya karena masalah kecil.


"Tidak perlu menjelaskan, semua sudah jelas!"


Karmila hendak melangkah kembali, tetapi dengan sekuat tenaga Jerry menahan Karmila. Pria itu memeluk sang istri dari belakang dengan begitu erat, walau memberontak Karmila tetap tidak bisa lepas dari belitan tangan kekar itu. Hingga akhirnya ia lelah dengan sendirinya dan mulai tenang, Jerry pun mulai bercerita dengan posisi yang tidak berubah.


Flashback On


"Jerry!"


Seorang wanita cantik berpakaian kurang bahan mendatangi meja Jerry yang saat itu memilih makan di luar karena hendak mendinginkan pikirannya dari sang istri yang selalu saja membuat masalah.


"Siapa kau?" Tanya Jerry berpura-pura tidak mengenal wanita itu dengan harapan wanita itu akan segera pergi, namun Jerry salah besar karena wanita itu justru duduk di tepat di meja yang sama dengannya. Jerry menggeram merutuki wanita itu di hatinya, bukannya tenang malah sial.


"Apa kau lupa denganku? Aku Baby, yang waktu itu kau tolong saat mobilku mogok. Dan kebetulan kita bertemu di sini." Sahutnya menatap Jerry dengan tatapan menggodanya membuat Jerry semakin muak berdampingan dengan wanita itu.


"Oh!"


"Bolehkah aku bergabung?" Baby yang jelas-jelas sudah sedari tadi duduk di sana justru baru saja bertanya apakah dirinya diizinkan duduk atau tidak. Jerry memutar matanya jengah, ingin rasanya ia usir wanita itu agar tidak mengusiknya. Tetapi ini tidak akan pantas dan justru akan memperburuk citranya sendiri.


"Kenapa kau sangat dingin?" Baby mulai berulah, ia berpindah posisi berdiri dari duduknya. Tanpa aba-aba wanita itu langsung duduk di pangkuan Jerry.


Cekrek!


Sontak Jerry terkejut saat wanita itu tiba-tiba saja menduduki pangkuannya, Jerry langsung berdiri begitu saja menuju kasir membayar billnya kemudian ia segera pergi melalui Baby yang bersorak senang karena telah mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Ini Nona!"


"Bagus! Terimakasih, ini bayaranmu!"


***


"Jadi wanita penggoda itu mengirim fotonya padamu?"


"Hmm!"

__ADS_1


"Sayang, tatap aku!" Jerry membalikan posisinya istrinya menghadap satu sama lain.


"Aku sudah menjelaskan dengan kejujuran padamu. Sekarang aku meminta jawabanmu, apa kamu lebih percaya pada wanita penggoda itu atau pada suami kamu sendiri?" Jerry menatap netra abu milik Karmila dengan begitu intens.


Karmila menilik netra Hijau itu, tetapi sayang tidak tersirat sedikit kebohongan pun di sana. Apa itu artinya suaminya telah berkata jujur? Tetapi bagaimana dengan bukti yang telah ia dapat? Karmila dilema, namun hati kecilnya berkata, suaminya tidak mungkin berbohong. Pria itu tidak mungkin tega mengkhianati dirinya atas nama cinta mereka.


"Aku percaya!"


Grep!


"Maafkan aku istriku tercinta!"


"Hmm! Jangan diulangi lagi!"


"Siap Sayang! I love you!"


"I love me too."


"What? I said i love you, honey!"


"Hahaha, I'm just kidding! I love you more, Tom Jerry!"


"Heyy itu bukan namaku!"


"Wlekkkk... Lariii...."


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


Vote like and komennya yah.


__ADS_2