Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-80 Denica Faresh.


__ADS_3

"Mass!!! Tolong kami ambilkan diapernya Dedek!"


"Iya Sayang."


Seminggu telah berlalu, putri ketiga Dendy yang ia beri nama Denica Faresh yang merupakan gabungan dari namanya dan Tica. Bayi kecil itu tumbuh dengan baik, nutrisi dan semua kebutuhannya dicukupi oleh Dendy.


Semenjak lahirnya baby Nini, Tica mulai sibuk dengan mengurus ketiga anaknya terlebih Wila tengah cuti selama satu Minggu ini dan akan kembali besok pagi. Di pagi hari, Tica akan mengurus putri mereka hingga siang hari nanti putrinya tidur siang, setelahnya ia akan mengurus si kembar dengan segala keriwuhan si kembar yang begitu aktif dan membutuhkan pengawasan lebih. Hingga malam hari, barulah Tica bisa mengurus dirinya sendiri dna setelah menidurkan ketiga anaknya, barulah Tica bisa bernafas lega dan tidur dengan nyenyak karena tubuhnya sudah lelah.


Begitupun dengan Dendy yang sesekali akan membantu istrinya, tetapi ia juga sibuk dengan segala urusannya di kantor, demi membantu Istrinya Dendy harus rela meninggalkan pekerjaannya di kantor dan pulang ke mansion lebih awal kemudian ia akan kembali bekerja setelah larut malam saat semua keluarga tertidur lelap. Tidak pernah sekalipun pria itu mengeluh walau jujur dirinya lelah setelah seharian bekerja, ia lebih kasihan melihat istrinya yang sama sekali tidak bisa bernafas lega sebelum ketiga anak mereka tidur.


"Apa aku perlu merekrut baby sitter yang baru, Sayang?" Tanya Dendy menatap sang istri yang tengah berusaha menidurkan Denica yang baru saja selesai diganti diaper dan Dendy yang tengah duduk selonjor di ranjang memangku laptop untuk mengecek laporan-laporan yang masuk ke email-nya.


"Tidak perlu, Mas. Wila akan kembali besok, aku bisa tanpa siapapun. Kamu tahu kalau aku senang bisa mengurus anak-anakku dengan tenaga dan peluhku sendiri karena ini akan menjadi momen indah ketika kelak mereka sudah besar dna kita tidak lagi bisa memperlakukan mereka selayaknya bayi kecil."


"Aku bangga padamu, Sayang! Walau kamu lelah, kamu masih bisa melayani aku di malam hari jika aku menginginkan itu." Dendy beranjak, ia rengkuh tubuh sang istri dari belakang, dikecupnya ceruk leher istrinya, aroma lavender itu begitu menyeruak di penciuman Dendy sungguh membuat Dendy terbuai.


"Itu sudah menjadi kewajibanku agar kamu tidak berpaling hati!" Tica melirik suaminya, ia tetap menggendong sang putri yang tengah mengemut ASI-nya. Bayi kecil itu nampak lebih bersinar, kulit yang sebelumnya merah kini berubah menjadi putih bersih mirip dengan warna kulit Dendy. Wajah yang sebelumnya begitu kecil, kini mulai menggempal karena selalu rutin meminum asi sang ibu. Hidung bayi kecil itu juga perlahan meruncing sangat persis dengan milik Dendy.


"Dia memang putriku! Lihatlah, wajah ini adalah wajahku dalam versi wanita. Hahaha...." Dendy terkekeh kecil seraya mengelus pipi bulat Denica dengan jari jempolnya, Baby Denica tetap tenang menyedot ASI-nya tanpa menghiraukan usapan Dendy di pipinya.


"Dia memang kembaran kamu, Mas! Kalau engga mirip takut engga diakui anak kamu nanti, ya kan Sayang? Takut engga diakui anak sama Daddy, iya?" Tica mencandai Putrinya yang masih tertidur lelap.


"Engga dong! Aku malah berharap putri kita akan mirip kamu, karena aku sudah dapat jatah dari si kembar. Eh ternyata mirip aku, mirip siapapun Daddy tetap bersyukur, asalkan kalian berdua sehat dan selamat."


"Terimakasih Daddy tampan!"


"Mas?"

__ADS_1


Deg!


Dendy menoleh ke arah suara dari belakang tubuhnya. Itu bukan suara istrinya, melainkan suara Evan yang sedari tadi berada di ambang pintu membawa sebuah lukisan kesukaannya, wajah tampan yang baru saja bangun dari tidurnya itu nampak berantakan. Rambut acak-acakan dengan wajah yang masih bau bantal, Dendy menggendong sang putra seraya Ethan yang ia taruh di kanan dan Evan di kiri.


"Siapa yang mengajari kalian untuk memanggil Daddy dengan sebutan itu?" Dendy menatap menyelidik pada kedua putra tampannya yang sangat nakal itu. Wajah itu memang menggemaskan, berbeda dengan kelakuannya yang begitu nakal, tetapi melihat wajah itu membuat Dendy tidak sampai hati untuk memarahi kedua batita yang sudah bisa berjalan itu.


"Mas, aku taruh dedek di box dulu." Tica melenggang ke arah box bayi yang terletak tidak jauh dari ranjangnya. Perlahan ia meletakkan bayi mungil yang sudah tertidur lelap itu ke dalam boxnya.


"Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaan Daddy? Jujur, siapa yang mengajari kalian memanggil Daddy dengan sebutan itu?"


"Bubu..." Sahut Evan spontan membuat Tica mendelik tajam, ia bahkan sama sekali tidak pernah mengajari putranya untuk itu.


"Tidak! Bubu tidak pernah mengajari kalian seperti itu! Apa kalian meniru Bubu?"


"Yess!" Sahut Evan dan Ethan dengan wajah menggemaskan puppy eyes dan pipi yang dikembangkan seraya meminta belas kasih sang Daddy agar tidak memarahi mereka. Sungguh bayi yang begitu cerdik!


"Yes Daddyh!"


"Sekarang kalian mandi sama Daddy yah, Bubu mau menyiapkan baju dan perlengkapan kalian. Setelah itu kalian makan sama bibi yah."


"Yess Bubu!"


"Meluncur!!!"


"Hihihi..."


Kedua batita itu tekikik senang saat Dendy membawa mereka dengan menggendong seperti posisi pesawat terbang, hingga nampaklah gigi putih yang mulai tumbuh di gusi merah Evan dan Ethan. Tica menggeleng kepala tidak heran, Dendy memang selalu suka bercanda dengan kedua putranya, Tica sesekali akan terkekeh ikut bahagia jika keluarga kecilnya bahagia.

__ADS_1


"Bibi, tolong katakan pada koki untuk segera menyiapkan makanan si kembar."


"Baik Nyonya. Apa Anda juga hendak makan? Sarapannya sudah siap hanya tinggal dihangatkan."


"Iya Bi boleh, tolong dihangatkan juga ya."


Pelayan itu mengangguk tersenyum, ia begitu bersyukur memiliki majikan sebaik Tica. Bahkan kini mereka diperbolehkan untuk beristirahat di hari Minggu dan mengunjungi keluarga mereka kemudian kembali ke mansion di hari Senin. Tica juga memperlakukan mereka begitu baik, bahkan Tica selalu menganggap mereka selayaknya anggota dari keluarganya.


Tica pun menyiapkan baju-baju yang akan dipakai oleh si kembar. Tica memang selalu membelikan baju kembar, agar kedua batita tampan itu nampak semakin tampan dan serasi juga menggemaskan untuk dipandang.


"Selesai akhirnya!"


"Dad, kamu mandi aja dulu, si kembar biar aku yang urus. Sebentar lagi aku akan mandi dan kamu tolong pegang si kembar, setelah aku mandi kita akan sarapan, hmm?"


"Siap, Sayang!"


Tica memang harus pintar membagi waktunya untuk mengurus dirinya sendiri, suami dan anak-anaknya. Mereka harus membagi waktu untuk anak-anaknya, agar tidak ada yang merasa terasingkan dan ketiga anaknya mendapatkan kasih sayang cukup dari kedua orangtuanya.


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


Vote like and komennya yah.


__ADS_2