Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-46 Secercah Informasi.


__ADS_3

Di pedesaan yang dingin nan hijau yang terpampang di berbagai sudut begitu menyejukkan. Dendy, Tica dan Jerry tiba setelah 2 jam perjalanan melewati berbagai tanjakan dan juga aksi-aksi menyeramkan tadi yang telah dibereskan oleh anggota Dendy agar murni terlihat seperti kecelakaan tunggal karena kesalahan pengemudi itu sendiri.


Jerry berdiri tepat di depan pintu rumah kedua orang tua dokter Karmila bersiap hendak mengetuk pintu kokoh yang terbuat dari kayu jati asli dengan bercorak flora itu. Tica dan Dendy tetap di posisi masing-masing mulai memasang badan untuk melakukan apa yang telah menjadi rencana mereka tadi.


Tok tok tok.


Krek.


Pintu terbuka ke dalam hingga keluar sepasang suami istri yang tidak lagi muda nampak saling mencintai dengan sang istri yang selalu memegang erat lengan suaminya. Mereka berdua mempersilahkan duduk tamu mereka itu, yang mereka ketahui adalah orang yang sama kembali datang setelah diusir.


"Selamat siang, Nyonya dan Tuan!" Ujar Tica menyapa dengan bahasa Inggris pada kedua orang tua itu.


"Siang Nona, bukankah kemarin kami sudah mengusir kalian? Kenapa kalian kembali lagi dan lagi?" Suara dingin menyeruak terlontar dari bibir pria tua itu yang masih setia merangkul mesra sang istri dan mereka nampak saling mencintai dengan menggandeng pasangannya.


"Hiks...hiks... Kami mohon Nyonya, bantulah kami." Tica mulai berusaha menghayati rencananya kali ini. Apa yang telah menjadi bagiannya harus ia kerjakan dengan sebaik mungkin, ia harus bisa menggait simpatik kedua orang tua itu agar mereka bisa mengulik informasi dari kedua orang tua itu.


"Apa maksud kalian?"


"Tolong kami Nyonya, istri saya merasa sangat tertekan karena kedua putra kami hilang. Sampai saat ini masih belum ditemukan keberadaannya." Dendy menambahkan dengan beberapa kalimat lebih menohok lagi, walaupun dengan sedikit dilebih-lebihkan.


Deg.


Seketika raut wajah wanita tua itu berubah pias seakan memikirkan sesuatu yang begitu menyayat hatinya. Wajah keriput itu yang masih terlihat cantik walau sudah tidak lagi kencang dan mulus menatap menghiba pada suaminya yang tetap menggelengkan kepala pertanda tidak mau rahasia itu bocor.


"Wanita yang sama, wanita itu adalah yang menculik putri Anda dan juga menculik putra saya. Tegakah Anda membiarkan ini semua terjadi? Tidakkah Anda merasa sedih dengan berita ini, bayangkan saja jika kita hanya membiarkan ini terjadi tanpa bertindak apapun. Bayangkan, berapa banyak ibu lagi yang harus kehilangan anak mereka? Berapa banyak keluarga yang harus kehilangan anggotanya?


Anda adalah seorang ibu yang memiliki nurani. Saya yakin Nyonya, kebaikan hati Anda jauh lebih besar dari kejahatan yang Anda lakukan dengan menutupi semua rahasia itu dari publik. Kami mohon, Nyonya dan Tuan." Tica menatap menyendu seakan netranya jelas bertatap dengan netra hijau milik wanita tua itu.

__ADS_1


Wanita tua itu berkaca melihat betapa kasihannya wanita cantik yang kini tengah menatapnya dengan menghiba hanya untuk secercah informasi yang ingin ia sampaikan tetapi suaminya tetap kekeh untuk melarang dirinya agar tidak menyampaikan itu dan membahayakan nyawa putri mereka.


Pria tua itu beranjak, seakan menunjuk pintu dan mengatakan satu kalimat dengan intonasi yang begitu lugas dan tegas. Tubuhnya yang masih nampak kekar dan segar walau sudah lansia. Sangat meyakinkan bahwa pria itu mantan pria tampan saat ia masih muda atau saat dirinya masih lajang dulu.


"Keluar dari rumah kami!"


Tica terlonjak, begitu rapatnya mereka menyimpan rahasia yang sangat penting itu. Informasi yang dibutuhkan oleh Tica hanya bisa diberikan oleh kedua pasangan lansia itu lalu bagaimana ia akan pergi jika informasi itu masih belum ia dapatkan. Tica tidak akan pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan.


Gedebug!


Tica berlutut, ia benar-benar membungkuk di hadapan pria itu sembari menangis tersedu-sedu memohon agar mereka bisa membantu dengan memberikan sedikit informasi perihal keberadaan wanita itu. Karena sekuat apapun Dendy membayar orang hebat dan ahli untuk mencari keberadaan wanita psycho itu, tetapi hasil yang ia dapatkan sama sekali tidak jelas. Sepertinya wanita itu tinggal di posisi yang tidak bisa dijangkau jaringan internet.


"Pergi saya bilang!" Pria tua itu tidak mau menatap Tica, ia bukan orang kejam yang tega melihat seorang ibu hingga berlutut kepadanya hanya demi secercah informasi berharga itu.


Di tempat lain si kembar tengah disuntikkan sesuatu ke dalam cairan infus yang tertancap di kulit dua bayi tampan itu. Membuat mereka hanya tidur dalam satu hari penuh.


"Anakmu berada di tanganku! Aku akan kirimkan file ini sesegera mungkin, bahwa aku ingin semua hartanya untuk membalaskan apa yang telah ayahnya perbuat pada mendiang ayahku! Aku tidak akan membiarkanmu hidup dalam ketenangan! Kau harus merasakan penderitaan yang aku rasakan!" Wanita itu mengetik sebuah perjanjian di atas materai. Dimana bertuliskan jika Dendy ingin bayi-bayi itu kembali, maka Dendy harus menukarnya dengan harta yang ia miliki.


"Baik Nona, Boss!"


Ia tersenyum smirk, ternyata tidak sia-sia dirinya merencanakan semua ini demi membalas dendam masa lalunya. Dimana sang ayah harus bangkrut karena perbuatan ayah dari pria itu! Pria yang begitu ia benci bernama Dendy Faresh. Dan karena kebangkrutan itu, perlahan keluarganya mulai hancur.


"Saya mohon hiks..hiks.. Saya akan berikan apapun, asalkan kalian memberikan informasi itu! Saya juga seorang ibu yang mau putra saya ditemukan dalam keadaan selamat!" Tica masih saja kekeh dengan berlutut hingga dua tangan keriput yang membantu dirinya untuk bangun. Bukan pria tua itu, melainkan istrinya.


Yeah! Berhasil, ini baru permulaan! Sandiwara yang bagus, Tica!


"Kami akan memberitahukan kepada kalian, dengan satu syarat!"

__ADS_1


"Saya akan berusaha untuk memenuhi syarat yang Anda berikan dengan semampu saya, Nyonya!"


"Mah!"


"Biarkan saja Pah! Ini sudah keputusan Mamah, biarkan mereka tahu, aku juga seorang ibu yang tidak akan mampu melihat anak-anaknya terus terbelenggu dalam kubangan penderitaan!" Pria tua itu hanya bisa terdiam membisu melihat tindakan istrinya.


Wanita itu duduk kembali pada tempatnya seraya meminta semuanya untuk duduk tenang.


"Aku memiliki seorang putri bernama Karmila, wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter. Dia bekerja selayaknya seorang dokter, hingga pada suatu hari dirinya memiliki keinginan untuk membuka klinik sendiri. Tetapi ia tidak lulus untuk membuat perizinan membangun klinikya sendiri. Hingga ia bertekad membangun sebuah klinik ilegal dan pasien pertamanya adalah seorang penjahat yang telah berjanji akan membantu putriku untuk mendapat izin resmi pemerintah.


Wanita itu mengaku dirinya adalah seorang anak dari salah satu pejabat tersohor. Dan dengan bodohnya putriku tertipu dengan mengiyakan permintaan wanita jahat itu. Putriku memberikan obat yang berbahaya dengan dosis tinggi pada wanita itu yang aku juga tidak tahu digunakan untuk apa oleh wanita itu.


Dan setelah beberapa bulan tahun, wanita jahat itu kembali dengan membawa segerombolan orang dan menahan putriku. Dia juga mengancamku kalau aku menyebarkan rahasia ini, dia akan membunuh putriku! Hiks...hiks..."


"Kalau saya boleh tahu, apa Anda tahu dimana wanita itu tinggal, Nyonya?"


"Tidak!"


Itu artinya, Dokter Karmila berada di genggaman wanita psycho itu! Sial, ini sangat rumit tetapi aku yakin, wanita itu membutuhkan sesuatu dari Dendy! Dan dengan begitu ia pasti akan datang dengan sendirinya untuk menghampiri Dendy. Kita lihat saja permainan dia selanjutnya. Aku merindukan putraku! Eth Ev, ibu datang, Nak!


.


.


.


.

__ADS_1


TBC!


Vote like and komennya yah.


__ADS_2