
Sepasang pasutri yang tengah mencoba untuk kembali membangun hubungan mereka yang sebelumnya telah hancur dilanda badai. Kini harus terbaring lemah di atas bangkar rumah sakit bahkan sebelum ikatan keduanya terbangun sempurna. Musibah kembali melanda dengan dinyatakannya Dendy koma karena kepalanya mengalami benturan yang keras belum lagi terkena puing-puing kaca yang pecah dan menancap di beberapa bagian kepala Dendy.
Sedangkan Tica, wanita yang sebenarnya belum sehat sepenuhnya itu kini tubuhnya terasa semakin remuk redam akibat kecelaan mobil yang menimpa mereka. Sedari kemarin, Tica terus saja diam termenung seakan jiwanya masih belum menerima kalau lelaki yang beberapa jam yang lalu tengah menggoda dirinya kini harus terbujur lemah di atas bangkar.
"Nyonya, makanlah dulu." Ujar Wila, kemarin Jerry lah yang mengantarkan Wila dan si kembar menuju ke rumah sakit. Dengan protokol kesehatan yang ketat karena batita tidak boleh masuk ke rumah sakit. Tetapi karena Tica memaksa, jadi ruangan Dendy telah disulap menjadi sebuah kamar yang nyaman dan aman untuk si kembar.
"Nanti saja, Wil. Anak-anak sudah tidur kan?" Sahut Tica lagi dan lagi menolak untuk makan. Entah kenapa nafsunya untuk makan seakan hilang.
"Iya Nyonya, ini sudah larut malam, sedari tadi Anda belum makan. Saya khawatir Anda bisa sakit." Wila begitu mengkhawatirkan wanita baik hati itu. Tica bahkan belum makan sesuap nasi pun sedari tadi pagi. Wila pun akhirnya tidak bisa memaksa, ia kembali dengan hampa seraya menggeleng pada Jerry yang tengah menjaga si kembar.
"Nyonya menolak!"
"Kasihan sekali Nyonya, Tuan. Kalau saya jadi beliau mungkin saya sudah menangis melihat suami saya terbujur lemah dan dinyatakan koma." Imbuh Wila menatap sendu kondisi Tica yang berantakan. Belum mandi sedari tadi pagi dan juga belum makan selain meminum air. Wanita berkulit putih bersih itu terus termenung menatap tubuh suaminya yang terpasang banyak alat medis di bagian kepala, tangan dan dada pria itu.
"Doakan saja mereka akan bersatu dalam cinta yang indah."
"Hmm!"
Saya janji akan segera menyelesaikan ini, Tuan. Dia sudah ada di tangan saya. Manusia tak bermoral itu, adalah suruhan dari wanita psychopath yang sangat Anda benci.
***
Di tempat lain, seorang wanita berpenampilan persis seperti bad girl. Ia menilik sebuah video dimana menampilkan kecelakaan yang telah ia rencanakan. Dan semuanya sukses sesuai dengan rencananya. Ia bahkan tertawa bahagia, dengan mudah bisa menghancurkan apapun yang ingin ia hancurkan.
"Kalian! Pastikan sopir itu sudah mati!" Sentaknya pada para bawahannya yang dengan spontan menyahut, "sopir itu telah tewas di tempat, Boss!"
Wanita berdarah psycho itu tersenyum smirk semuanya berjalan dengan cantik dan mulus tanpa hambatan. Menjalankan bisnis ilegal tak seburuk yang semua orang kira, lihatlah dia bahkan sangat menikmati pekerjaan sebagai pemasok benda-benda ilegal ke para mafia-mafia di luar sana.
"Sekarang, bagian wanita itu. Kalian pantau terus mereka jangan sampai ketinggalan informasi!"
"Baik Boss!"
***
Dua Minggu telah berlalu, namun kondisi Dendy sama sekali tidak ada perkembangan masih sama dengan sebelumnya. Setiap hari bahkan setiap saat Tica tidak mau pergi dari sisi pria itu.
Tittt tittt tittt.
Tiba-tiba saja sebuah komputer yang menunjukkan detakan jantung Dendy berbunyi nyaring, sontak Tica panik dan segera memencet tombol untuk memanggil dokter dan suster.
__ADS_1
"Dokter tolong suami saya, ta..tadi hiks..alatnya....berbunyi...hiks....!"
"Nyonya tenanglah, silahkan keluar! Kami akan segera menangani suami Anda sebaik mungkin!" Sahut dokter dan seorang suster menuntun Tica keluar ruangan.
Dokter pun segera melakukan tugasnya.
Tica berlari sembari menangis terus berlari menaiki tangga hingga sampai ke rooftop rumah sakit. Wanita itu meluruh ke lantai, jiwanya tidak sekuat itu untuk menerima kenyataan kini suaminya tengah kritis. Ia menangis meraung-raung di bawah guyuran hujan yang semakin deras, langit terus mengguyurkan airnya hingga suara teriakan dan tangisan Tica tersamarkan oleh suara hujan yang sangat lebat.
"Tidak Tuhan! Jangan ambil dia dariku, aku tak kuat. Aku tidak sekuat itu, aku mohon...hiks...hiks..." Raungannya tidak berhenti. Air matanya terus mengalir tanpa henti seakan jiwanya tengah goyah, bahkan Tica tidak lagi mempedulikan dirinya sendiri. Yang terpenting adalah suaminya.
"Kenapa? Kenapa setelah aku mulai kembali menerimanya, Engkau kembali menggoyahkan ikatan kami. Kenapa? Aku mohonnn...hiks...hiks..."
"DENDY FARESHHHH!!!"
Deg!
Titttt....
Jantung Dendy perlahan mulai bekerja dengan normal setelah dokter memberikan sedikit tekanan. Sepertinya pria itu tidak berniat bangun dari alam bawah sadarnya. Bahkan hingga dua Minggu lamanya, tidak ada perkembangan untuk kondisi Dendy.
Rooftop!
"Nyonya, dokter ingin berbicara dengan Anda."
"Katakan Jer, katakan kalau ini hanya mimpi! Katakan kalau suamiku baik-baik saja, suruh pria itu untuk bangun! Kalau tidak aku...aku akan menceraikannya! Hiks...hiks..."
"Nyonya, dokter tidak punya banyak waktu."
***
"Sistem saraf pasien tidak bekerja dengan baik akibat benturan tersebut. Dan akibatnya saraf tidak bisa memberikan sinyal pada tubuh untuk menguraikan lemak dengan baik. Akibatnya semua lemak menumpuk di dinding pembuluh arteri dan membutuhkan jalur operasi. Kami terpaksa harus menyingkirkan lemak-lemak itu dari jantung agar tidak mengganggu kinerja jantung.
Jika Nyonya bersedia kami melakukan tindakan operasi, silahkan tandatangani berkas ini, Nyonya."
"Berapa persen tingkat operasi akan berhasil."
"Kami hanya bisa mengatakan maksimal 50 persen. Dan kegagalan 50 persen."
"Apa akibatnya jika operasi ini gagal?"
__ADS_1
"Gagal jantung dan juga kematian."
Degg.
Bagaikan ditikam ribuan pisau tajam, Seketika Tica terdiam membisu. Haruskah ia menandatangani dokumen itu setelah mengetahui dampak yang akan terjadi jika operasi gagal.
"Apa tidak ada cara lain selain operasi?"
"Maaf Nyonya, operasi adalah satu-satunya cara. Agar Tuan Dendy bisa kembali sembuh. Dan sistem saraf dalam tubuhnya serta kinerja organ tubuhnya menjadi kembali normal."
"Kalau begitu, baiklah! Lakukan yang terbaik untuk suami saya."
"Pasti, Nyonya!"
Tica keluar dari ruangan dokter setelah menandatangani berkas itu. Berjalan dengan lunglai.
Jika aku tidak menandatangani berkas itu, selamanya suamiku akan terus sakit. Semoga keputusanku ini menjadi yang terbaik. Ya Tuhan, kali ini saja bantu aku.
Wanita itu sampai tepat di samping Dendy. Ia segera merebahkan kepalanya di dada bidang lelaki itu yang tertancap beberapa alat medis.
"Hiks...hiks... Kenapa kau sejahat ini? Kau tahu, aku tidak sekuat yang kau kira untuk menanggung semuanya sendiri. Aku butuh dirimu, anak-anak butuh dirimu, tidak bisakah kau bangun dari tidurmu! Secinta itukah kau pada alam bawah sadarmu! Bangun...hiks...hiks... Bangun aku bilang! Hiks...hiks.."
Tes
Air bening mengalir dari sudut mata pria itu. Ia masih bisa merasakan ini, kepedihan yang istrinya rasakan. Tetapi ia tidak berdaya, alam bawah sadarnya seakan menguncinya agar tidak bisa terbangun dan membuka katupan matanya.
.
.
.
.
TBC!
Vote like and komennya yah.
jujur agak kurang semangat klo engga ada yang komen n like. sehat-sehat ya guys stay safe and healthy.
__ADS_1