
Malam tiba dengan cepat, langit sudah mulai gelap dengan hanya bermodalkan sinar rembulan untuk menerangi bumi. Seorang wanita cantik yang rambutnya terurai memanjang berwarna merah itu kini tengah dilanda kebingungan, bagaimana caranya agar ia bisa menutupi luka di kaki kanannya yang masih basah itu agar suaminya tidak mengetahui.
"Bagaimana ini? Kaos kaki juga tidak bisa, ini akan menekan lukanya semakin dalam dan akan semakin memakan waktu lama untuk sembuh." Gumam Karmila penuh khawatir menatap luka yang masih berwarna merah darah itu, lukanya memang sakit tetapi sakit itu seakan tersamarkan akan rasa khawatir dan takut yang tengah melanda hati Karmila.
"Ah apa aku pakai celana panjang saja?" Ya, memakai celana panjang adalah ide bagus apalagi di malam hari sedikit lebih dingin hawanya, mungkin ia bisa beralasan kepada suaminya kalau dirinya kedinginan. Karmila mengambil sebuah celana panjang yang tidak begitu ketat agar tidak terlalu menekan lukanya. Dan perfect, penampilannya telah sempurna ia yakin suaminya tidak akan mengetahui alasan sebenarnya kenapa dia memakai celana panjang.
"Nyonya, Tuan sudah datang di bawah." Pelayan pribadi Karmila datang ke kamar membawa sebuah informasi bahwa Jerry telah sampai ke mansion dan jantung Karmila seketika berdegup kencang, ia harus berakting sebaik mungkin agar tidak tercium aroma kebohongan oleh Jerry.
"Ingat! Jangan katakan hal tadi pada suamiku!" Ancam Karmila.
"Baik Nyonya."
Karmila berpura-pura bermain gawainya di atas ranjang seraya menunggu suaminya sampai di kamar mereka. Pelayan pribadi Karmila sudah pergi ke bawah menemui Jerry, seperti biasa tanpa sepengetahuan Karmila, ia akan melaporkan semua kegiatan yang dilakukan oleh Karmila seharian ini. Ataupun semua kejadian yang telah terjadi selama sehari ini, walau Karmila mengancamnya, namun pelayan itu lebih takut pada Jerry.
"Kemana saja istriku seharian ini?" Tanya Jerry.
"Tadi Nyonya pergi ke taman, Tuan!" Sahutnya menunduk takut.
"Apa? Aku sudah melarangnya untuk pergi tetapi dia punya banyak nyali rupanya!" Geram Jerry, pelayan itu semakin menunduk ketakutan. Apalah daya, ia sudah mencoba melarang Karmila tetapi wanita itu bahkan tidak amu mendengarkan pelayan itu.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Tadi Nyonya terserempet motor, Tuan!"
Bruak! Jerry menggebrak meja dengan keras. Emosinya semakin meninggi kala mendengar penjelasan pelayan itu, ia segera menuju ke kamarnya dan mencoba untuk menanyakan hal yang telah diceritakan pelayan itu pada istrinya. Apakah Karmila akan berkata jujur atau justru menyembunyikan hal ini darinya.
"Honey?"
"Hmm?"
Karmila memeluk suaminya dari belakang seraya Jerry yang hanya diam. Tetapi feelingnya mengatakan kalau wanita itu tidak akan berkata jujur, Jerry mencoba untuk menahan emosinya dan sebisa mungkin berbicara selembut biasanya pada Karmila.
"Sayang, boleh aku bertanya?"
"Tentu, Honey!" Sahut Karmila.
Jerry mengurai pelukan istrinya, ia menatap netra abu itu dengan intens seraya mencari kebohongan di sana atas jawaban yang akan diberikan oleh Karmila sebentar lagi.
"Apakah kamu keluar rumah tadi?" Tanya Jerry menatap menyelidik pada istrinya yang ia bisa lihat mulai gugup. Wanita itu mulai gugup dengan keringat dingin yang mulai keluar dari permukaan dahi sang istri, Jerry semakin bertambah curiga.
__ADS_1
Karmila ingin jujur, tetapi pikirannya mengatakan tidak. Jika ia jujur, suaminya pasti akan marah besar apalagi sampai mengetahui kejadian tadi siang, Karmila harus menyembunyikan ini.
"Eng...engga kok, Honey." Gugupnya. Walau Jerry sudah menatap penuh curiga ke arah celana panjang yang dikenakan Karmila, tidak biasanya wanita itu mengenakan celana panjang di dalam rumah. Biasanya Karmila hanya akan mengenakan dress rumahan atau hotpant sebatas paha.
"Yakin kamu sudah jujur?"
"I..iya Honey."
Deg.
Seketika hati Jerry tersayat, tega sekali istrinya membohongi dirinya. Jerry melangkah keluar membiarkan istrinya berada di kamar. Tanpa berkata sepatah katapun, Karmila yang mengira Jerry akan ke ruang kerjanya pun hanya diam tanpa mengatakan apapun. Tanpa ia tahu kalau suaminya itu hendak tidur di kamar lain, Jerry ingin meredam emosinya ia tidak ingin sampai menyakiti suaminya.
"Tidurlah."
"Hmm!"
Karmila masih memainkan gawainya menunggu suaminya kembali. Sudah beberapa menit berlalu tetapi suaminya belum kembali juga membuat wanita hamil itu berinisiatif untuk menyusul Jerry di ruang kerjanya.
"Loh kemana dia?" Heran Karmila saat masuk ke dalam ruang kerja Jerry, tidak ada siapapun di dalam ruangan itu. Ruangan itu hanya hampa terdengar suara hembusan Air conditioner di dalam dengan berkas-berkas Jerry yang masih tertata rapi belum tersentuh. Lalu kemana suaminya itu?
"Anda mencari siapa, Nyonya?"
"Ish, kau ini mengagetkan aku saja."
"Tadi saya melihat Tuan Jerry turun ke kamar tamu di bawah."
"Kamar tamu?"
"Iya Nyonya."
"Baiklah."
Karmila turun perlahan melewati tangga menuju lantai dasar. Ia juga terheran-heran kenapa suaminya masuk ke kamar tamu? Tidak mungkinkan pria itu lebih memilih tidur di kama tamu daripada tidur bersama istrinya? Hanya Jerry lah yang bisa menjawab semua pertanyaan yang berdongkol di benaknya.
Tok tok tok.
"Honey?" Karmila mengetuk pintu seraya memanggil suaminya. Tidak sahutan dari dalam, namun setelah beberao detik pimfu terbuka nampaklah Jerry yang tengah berdiri membukakan pintu dengan pakaian yang masih belum berganti.
"Hmm?" Sahut Jerry dengan suara datarnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Kenapa tidur di sini?" Ia masuk ke dalam kamar tamu bersama Jerry, Karmila duduk di sebelah Jerry sembari menangkup wajah suaminya.
"Aku tidak apa-apa. Bisakah kamu meninggalkan aku sendiri malam ini? Aku ingin tidur sendiri."
"Ha? Tidak biasanya kamu memilih tidur sendiri. Apa ada masalah, hmm?" Karmila bisa melihat dari wajah suaminya yang seperti kurang enak dipandang. Wajah itu seakan tengah meredam suatu emosi, merah padam dengan rambut berantakan dan kancing kemeja yang terbuka beberapa bagian di atas.
"Sudahlah, Karmila."
"Honey? Aku benar-benar tidak paham, katakan apa masalahmu. Jangan membuat aku khawatir seperti ini."
"Masalahku ada di kamu?" Seketika Karmila mengernyitkan dahi merasa bingung.
"Maksud kamu, Honey?"
"Masalahnya ada pada ketidak jujuran kamu!"
Deg.
Karmila paham sekarang kemana arah pembicaraan suaminya.
"Apa kamu pikir aku tidak tahu semua yang menimpamu hari ini? Apa sesulit itu untuk mematuhi semua perkataanku, aku lelah Karmila. Jika kamu tidak bisa menghormati aku sebagai suamimu, lalu apa gunanya aku di sini? Lebih baik aku pergi dari mansion ini!"
"Tidak! Jangan pergi, baiklah maafkan aku. Aku...aku bersalah, hiks. Jangan pergi, Honey." Karmila menangis merengkuh suaminya erat tidak membiarkan suaminya untuk pergi.
"Heuh, berjanjilah kamu tidak akan melanggar lagi."
"Aku janji, Honey..hiks..hiks.."
"Tunjukkan dimana kamu terluka?"
Karmila menunjukkan bagian kakinya yang terluka dan Jerry mengobati kembali.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
Vote like and komennya yah.