Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-8 Angeline?


__ADS_3

"Tanggung jawab!"


Merasa terdesak, wanita bar-bar itu tentu kesal. Padahal tadi dirinya juga tidak sengaja menyentuh benda milik Dendy, namun dirinya disalahkan seolah ia telah mematahkan benda itu.


"Bodoamat!"


Ketus Tica, setelahnya wanita itu beranjak dari ranjang. Ia keluar dari kamar tanpa memperdulikan Dendy yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Namun, Tica baru menyadari satu hal, pakaiannya sudah berganti. Siapa yang berani mengganti pakaiannya tanpa seizinnya? Pikir wanita itu.


"Siapa yang mengganti pakaianku? Apa dia?"


Membayangkan Dendy mengganti pakaiannya, membuat wajah Tica merona merah. Seketika pikirannya berkeliaran kemana-mana, apa tadi dirinya dan Dendy telah melakukan hal itu. Apa pria itu menyentuhnya? Ia juga tidak tahu, namun ia harus segera mempertanyakan hal ini.


Tica memasak, hanya menu makan malam sederhana. Mie instant dan telur ceplok, wanita itu semenjak hamil gemar memakan yang namanya telur ceplok. Namun entah mengapa hari ini ia ingin memadukan telur ceplok dengan mie instant.


"Jangan makan mie instan, ini tidak baik untuk pertumbuhan anakku!"


Dendy yang melihat wanita itu hendak melahap mie tidak sehat itu, langsung menyingkirkan makanan berlemak tinggi yang berbentuk keriting itu.


"Nyenyenye!"


Tica berusaha kembali menjangkau mie yang diangkat tinggi oleh Dendy. Dengan wajah yang menyebalkan karena tidak bisa menggapai mie yang sangat diinginkannya itu.


"Ayolah, aku tidak bercanda, aku benar-benar menginginkan mie itu."


Kali ini wanita itu tidak lagi berbicara formal, mungkin ia lelah berbicara formal. Akhirnya, Tica menyerah seolah hari ini moodnya hanya untuk makan mie instan itu. Namun dengan teganya Dendy merebut mie itu dari tangannya.


"Tidak!"


"Kau memang jahat! Aku hanya ingin mie, toh aku membuatnya sendiri kan? Bukan menyusahkanmu!"


Wanita itu langsung pergi berlari ke arah kamarnya. Ia masuk dan mengunci pintu kamarnya, ia menangis seraya menyandarkan tubuhnya di pintu. Ia tidak tahu, semenjak hamil moodnya sering berubah-ubah. Terkadang ia akan marah hanya karena hal kecil atau menangis. Ia juga tidak paham, karena tiba-tiba dirinya menginginkan makanan yang dulu tidak ia sukai.


"Kenapa dengannya?''

__ADS_1


Dendy hanya heran, kenapa tiba-tiba Tica berulah seolah Dendy mengambil semua hartanya. Padahal Dendy hanya melarangnya untuk memakan mie yang tidak baik untuk kesehatan itu.


Namun tiba-tiba, Tica membawa sebuah bantal keluar. Ia melempar bantal itu ke arah Dendy yang masih terbengong di depan pintu kamar.


"Tidur di luar!"


Bruakk!


Wanita itu langsung menutup pintu kamar dengan kerasnya. Hingga Dendy terlonjak kaget. Entah apa maksud Tica, yang mengusir Dendy dari kamarnya sendiri.


"Hey Bar-bar! Kenapa kau malah mengusirku dari kamarku sendiri?"


Dendy yang merasa kesal akan perlakuan semena-mena Tica, akhirnya angkat bicara. Baru kali pertama ia merasakan rasanya di usir. Bahkan seumur hidup tidak ada yang berani walaupun hanya memelototi dirinya. Namun dengan terangnya wanita yang baru masuk ke dalam hidupnya itu mengusir bahkan melempar wajah seorang Dendy Faresh dengan sebuah bantal.


"Tidur di luar, sekarang kamar ini sudah beralih kepemilikan! Menjadi milik Tica Maharani seorang."


"Hey! Dasar tidak tahu diri, kau ini menumpang di apartemen-ku!"


"Sial! Wanita ini benar-benar menguras emosi!"


Dengan langkah gontai, pria yang tengah kesal setengah hidup itu akhirnya melangkah ke arah sofa.


Karena kamar di apartemennya hanya ada satu. Bayangkan saja, di apartemen sebagus dan secanggih itu hanya ada satu ruang untuk kamar.


Karena Dendy memang bukan tipikal orang yang suka menampung orang lain di apartemennya. Ia tidak mau ada orang yang mengganggu privasinya. Jadi pria itu sengaja hanya membuat satu ruang untuk kamar, sedangkan ruangan lain ia jadikan gym, bioskop mini, bar dan juga satu kamar rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun.


"Lebih baik aku ke sana!"


Dendy melangkah menuju bar minimalis. Ia minum sepuasnya, malam ini ia ingin melampiaskan semua kepenatan batinnya. Ia tidak memiliki tempat untuk bercerita, pria itu terlalu tertutup.


Setelah meneguk dua botol alkohol, kesadarannya mulai terenggut. Dendy mulai meracau tidak jelas, entah perihal apa tidak ada yang tahu. Namun, pria itu keluar dari bar melangkah menuju sebuah ruangan yang sedikit tersembunyi, letaknya berada di pojok di sebelah dapur. Bahkan pintu ruangan itu dibuat menjadi transparan, cat yang digunakan sama seperti cat dinding. Jadi, jika dilihat sekilas pintu itu tidak akan nampak. Namun jika dilihat dari dekat dan detail pintu itu baru akan nampak.


Dendy masuk, namun bodohnya pria yang tengah setengah mabuk itu tidak menutup pintu kembali.

__ADS_1


Ruangan yang terlihat berwarna berbeda dari ruangan lainnya, yaitu blue sky. Banyak foto-foto tertempel pada dinding ruangan, dari yang berukuran kecil sampai yang berukuran besar. Dan juga ada sebuah vas bunga yang berisi bunga tulip. Ruangan itu nampak begitu rapih, ada beberapa benda seperti kaset dan juga sebuah dress cantik. Dan juga ada sebuah kotak yang berisikan cincin berinisial 'D' dan juga 'A'


"Kenapa kau tidak kembali? Kau sudah berjanji akan kembali kan? Aku menunggumu, Angeline!"


"Akhhh! Hiks... Hiks..."


Inilah sisi seorang Dendy yang tidak diketahui semua orang. Setiap hari ia menangis di malam hari, melihat semua kenangan manis yang tersimpan bersama wanita spesial dalam hidupnya itu. Yang tidak lain adalah mantan kekasihnya. Pria itu jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin, ia terlihat frustasi dengan menjambak kasar rambutnya sendiri.


Dendy terus berlarut dalam dunianya sendiri. Hingga tanpa ia sadari, seorang wanita tengah berdiri di ambang pintu ruangan itu dengan wajah yang juga basah karena lelehan air mata. Wanita itu heran, kemana suaminya pergi, namun ia justru tidak sengaja mendengar semua yang Dendy katakan tadi. Betapa sakitnya hati wanita itu menyangka bahwa dirinya adalah perusak hubungan Dendy dan mantan kekasihnya. Pasti pria itu sangat sedih karena harus menikahi dirinya, yang jelas-jelas bukan wanita yang diharapkan Dendy.


"Angeline?"


Gumam wanita itu, ia meremat kain piyamanya. Wanita itu melangkah menuju ke arah Dendy. Jujur hatinya begitu sakit mendengar semua perkataan Dendy, ia kecewa, namun entah pada siapa.


Cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, wanita itu sadar, seorang Dendy Faresh tidak mungkin mencintai wanita bar-bar seperti dirinya. Ia juga sadar diri, maka dari itu ia tidak terlalu berharap lebih kepada Dendy. Pria dingin yang tidak tersentuh itu.


Wanita itu menghela napas pelan dan mengusap bekas air matanya. Kemudian membantu Dendy untuk berdiri.


"Bangunlah!"


Deggg.


.


.


.


.


TBC!


Vote like and komennya yah.

__ADS_1


__ADS_2