
"Angkat tangan kalian!" Suara seorang angkatan polisi mengudara dengan begitu lugas dan tegas seakan mengisyaratkan semua orang yang ada di dalam gudang itu untuk diam tanpa ada gerakan selain tarikan nafas dan kedipan mata.
Deg.
Sontak wanita psycho dan para anggotanya itu mendelik lebar melihat ada beberapa satuan polisi yang telah bersiap sedia dengan seragam lengkap beserta senjata resmi yang menempel di pinggang mereka yang kini tengah ditodongkan pada para panjahat.
Sial! Kenapa banyak Anggita berwajib di sini? Aku dijebak oleh pria sialan ini! Akh!
Para anggota berwajib segera memegang setiap anggota dan wanita psycho itu dengan menyematkan satu borgol di kedua tangan mereka agar tidak bisa berkutik. Dendy tersenyum penuh kemenangan, sekarang anggota berwajib telah memiliki bukti dengan mata kepala mereka sendiri.
"Tuan Dendy, terimakasih atas bukti yang sangat membantu ini. Mereka telah banyak melawan aturan hukum dengan ini salah satunya yaitu pembunuhan berencana! Akan segera kami tindak lanjuti untuk setiap anggota!" Ujar salah seorang komandan anggota berwajib. Jerry yang baru saja tiba, segera memberikan semua bukti yang telah ia dapat salah satunya adalah rekaman suara milik Dokter Nicholas yang direkam oleh Dendy beberapa waktu lalu.
"Sama-sama Pak! Tolong tanyakan padanya dimana dia menyekap seorang dokter yang bernama Karmila." Sahut Dendy seraya turun dari bangkar melihat kekalahan musuhnya yang begitu telak. Tidak akan bisa mengelak lagi karena ditonton langsung oleh satuan polisi, Dendy akan membuat hukuman mereka menjadi lebih berat dengan menyewa seorang pengacara berkelas untuk membantunya memperberat kasus wanita psycho itu.
"Ingatlah! Angeline Xarvero bahwa kau tidak akan bisa menang melawanku! Karena sampai kapanpun kejahatan hanya akan mendapatkan kekalahan dengan berbagai kepedihan yang akan kau tanggung sendiri di dalam kelamnya sel tahanan!" Dendy berbicara tepat di hadapan Angeline yang hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apapun karena kini dirinya tidak berdaya dengan borgol yang telah mengikat tangannya.
"Sialan! Akan aku balas kau, kau dan ayahmu itu sama-sama sialan! Perusak! Pengganggu!"
"Kini giliran aku yang akan tertawa! Hahaha...." Dendy dengan sengaja mengeraskan suara tawanya di depan wanita itu hingga gigi Angeline hampir saja patah karena geram pada Dendy yang hanya tertawa santai tanpa beban.
"Pak, saya sudah memproses semua bukti yang ada di kantor kepolisian!" Jerry dengan santainya mengerlingkan sebelah matanya pada Angeline hingga wanita itu hanya melengos menahan geram. Ia menganggap ini bukanlah kekalahan sesungguhnya, ia akan kembali dengan pembalasan yang jauh lebih dahsyat dari ini.
"Baiklah Tuan-tuan, kamu permisi dan sekali lagi kami mengucapkan banyak terimakasih dalam partisipasi Anda dalam menumpas kriminal ini." Dan semua anggota berwajib itu masuk ke dalam mobilnya dengan menggeret semua calon tahanan itu untuk masuk agar segera di interogasi.
"Kerja bagus, Jer!" Ujar Dendy seraya duduk di bangku sebelah kemudi dengan Jerry yang hanya mengangguk merasakan kepuasan setelah menyelesaikan semua masalah yang memberatkan bebannya ini. Baginya menyelidiki masalah adalah hal yang sedikit menantang adrenalin terlebih jika atasannya seperti Dendy yang super duper galak kini telah memujinya.
"Saya suka hal yang menantang adrenalin, Tuan! Jadi serahkan saja semua masalah pada..."
__ADS_1
"Padamu? Kau tidak keberatan jika aku menyerahkan semua masalah padamu!"
Heh! Enak saja, Anda kan banyak uangnya kenapa memilih saya yang tidak dibayar!
"Jangan memotong ucapan seseorang, Tuan! Maksud saya serahkan saja pada ahlinya! Kalau Anda memiliki masalah hukum silahkan serahkan pada pengacara." Ujar Jerry seketika langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Dendy yang membuat Jerry bergidik entah kenapa aura intimidasi Tuan Brydan sepertinya sudah diturunkan pada Dendy. Dan ia berdoa semoga tuan mudanya yang masih kecil itu tidak akan menjadi seperti ayahnya. Walau itu mustahil. Karena anak akan menjadi seperti orang tua entah itu sifat atau rupa, sedikit banyak pasti akan menurun.
"Beraninya kau!"
***
"Sayang!!" Dendy datang dengan kebahagiaan yang amat melambung setelah terselesaikannya masalah ini. Itu artinya anak beserta istrinya telah aman untuk berkeliaran di negara ini tanpa khawatir akan terjadi hal buruk.
"Sayang!" Sedari tadi Dendy berteriak hingga dirinya sampai di ruang tamu dan melihat sang istri tengah memeluk seseorang pria yang bergestur mirip dengan rivalnya.
"Tica!!"
"Beraninya kau memeluk istriku!" Geramnya menatap Recaz dengan tajam. Entah bagaimana pria itu bisa tahu mansionnya dan siapa yang mengizinkannya untuk masuk ke dalam mansion. Hatinya seketika mendidih menyaksikan acara pelukan yang baginya adalah pengkhianatan itu.
"Sayang, Mas aku bisa jelasin. Sudahlah!"
Tica mencoba menengahi kedua orang yang selalu saja bertengkar kapanpun dan di manapun mereka bertemu.
"Kamu juga! Apa kamu sejahat itu sampai tega mengkhianati aku dengan berpelukan dengan lelaki lain di mansionku! Ingat kamu itu udah punya anak punya suami juga!"
Recaz hanya diam menyaksikan perdebatan suami istri itu. Dengan suaminya yang selalu saja menangkap segala sesuatu dengan instant tanpa berpikir panjang atau mendengarkan penjelasan orang lain yang lebih tahu. Dan istrinya yang keras kepala selalu saja benar, karena sesungguhnya wanita adalah yang selalu benar.
"Diam!"
__ADS_1
"Kamu itu baru datang udah bikin ribut! Recaz itu sepupu aku, Mas! Makanya kalau ada orang ngomong itu dengerin dulu jangan main bentak!"
"Maksudnya?"
"Jadi ibu Recaz dan ibuku itu ternyata adalah saudara kembar yang terpisah setelah sekian tahun lamanya dan baru saja bertemu! Recaz yang menyelidiki ini semua, kamu tahu kenapa Recaz merekrut aku sebagai sekertaris? Karena dia ingin melihat kemiripan wajahku dengan wajah adiknya dan ingin tahu lebih jauh tentang keluargaku dan dugaannya ternyata benar!"
"What? Aku tidak peduli, Sayang! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi istriku disentuh pria lain! Termasuk dia!"
"Cutt!" Recaz justru berteriak seakan-akan ini adalah sebuah shooting film.
"Ini bukan shooting film, Sialan!" Maki Dendy dengan sengaja melempar bantal kecil ke wajah Recaz.
"Haha... Anda panas saya puas!" Sahut Recaz dengan santainya semakin membuat Dendy menjadi geram bukan main. Ia segera memanggil penjaga pos satpam dan meminta security untuk menyeret pria itu keluar tetapi setelah itu ia harus bersiap untuk menerima kemarahan dari wanita cantiknya.
"Mass!"
"Sayang cape! Akhirnya masalahnya selesai!" Dendy berdalih segera memeluk tubuh istrinya yang lebih pendek darinya. Jika tidak begini, wanita itu bisa menelannya hidup-hidup terlebih Tica berbeda dari wanita lain yang lebih feminim. Tica bahkan bisa membanting preman bertubuh kekar, Dendy benar-benar tidak mau bernasib sama seperti para preman itu.
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
Vote like and komennya yah.