Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-29 Butuh pembuktian.


__ADS_3

"Apa kau ingat, saat kamu pingsan dan kita pergi ke rumah sakit? Dan aku pergi untuk menebus resep obat yang diberikan oleh Meysha, pada saat itulah aku bertemu dengan dokter itu."


Flashback On


Brak!


Berkas yang dibawa dokter pria yang terlihat sudah berumur setengah abad itu terjatuh berhamburan. Dendy yang pada saat itu melihat pun akhirnya terdorong untuk membantu dokter itu.


"Ah terimakasih, Tuan!"


"Sama-sama Dok."


Tiba-tiba Dokter itu tercengang kala melihat wajah pria yang baru saja menolongnya. Ia seperti mengingat pria tersebut, dirinya juga memiliki secercah ingatan mengenai pria tersebut dan Dokter itupun berpikir.


"Tetapi saya seperti tahu, apa benar Anda atas nama Tuan Dendy Faresh putra dari Mendiang Nyonya Amber?" Ujar Dokter Nicholas.


"Bagaimana Anda bisa tahu?" Dendy pun merasa heran, ia tidak pernah merasa kenal ataupun tahu dokter yang ia lihat bernama Nicholas itu.


"Dulu, saya adalah yang mengotopsi jenazah ibu Anda. Ya benar, saya ingat benar!" Sahut Nicholas dengan penuh keyakinan.


"Benarkah? Bisa Dokter ceritakan pada saya, ibu saya sebenarnya meninggal karena apa? Benarkah beliau meninggal karena sakit yang dideritanya?"


"Apakah saat itu Anda tidak diberitahu oleh seorang wanita muda yang membawa ibu Anda?"


"Tidak Dok! Saat itu saya berada di luar negeri untuk mengurus sesuatu."


"Ibu Anda meninggal karena overdosis. Setiap harinya beliau diberi obat yang terlalu tinggi dosisnya dan mengakibatkan jantungnya bermasalah. Sehingga nyawanya tak tertolong karena hal tersebut, Tuan."


Berhasil!


"Kalau boleh tahu, bagaimana ciri-ciri wanita itu?" Tanya Dendy untuk memastikan bahwa dugaannya benar.


"Masih muda dan segar dengan tinggi semampai dan kulit putih serta rambut blonde." Dokter Nicholas kembali mengingat kejadian saat itu, dimana wanita tersebut membawa ibu Dendy yang saat itu telah dalam kondisi sangat kritis.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, terimakasih Dok! Bisakah kita berfoto? Dan saya juga ingin meminta nomor telepon Anda, apakah boleh?"


"Tentu Tuan!"


Setelah bertukar nomo telepon dengan Dokter Nicholas, Dendy pun segera pergi untuk menebus resep vitamin untuk Tica.


***


"Jadi begitu, dan sejak saat itulah aku mulai menaruh curiga pada Angeline. Karena hanya dialah yang rutin memberikan obat untuk ibuku. Jadi aku menerima dia kembali bukan karena aku mencintai Angeline, tetapi karena inilah. Sekarang aku masih mencari dokter yang memberikan obat itu pada Angeline. Atau bisa dikatakan dokter yang bekerja sama dengan Angeline untuk membunuh ibuku."


"Dan kau pikir aku percaya tanpa bukti? Aku bukan orang bodoh, Dendy. Cukup sekali kau membodohi aku, tetapi aku tidak akan jatuh dalam lubang yang sama!!" Sarkas Tica, ia harus bisa dan ia harus mampu. Dirinya tidak mau menjadi bahan permainan Dendy, ia dan kedua putranya juga berhak hidup bahagia tanpa gangguan dari pria itu.


"Baiklah, akan aku tunjukkan di pengadilan nanti. Bisakah kau menetap di Indonesia saja? Di sana terlalu berbahaya untukmu!"


Dendy menatap memohon pada Tica, namun Tica tetaplah Tica. Selama menurut Tica itu baik dan pantas dilakukan, maka ia akan melakukannya dan tidak ada seorangpun yang bisa mengubah keputusannya. Tica adalah sosok keras kepala, wanita itu tak mudah untuk mempercayai perkataan orang lain terlebih lagi orang yang telah menyakitinya.


"Aku mohon, Sayang. Aku memohon dengan segala kemurahan hatimu, berikan aku sekali lagi kesempatan. Aku ingin memperbaiki hubungan kita."


"Aku tak butuh hanya manis di mulut! Aku butuh pembuktian bukan hanya perkataan yang akan hilang jika bertemu orang baru yang lebih cantik dan mempesona. Dan aku akan tetap berangkat ke Amerika."


"Sayang, baiklah. Aku akan buktikan, pasti! Jika kau ke Amerika, maka aku juga akan ke sana karena aku tidak mau istri dan anak-anakku terluka."


"Terserah!"


Tica beranjak pergi dan meninggalkan Dendy sendiri. Ibu dan ayahnya masih di sawah melihat bibit-bibit tumbuhan yang akan ditanam dan mungkin akan tiba di sore hari. Jadi hari ini Tica memutuskan untuk membawa putranya jalan-jalan naik kereta dorong khusus untuk bayi kembar. Hadiah yang ia dapat dari sahabat karibnya, Nadya.


"Re, letakkan kedua putraku di sini." Recaz dan Jerry bergantian menaruh bayi tampan di kereta dorong.


"Tic, sampaikan salam pada ibu dan ayah. Aku akan kembali tiga hari lagi, mungkin kita akan berangkat seminggu lagi. Aku akan siapkan semua berkas keberangkatan kita!"


Kini tinggalah Tica dan Jerry beserta Dendy nampak berdiri di sebelah Tica.


"Pulanglah, aku ingin bersantai bersama kedua putraku!"

__ADS_1


"Kau mengusirku Sayang? Bisakah aku ikut?"


"Tidak!" Tica benar-benar keras, wanita cantik itu bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah Dendy.


"Baiklah, jaga diri baik-baik. Jaga putra kita, aku mencintai kalian!"


Cup!


Satu kecupan berhasil Dendy sematkan di kening Tica yang sontak membuat jantung Tica berhenti berdegup. Berani sekali pria itu mengecupnya di depan publik terlebih lagi kondisi mereka yang sedang tidak baik-baik saja.


"Dasar buaya!"


"Buaya tampan kan?"


"Pergi Brengsekk!"


"Baiklah, aku akan kembali besok. Jangan merindukanku, Daddy mencintai kalian!"


Cup! Cup!


Setelah Dendy pergi, Tica segera mendorong kereta bayi berjalan-jalan sekita desa. Sembari pikirannya yang terus terpusat pada apa yang diceritakan Dendy tadi perihal Dokter Nicholas dan ibu Dendy.


.


.


.


.


TBC!


Vote like and komennya yah.

__ADS_1


__ADS_2