
Sepasang suami istri yang begitu serasi itu baru saja bangun dari tidur mereka dan masih dalam posisi intim, dimana sang istri bersandar di dada kekar sang suami yang mencium pucuk kepala istrinya penuh cinta. Dendy yang memang tidak bekerja hari ini, memilih untuk menemani istrinya satu hari penuh dimana sebentar lagi wanita itu akan melahirkan dan hanya tinggal menunggu hari saja.
"Mas?"
"Iya Sayang?"
"Bagaimana kalau aku tidak bisa bertahan saat melahirkan..."
"Berhenti, Tica!" Suara dingin Dendy menyeruak di telinga Tica, Dendy merasa kesal beberapa kali istrinya selalu mengatakan hal yang membuat hatinya merasak sesak dan ia tidak bisa menerima hal itu, saat wanita itu pergi ke rumah orangtuanya saja Dendy sudah kalang kabut tidak karuan. Lalu bagaimana jika Tica sampai pergi selamanya? Dendy tidak akan bisa bertahan hidup di atas dunia tanpa wanita itu, tidak akan pernah bisa.
"Tapi Sayang, aku hanya mewanti-wanti jika hal itu terjadi, aku ingin kamu hidup bahagia bersama anak-anak."
Brak!
Dendy membanting handphone yang ia pegang ke lantai seraya berdiri meninggalkan Tica dan masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintu sekeras mungkin agar wanita itu menyadari akan ucapan yang ia katakan barusan. Dendy sama sekali tidak bisa menerima hal itu ketika istrinya mengatakan hal tersebut berulangkali.
"Mas?" Tica yang menyadari suaminya marah, seketika wanita itu terlonjak dan beranjak menuju kamar mandi menyusul suaminya yang sudah mandi di dalam terdengar suara percikan air dari shower. Perlahan Tica membuka pintu kamar mandi dengan kondisi tubuhnya yang sudah tidak memakai sehelai benang pun.
Dendy yang menyadari istrinya ikut bergabung, hanya diam masih melanjutkan mencuci rambutnya di bawah guyuran shower mengabaikan keberadaan istrinya yang mulai melangkah ke arahnya. Tica melingkarkan tangannya dari belakang tubuh suaminya, ia dapat merasakan perut kekar suaminya yan membentu petak-petak sawah, Dendy masih diam dengan gestur tubuhnya yang tegak seraya menyangga tubuh istrinya khawatir wanita itu terjatuh.
"Sayang?" Tica berucap lembut melukiskan bentuk-bentuk abstrak di perut suaminya dengan jari-jari lentiknya.
Dendy tidak menggubris perkataan istrinya, masih sibuk dengan membilas sisa shampoo yang masih ada di rambutnya seraya sang istri yang semakin menjadi menggodanya.
"Aku hanya mengatakan ini saja, bukan berarti aku akan pergi! Aku akan berusaha untuk kamu dan anak-anak kita, Sayang!"
"Diam!"
__ADS_1
"Tapi, jika aku benar-benar.."
"AKU BILANG DIAM, TICA!" Bentak Dendy dengan wajah menyala-nyala menatap netra gelap istrinya yang mulai berkaca ketakutan. Tica memang kerap kali menangis belakangan ini mungkin karena hormon kehamilan dan Dendy sudah terbiasa akan tangisan istrinya jika kemauannya tidak dituruti oleh Dendy.
"Kau akan melahirkan operasi! Tidak ada bantahan, jika kau membantah jangan berharap kau akan bertemu dengan anak kita nanti!"
"Apa maksudmu?" Tica menyahuti perkataan suaminya dengan spontan saat pria itu mengatakan bahwa Tica tidak akan bisa bertemu anaknya jika ia melahirkan tidak secara operasi.
"Aku mohon Tica, aku mohon lihatlah perasaanku! Kau pergi beberapa hari ke rumah ibu dan ayah, hatiku sudah tak karuan karena tidak ada dirimu saat aku tidur! Lalu bagaimana jika kamu pergi? Aku akan gila, aku tidak bisa, Tica! Jangan pernah katakan hal itu lagi, anak ini juga anakku dan aku berhak memberikan pendapatku! Aku ingin kamu melahirkan secara operasi." Dendy menjadi emosional, ia menggenggam tangan wanitanya dengan mata yang berkaca-kaca penuh kesedihan.
"Sayang...hiks...hiks... Maaf...maafkan..aku...hiks..hiks.." Tica memeluk erat tubuh Dendy, menangis tersedu-sedu terus bergumam kata maaf telah melakukan kesalahan. Ia telah bersalah dengan memandang dari sudut pandangnya saja tanpa mempedulikan perasaan suaminya dan kedua putra yang masih membutuhkan dirinya.
"Anak-anak masih butuh kamu, aku butuh kamu, aku mohon turuti aku sekali ini saja." Dendy tidak ingin marah ataupun melukai istrinya entah dengan sikap atau perkataannya, tetapi ia juga tidak bisa membiarkan wanita itu mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya demi lahir normal. Karena dokter sudah menyarankan untuk lahir operasi dengan berbagai kemungkinan yang tidak begitu beresiko.
"Iya Sayang, aku akan lahiran secara operasi sesuai saran dokter dan keinginan kamu." Tica merasa dirinya telah egois, ia memilih untuk lahiran normal tanpa memikirkan segala resiko yang dokter katakan padanya. Wanita itu menilik netra biru milik suaminya dan mengecup bibir itu perlahan.
"Mas, aww!!" Tica meringis dengan memegang perutnya.
"Ah engga perlu, Mas! Sakitnya udah hilang."
"Jangan bercanda, Sayang!"
"Aku beneran, udah aku mau mandi."
Selepas mandi, keduanya memakai piyama tidur yang senada dengan motif beruang lucu bercorak putih dan coklat. Sesi makan malam telah datang, Tica dan Dendy pun memakan makanan yang telah tersedia di meja makan setelahnya mereka bermain dengan si kembar di kamar si kembar bersama Wila yang juga berada di sana.
"Bubu...Daddyhh!!" Teriak Evan kegirangan saat orangtuanya datang ke kamar mereka. Dua anak tampan itu memakai jump sweet lucu yang senada di sandingkan dengan celana jeans untuk bayi kembar yang harganya sangat fantastis dengan brand ternama yang melekat.
__ADS_1
"Bubu...." Ethan turut menghampiri sang ibu dan berada di gendongan Tica seraya memeluk leher ibunya.
"Sayang turun, perut ibu sudah besar kalian tidak boleh gendong! Ayo ke sini bersama Daddy!"
"Why?" Tanya keduanya pada sang ayah yang menggiring mereka turun dari gendongan Tica. Jujur sebenarnya Tica masih kuat menggendong anaknya yang tidak begitu berat, tetapi Dendy melarang dengan alasan takut perutnya kenapa-napa.
"The baby will get hurt! Nanti adiknya sakit, kan di dalam perut ibu ada adik bayi. Et and Ev mau adik bayi kan?" Dan kedua bayi tampan itu mengangguk penuh semangat seraya mengelus perut Tica dengan tangan kecil mereka yang membuat Tica terkekeh kecil. Ia bersyukur karena Ethan dan Evan begitu menyayangi calon adik mereka, setiap malam calon Kakak itu akan mengucapkan selamat malam dan mencium perut sang ibu berharap sang adik akan merasakan kasih sayang mereka.
"Okey Daddy!" Sahut keduanya.
Mereka bermain penuh kegembiraan, tetapi tiba-tiba perut Tica begitu terasa melilit dan sakit itu tak kunjung pergi, Tica sudah mengira ia pasti akan melahirkan sontak Dendy segera meminta Wila untuk menjaga si kembar sedangkan ia segera mengambil semua perlengkapan istrinya dan membawa sang istri ke rumah sakit untuk dicek oleh dokter.
"Mari Nyonya, kita akan segera melakukan operasinya. Nyonya tidak perlu takut, ini sama sekali tidak akan terasa sakit!" Para suster dan perawat mendorong bangkar Tica menuju ruang bersalin dengan Dendy yang lebih memilih untuk menunggu di luar karena ia tidak akan kuat melihat istrinya kesakitan nanti.
"Aku mencintaimu, kamu harus kuat, hm??"
"Iya Mas!"
Cup!
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
Vote like and komennya yah.