Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-56 Bukan Dilanda Banjir.


__ADS_3

Brak!


Tica yang mendengar suara pintu digebrak sekeras itu sontak terkejut dan terbangun dari tidurnya hingga kepalanya sedikit berdenyut karena ia terbangun paksa terlebih setelah tidur siang yang begitu panjang. Ia melihat suaminya yang membawa kereta dorong milik putranya ke dalam dengan nafas memburu seakan baru saja dikejar kilat.


Hosh! Hosh! Hosh!


"Minum dulu, Mas?" Tica memberikan segelas air putih yang disediakan tadi dan Dendy meneguk air itu hingga tandas tanpa sisa dengan nafas yang perlahan mulai normal dan Tica pun berani bertanya apa yang terjadi hingga Dendy seperti orang yang dikejar depkolektor karena tidak membayar hutang tepat waktu?


"Ada apa, Mas? Kenapa kamu kaya orang dikejar penagih hutang?" Tanya Tica menuntun Dendy untuk duduk di ranjang seraya membaringkan si kembar di karpet bawah sana yang aman untuk batita.


"Aku ketemu banci, Sayang!!!" Ujarnya dengan raut wajah geli yang seakan tidak ingin lagi bertemu orang itu yang membuatnya sedikit panik bahkan lebih panik daripada dikejar anjing atau depkolektor.


"Banci? Maksud kamu banci yang mana?"


"Aku engga tahu siapa dia! Yang penting aku engga mau lagi ketemu dia! Titik!" Tegasnya penuh kewibawaan berbeda saat dirinya dikejar pria separuh wanita itu. Panik bukan main bahkan ia sampai sembarangan mendorong kereta bayi milik si kembar untung saja lobby dan kamarnya tidak begitu jauh.


Tok tok tok!


Tiba-tiba pintu kamar mereka ada yang mengetuk, Dendy menahan Tuca yang hendak membuka pintu. Sontak wanita cantik itu menyeringit heran, entah ada apa dengan suaminya hingga setakut itu banci itu akan datang lagi.

__ADS_1


"Mungkin hanya pelayan, Mas!"


"Baiklah!"


"Halo!"


Deg!


Kalo banci yang ini mah, aku kenal!


"Dil? Ngapain ke kamar aku?" Ujar Tica menatap banci yang tadi dimaksud oleh suaminya. Banci itu adalah temannya semasa sekolah dulu, namanya adalah Dilan. Bukan Dilanda banjir tapi Dilan Haryanto.


Deg!


"Tic, tadi ada cowok ganteng masuk kemari? Orangnya bule, tinggi besar bawa kereta dorong bayi terus pakai baju pantai dan celana kasual dan sneakers putih, matanya biru gitu loh!" Dilan lancar dan fasih menyebutkan ciri-ciri Dendy dan sontak Tica tertawa geli, sepertinya suaminya dalam bahaya. Kan tidak lucu kalau ia bertengkar dengan banci? Dimana imagenya sebagai wanita cantik nan seksihh!


"Oh dia, kayanya sih masuk kamar yang itu! Soalnya tadi aku sempet keluar!" Sahut Tica sembarangan menunjuk kamar orang lain dan dengan mudahnya Dilan percaya begitu saja dengan segera melangkah mencari pria bule incarannya itu.


"Kamu apaan sih! Ngapain diajak ngobrol, udah tahu orang engga beres!" Dendy merengut sebal ke arah Tica yang hanya tersenyum kegelian. Bayangkan saja, tubuh kekar berotot itu takut pada tubuh loyo seperti milik Dilan. Tica sungguh tidak bisa menahan tawanya lagi, akhirnya tawanya benar-benar pecah seketika.

__ADS_1


"Dia itu temenku Mas, dulu pas semasa sekolah. Dia mah emang gitu dari dulu, loyo gimana gitu. Tapi dia lucu kok, engga semembahayakan yang kamu pikir!"


"Tapi aku engga suka kamu bicara sama dia! Masa dia genit sama aku! Emang kamu mau bertengkar sama banci cuma gara-gara suami kamu mau direbut? Dimana image kamu sebagai cewe sejati cantik nan seksih yang sayang suamih?"


"Ya engga lah! Kamu kan punya aku seorang!"


"Kalau begitu jangan sekali-kali kamu temui dia lagi!"


"Iya-iya Sayang!"


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


Vote like and komennya yah.


__ADS_2