Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-44 Si kembar hilang.


__ADS_3

"Aku berangkat, Sayang." Ujar seorang pria yang nampak tampan nan rapih dengan setelan jas formal serta rambut hitam klimis dengan balutan sepatu berharga fantastis. Pagi ini ia telah selesai dari masa cutinya dan akan berangkat ke kantor untuk segera menempati posisinya, wakil Presdir alias kaki tangan Presdir.


"Hati-hati Mas, nanti aku juga sekalian mau belanja kebutuhan si kembar." Sahut Tica mengecup ringan kedua pipi Dendy, wanita itu nampak fresh dengan balutan dress selutut berwarna cream bermotif bunga-bunga kecil yang sangat cocok di kulit putihnya dan juga wajahnya yang baby face.


"Remember one thing, baby. Jaga anak-anak dengan baik, beberapa pengawal akan ikut!" Perintah mutlak dari sang suami yang tidak bisa ia bantah bahwa kemanapun ia pergi, akan selalu ada pengawal yang mengikutinya hingga terkadang Tica merasa sedikit risih akan tatapan orang-orang sekitar namun dirinya masih berusaha untuk terlihat biasa saja.


"Iya Mas. Udah berangkat sana, kamu kebanyakan wejangan!"


Cup cup.


Dendy mengecup kening kedua putranya seraya berpamitan pada pria-pria kecilnya itu yang semakin tampan dengan aura masing-masing. Benihnya sama sekali tidak luput, bahkan unggul walau ditanam di dalam mobil.


Setelah Dendy berangkat, Tica segera mengajak Wila untuk pergi ke mall. Hari sudah siang, matahari mulai memancarkan teriknya yang sedikit hangat tetapi Tica sudah mulai terbiasa dengan cuaca di kota besar itu yang memang sedikit berbeda dari cuaca di negaranya.


***


Tica berbelanja seperti wanita pada umumnya, dirinya memilih beberapa pakaian yang dirasa bagus untuk kedua putranya dan juga untuk dirinya serta sang suami. Bahkan Tica juga membelikan untuk Wila, baby sitter si kembar yang telah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Ia merasa Wila adalah orang yang baik dan sangat berarti bagi si kembar, ia pantas membalas jasa wanita yang masih lajang itu.


"Nyonya, apa itu tidak terlalu mahal?" Tanya Wila, ketika Tica memilih baju yang merupakan brand ternama dengan harga fantastis sontak Wila merasa sedikit segan.


"Ish! Tak apa Wila, kau itu juga bagian dari keluarga kami. Biarkan aku melakukan sedikit hal untuk orang yang disayangi si kembar." Tak heran si kembar memang begitu menyayangi Wila karena sifat wanita itu yang baik hati dan begitu sabar dengan semua tingkah si kembar. Membuat kedua bayi tampan itu merasa sangat nyaman diasuh oleh Wila bahkan tidur bersama Wila.


"Terimakasih Nyonya."


"No worries."


Selepas berbelanja beberapa kebutuhan. Mereka tengah berjalan menuju parkiran di mana mobil berada yang harus menyebrang jalan raya. Tica mendelik tajam kala melihat seorang anak kecil berdiri di tengah jalan raya di mana sebuah mobil melaju dengan cepat dari arah belakang anak itu. Reflek Tica melepas semua tas belanjanya dan hendak berlari menyelamatkan anak kecil malang itu yang nampak tengah menangis.


"Jangan Nyonya!!!"


Wila dengan gesitnya mendorong tubuh Tica menjauh melepas kereta dorong si kembar yang berada di tepi jalan. Hingga kereta dorong si kembar sedikit terpental ke belakang, dan tatapan semua orang seketika tertuju pada Wila yang melindungi tubuh anak kecil malang itu dengan tubuhnya.


Brak!


Mobil dengan kecepatan tinggi itu menubruk tubuh Wila yang sempat menghindar hingga wanita itu terpental jauh ke depan dengan anak kecil itu semakin menangis di dekapan Wila. Darah mengucur deras dari kepala belakang Wila yang terhantam aspal begitu keras serta beberapa bagian tubuh yang memar membiru akibat hantaman mobil itu.


"Wilaaa!!!!" Tica berteriak tidak percaya, tatapannya terarah pada Wila yang seketika tak sadarkan diri. Dengan beberapa anggota Dendy segera mengamankan Wila karena tempat kejadian itu kini telah dikerubungi oleh banyak manusia.

__ADS_1


Tica mencari keberadaan si kembar yang tadinya berada di belakangnya tetapi kedua bayi itu justru tidak terlihat hanya ada kereta bayi yang sudah kosong. Wanita itu panik bukan main, ia bingung mencari kesana-kemari hingga tidak sempat untuk menyadari bahwa Wila sudah dibawa pergi oleh anggota Dendy.


"Putraku mana? Ya Tuhan, putraku kemana? Hiks..hiks.. Ethan Evan kalian dimana, Nak?" Teriaknya terus mencari di tengah kerumunan massa yang mulai berkurang. Kedua putra tidak dapat ia temukan dimana pun.


"Nyonya!"


"Kemana anakku?"


"Bukankah Tuan muda tadi bersama Anda?"


"Tidak! Anakku hilang!" Tica dengan gelisah terus berteriak, meneriakkan nama kedua putranya. Ia seakan menggila dengan tidak ditemukannya kedua putra tampannya, dengan terpaksa anggota Dendy memaksa Tica untuk masuk ke dalam mobil atas perintah Dendy. Entah apa yang akan terjadi jika Dendy tahu kedua putra kesayangannya hilang dalam kejadian sesaat itu.


Tica masih pingsan ketika dirinya dibawa menuju ke mansion oleh anggota Dendy.


"Jelaskan!" Bentak Dendy kala melihat kondisi istrinya yang mengenaskan dan Wila yang dirawat di rumah sakit karena keadaannya benar-benar darurat dengan banyaknya luka di tubuhnya.


"Maaf Tuan!" Sahut salah seorang anggota dengan menundukkan kepalanya. Sungguh ia kecewa karena tidak bisa menjalankan amanah tuannya dengan baik.


"Apa maafmu bisa mengembalikan semuanya? Bodoh! Hanya menjaga keluargaku saja kalian tidak becus! Sekarang mana anak-anakku?" Hardiknya sekali lagi.


"Tu..tuan muda..."


"Tu..tuan..muda... hilang, Tuan!"


"Akhhh!! Bodoh pergi cari putraku! Jika malam ini kalian tidak bisa menemukannya, aku akan pastikan kalian akan segera kehilangan salah satu dau anggota keluarga kalian!" Dendy marah besar, ia melempar segala barang yang ada di ruangan itu. Ia bahkan bersumpah tidak akan memaafkan dalang dibalik kejadian beberapa jam yang lalu itu.


"Maafkan kami, Tuan! Kami berjanji akan menemukan tuan muda."


"Bagus! Aku mau lokasi putraku berada, paling lambat nanti malam!"


"Baik Tuan!"


Anggota Dendy segera berpencar mencari keberadaan si kembar.


"Ethan Evan... Nak, jangan tinggalkan ibu! Hiks..hiks.." Semenjak bangun dari pingsan, Tica sama sekali tidak mau berhenti menangis. Kehilangan putranya sama saja seperti kehilangan jiwanya, ibu mana yang tidak menggila jika anaknya hilang begitu saja. Dipelukan Dendy, Tica menangis meraung seraya Dendy terus mengusap lembut punggung wanita itu.


"Sayang, putra kita akan kembali! Itu janjiku!"

__ADS_1


"Tapi aku mau putraku sekarang! Aku mau putraku, Mas!"


Dendy semakin kalut, belum selesai masalah satu harus kembali timbul masalah lain yang sungguh menguras emosinya. Ia benar-benar marah dan seakan ingin meluapkan semua emosi yang membuncah di dadanya.


"Aku bilang kamu jangan menangis! Kamu pikir aku juga tidak khawatir?"


"Tapi mereka anakku!"


"Aku tahu! Mereka juga putraku! Mengertilah keadaan jangan seperti anak kecil!"


"Aku seperti anak kecil? Aku ini seorang ibu! Kamu tidak tahu itu!"


"Ya kau ibunya, tapi aku ayahnya Tica! Jangan buat aku bertambah emosi dengan perdebatan tak berguna ini!"


Tica terdiam membisu, ia dikatakan kekanakan hanya karena menangisi putranya. Ibu mana yang rela putranya hilang, ibu mana yang akan tenang jika permata hatinya lepas darinya?


Dendy melunak, pria itu paham kalau masalah tidak akan selesai dengan hanya berdebat. Ia harus mengalah untuk ini, istrinya mungkin masih shock.


"Maafkan aku, Sayang. Kemarilah peluk aku, kau tahu masalah tidak akan selesai hanya dengan menangis. Aku sudah berusaha mengerahkan semua anggotaku, aku mohon Sayang. Mengertilah, berdoalah semoga putra kita segera ditemukan. Menangis hanya akan memperburuk kondisimu, hmm?"


"Maafkan aku juga, Mas." Walau masih sedikit tersisa air mata, Tica berusaha untuk menghentikan tangisannya. Apa yang dikatakan suaminya memang benar.


"Lihat saja Mas! Jika aku bertemu dalang dibalik kejadian ini, akan aku patahkan semua tulang yang ada di tubuhnya!"


"Sayang, bagaimana kamu bisa..."


"Aku memang kejam!" Dendy bergidik ngeri melihat kekejaman istrinya yang begitu garang jika keluarganya diusik.


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


Vote like and komennya yah. Yuk.


__ADS_2