
"Mas, ayo bangun! Apa kamu tidak ingin pergi menemui mereka agar kita segera bisa menuntaskan masalah ini dan menemukan putra kita!" Ujar Tica yang sudah lelah sedari tadi berusaha untuk membangunkan pangeran tidur yang tengah tertidur dengan lelapnya justru semakin menelusupkan kepalanya ke belahan dada istrinya membuat Tica naik pitam.
"Mas, kalau kamu engga mau bangun juga! Jatah satu Minggu..."
"Aku bangun, Sayang. Jatah satu Minggu amankan?" Sahutnya bergerak bangun dengan cepat hingga Tica sedikit terlonjak akibat getaran yang ditimbulkan Dendy.
"Aman! Sekarang mandi dan cepat bersiap." Ia segera turun dari ranjang dan mempersiapkan setelan casual untuk suami tercintanya yang bagaikan anak kucing manja.
Hari Minggu pagi, Tica berencana untuk datang ke rumah kedua orang tua dokter itu. Karena dirinya ingin segera menyelesaikan masalah ini, Tica yakin pasti kedua orang tua itu tahu sesuatu tentang putrinya, Dokter Karmila yang telah menghilang dari publik tanpa kejelasan apapun. Tidak ada seorangpun yang tahu dimana dokter cantik itu kini berada.
Keberangkatan pagi ini sedikit terganggu karena ada satu mobil di belakang yang sepertinya tengah mengikuti mobil Dendy. Jerry yang menyadari hal itu sontak sengaja membelokkan mobil ke arah yang berlawanan alias arah yang palsu. Ia sembarang saja membelokkan mobil membuat mobil yang dibelakangnya kebingungan sebenarnya mereka ini hendak menuju kemana.
"Mereka mengikuti kita, Jer! Serahkan kemudinya padaku, biar aku yang mengatasi. Sebentar lagi kita akan melewati hutan dan juga jurang yang curam, kau tidak cukup tangguh untuk itu, hahaha..." Ujar Tica segera berpindah duduk ke sebelah bangku kemudia melalui celah di antara kursi. Wanita itu hanya melontarkan sedikit candaannya kepad Jerry.
"Anda terlalu meremehkan saya, Nyonya. Duduklah tenang, saya bisa mengatasi hal kecil ini!" Sahut Jerry tidak mau kalah, sembari tetap fokus pada arah tanjakan yang akan mereka lalui dengan dikelilingi jurang curam di sisi kanan dan kiri jalan. Serta hutan lebat yang terdapat banyak hewan buas di dalamnya, jika saja Jerry salah mengambil langkah maka hal buruk pasti akan terjadi.
"Mereka masih mengejar! Jer, berikan kemudinya padaku, aku ini mantan pembalap liar!" Tica terus mencoba untuk berpindah posisi menggantikan Jerry, karena menurutnya pria itu terlalu lamban. Ini harus segera diatasi sebelum mobil di belakang mereka menubruk mobil Dendy di bagian belakang, mobil Dendy bisa saja terjerumus ke dalam jurang. Sedangkan Dendy hanya diam saja menyaksikan perdebatan antara istri dan asistennya itu.
"Baiklah!" Tica dan Jerry saling bertukar posisi dengan Tica yang mulai memicing mata kembali memancing adrenalin menyelami dunia balap yang pernah ia geluti selama berbulan-bulan lamanya. Tica dulu memang adalah mantan pembalap liar, saat berada di bangku SMA dirinya pernah berlatih balap bersama beberapa temannya yang memang adalah anak sultan, karena pada saat itu dirinya merantau ke luar kota. Jadi jangan pernah bertanya kalau perihal skill nya dalam dunia balap. Walau tidak begitu handal, setidaknya ia bisa.
"Bersiaplah! Kencangkan sabuk pengaman kalian!"
Brumm!!
Mobil melaju begitu cepat dalam hitungan detik, lebih diatas 100 kilometer per jam. Hingga sebuah mobil datang dari arah depan, dan Tica yakin itu mobil yang sama dengan mobil musuhnya. Dengan segera wanita itu membanting stir dan menyenggol mobil itu ke arah jurang tanpa mengurangi kecepatan maksimalnya.
Brak! Duarrr!
__ADS_1
Hingga terdengar suara ledakan dari arah bawah jurang sana. Tica tersenyum puas melihat hasil kerjanya, inilah akibat jika berani mengusiknya.
Kedua pria kekar itu justru kini tengah ngeri tidak karuan melihat bagaimana ugalnya cara Tica mengemudi.
"Ya Tuhan! Aku masih jomblo, jangan ambil aku sekarang. Tolong berikan kami keselamatan agar aku bisa bertemu jodohku! Aku mohon, Ya Tuhan." Ujarnya penuh pengharapan membuat Tica yang mendengarnya seketika tertawa remeh. Ini belum seberapa baginya karena semua ini bukanlah kesulitannya. Kesulitannya adalah ketika harus melintasi jalan yang berkelok tajam tetapi sepertinya jalan yang tengah ia lintasi ini hanya lurus mulus tanpa hambatan.
"Oh, rupanya mereka masih mengikuti! Belum jera juga sudah aku masukkan jurang mereka masih belum takut! Let's play more, baby!" Tica tersenyum smirk, ia suka tantangan ini karena menurutnya skillnya sudah lama tidak ia asah kali ini adalah waktunya untuk kembali mengasah skillnya yang terpendam.
Brummm! Whuss!!
Angin bertambah kencang dengan seiring meningkatnya kecepatan mobil berharga fantastis itu. Kecepatannya kini bertambah menjadi di atas 200 kilometer per jam membuat bulu kuduk Dendy dan Jerry berdiri tegap tanpa melihat ke arah lain mereka hanya berdoa dalam hati semoga setelah ini jantung mereka masih berdetak dengan sehat. Berbeda dengan wanita yang tengah mengemudi itu yang justru menikmati semilir angin tanpa merasakan takut atau khawatir sedikitpun.
"Mereka masih mengejar, ini saat bermain. Aku akan gunakan taktik yang sama seperti dulu. Hahaha.... Berani kau mengganggu aku dan keluargaku, musnah sana!!" Tica memencet sebuah tombol hingga jendela ventilasi yang berada tepat di atas bangku kemudi itu terbuka. Kemudian dengan mudahnya wanita itu menekan tombol yang membuat mobil itu bisa mengemudi Otomasi. Ia berdiri mengeluarkan kepala dan setengah badannya melalui jendela ventilasi itu kemudian ia lempar sebuah Pisa tanjam yang telah ia bubuhi bubuk cabai ke arah mobil di belakangnya hanya berjarak 10 meter saja.
"Mati kau!!"
Pisau tajam yang lumayan besar itu menancap dengan sempurna menghancurkan kaca depan dari mobil musuh. Ini bukanlah perihal seberapa tebal kaca mobil itu, tetapi perihal seberapa kuat Tica melemparkan pisau itu hingga membuat lapisan kaca itu retak kemudian pecah karena Tica kembali menghantam dengan menggunakan botol aluminium yang sengaja ia bawa untuk diisi bubuk cabai. Agar semua orang mengira botol itu hanya untuk diisi air mineral biasa.
"Berikan aku pematik!"
"Ini, Nyonya!"
Bruak!
Dummm!!! Ledakan dahsyat itu terjadi kala pematik yang tengah menyala dan mengeluarkan api itu Tica lemparkan dan masuk ke dalam mobil musuh melalui kaca depan yang telah pecah berkeping-keping itu. Sungguh rencana yang bagus, Nyonya Dendy Faresh.
"Selesai!" Dengan santainya Tica kembali mengemudi seakan tidak terjadi apapun, sedangkan kedua pria berbadan kekar itu justru hanya bisa diam membeo melihat sendiri dengan mata kepala mereka bagaimana cerdiknya Tica menghancurkan satu-persatu musuh yang menghadang. Sungguh wanita itu adalah Hero yang sebenarnya sangat patut diberikan banyak pujian, untuk melakukan aksi-aksi membahayakan itu sangat membutuhkan keberanian dan kecerdikan serta kegesitan. Karena jika tidak, Tica bisa saja termakan rencananya sendiri.
__ADS_1
Prok! Prok! Prok!
"Bisakah saya berguru pada Anda, Nyonya?"
"Tentu tidak!" Sahut Dendy dengan cepat.
"Karena aku tidak akan membiarkan istrinya dengan pria manapun juga!" Ujar Dendy yang sedikit sebal duduk di bangku belakang, seharusnya dialah yang duduk di sebelah Istrinya.
"Lanjutkan Jer! Halangannya sudah musnah!" Tica kembali berpindah posisi di bangku belakang dengan Jerry yang kembali memegang kemudi masih menyimpan memori aksi-aksi Tica barusan dengan kekaguman yang sangat di hatinya.
"Ini seperti film Action yang sering aku tonton!"
"Kemudi dengan benar, Jer! Aku masih mau hidup!"
"Justru saya yang seharusnya mengatakan itu pada Anda, Nyonya!"
.
.
.
.
TBC!
Vote like and komennya yah.
__ADS_1
Aduh mbak jago nih!