
Dua insan yang baru saja menyelesaikan pergerumulan panasnya itu tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi yang masih intim hanya dengan balutan selimut yang menutupi tubuh polos keduanya. Dendy masih betah menciumi tubuh berkeringat sang istri yang hampir sudah terlelap namun tidak bisa akibat ulah suaminya yang membuatnya kegelian.
"Mas?" Rengek Tica, ia lelah dan ingin segera tidur. Tetapi Dendy bahkan tidak membiarkannya terlelap walau hanya sedetik saja, pria itu pasti akan mengganggunya lagi dan lagi.
"Hmm?" Dendy masih dengan kegiatannya ia sangat suka mendengar rengekan istrinya yang terdengar sangat merdu di telinganya mungkin efek kurangnya perhatian istri selama beberapa hari ini.
"Mau tidur!"
"Tidur aja, aku cuma mau cium ini kok!" Sahut Dendy dengan santainya tanpa melihat wajah istrinya yang sudah tertekuk tak beraturan membuat Dendy semakin gemas dibuatnya hingga ia tidak dapat menahan diri untuk tidak mencium pipi putih istrinya yang semakin gempal itu.
"Ya Sayangku, tidur yah. Mas engga akan ganggu lagi, sini peluk!" Tica membalik tubuhnya menghadap Dendy sembari menyusupkan kepalanya di bawah ketiak pria itu yang hanya bisa diam mengelus lembut rambut panjang nan hitam istrinya yang berbau lavender itu. Entah mengapa Tica sangat suka dengan wangi lavender bahkan seluruh tubuhnya hampur berbau lavender seakan menjadi aromaterapi bagi Dendy.
***
Pagi hari datang dengan cepat, matahari terbit dengan cahayanya di ufuk timur garis cakrawala membelah gelapnya dunia dan menyusupkan banyak cahaya menerangkan. Kedua insan itu masih saja bergelut di dalam selimut, pertarungan tadi malam begitu melelahkan hingga Tica bahkan tidak berniat untuk membuka matanya. Seakan ia baru saja tertidur dan masih nyenyak dalam buaian haluan alam bawah sadarnya.
"Emphhh...." Tica merentangkan tangannya kala seseorang menyingkap tirai jendela membuat cahaya matahari masuk dan mengganggu tidurnya. Ternyata Dendy yang terlihat sudah segar dengan setelan formalnya, Tica sampai lupa kalau hari ini suaminya akan kembali bekerja. Ia segera bersiap bangun dan melompat dari ranjang menuju kamar mandi dan aksinya itu sontak mendapatkan pelototan mata Dendy.
"Kamu hamil, Sayang!" Ujar Dendy dengan sedikit nada tinggi, kalau saja wanita itu terpeleset dan terjatuh, bukan hanya dirinya yang akan cidera tetapi juga kandungannya. Dan Dendy tidak mau hal buruk terjadi pada ibu dan janinnya.
"Hehehe iya Mas, lupa!" Cengir Tica segera masuk ke dalam kamar mandi kalau tidak Dendy pasti akan menceramahi dirinya lebih lama lagi. Entah mengapa sikap cerobohnya masih saja belum lepas walau bahkan dirinya sudah menjadi ibu dari kedua putranya dan calon jabang bayinya. Ia masih saja dengan sikap pelupa dan cerobohnya, ia hanya berharap anaknya tidak akan meneruskan gen buruknya itu.
Selepas mandi, Tica segera mengantarkan suaminya bekerja. Wanita itu juga tidak lupa menyuapi kedua putranya seperti biasa, dan juga bermain bersama putranya agar ikatan mereka tidak merenggang sebagai ibu dan anak.
***
Beberapa bulan telah berlalu, kini kandungan Tica sudah menginjak tujuh bulan. Dan akan diadakan rencana baby moon. Dimana si kembar dan Wila juga akan diajak dalam acara kali ini atas permintaan Tica sendiri.
__ADS_1
"Are you ready, Guys?"
"Readyyy!"
Pesawat lepas landas menuju Indonesia, pulau Bali adalah salah satu destinasi wisata yang bagus untuk memanjakan mata siapapun yan memandang. Tica juga tidak lupa mengajak ayah dan ibunya beserta mengundang Nadya, sahabat karibnya. Tetapi Nadya bilang ia akan datang setelah dua hari, karena kini dirinya juga tengah berada di luar kota bersama suaminya.
Pesawat mendarat dengan sempurna di bandara Ngurah Rai Bali. Masih di bandara mereka sudah disuguhkan dengan pemandangan yang begitu menarik, Dendy sudah membooking sebuah hotel untuk kamar mereka.
***
"Uhh indahnya!" Tica merentangkan tangannya menikmati pagi indahnya berada di pulau Bali dengan panorama lautan dan juga terumbu karang yang begitu menyejukkan mata. Begitu juga dengan ibu dan ayah yang berada di kapal lainnya, dua pasangan paruh baya itu juga tidak malu menebar keromantisan mereka di depan anak dan cucunya. Sedangkan si kembar ada bersama Wila di tepi pantai karena kapal tidak baik untuk anak di bawah usia.
Setelah puas menaiki kapal, kini Tica hanya duduk diam di tepi pantai dengan baju renangnya yang panjang serta kacamata hitam dan topi pantai yang melekat di kepalanya. Serta ibu dan ayah yang menikmati sebuah es krim duduk tenang di atas tikar yang digelar di pasir putih itu.
"Mas? Bagus ya pulau Bali! Kalau bukan karena kamu, aku pasti engga akan bisa pergi kesini! Untung aku punya suami sultan, hahaha..."
"Iya Sayang!"
"Bu, Tica udah tujuh bulan. Nanti kalau Tica mau lahiran, ibu mau ya ke Amerika sama Ayah?" Ujar Tica tiba-tiba membicarakan hal-hal yang mengundang air mata. Dan ibu mengangguk dengan berkata, "jika ibu masih sehat dan ayah masih sehat, ibu akan datang! Tapi bayarkan tiketnya!"
"Iya Bu! Ibu tenang aja, suami sultan Tica pasti akan menggratiskan semuanya. Iya kan, Mas?" Tanya Tica menoleh pada suaminya yang tengah memangku dirinya seraya Tica yang tiduran di pangkuan suaminya.
"Iya Sayang!" Dendy hanya mengiyakan tidak ingin mengatakan apapun, toh itu bukan hal sulit baginya. Jika istri dan anaknya bahagia, maka ia akan berikan apapun untuk itu.
Hari sudah mulai memanas, siang telah tiba akhirnya Dendy meminta semua keluarga untuk kembali ke hotel dan mereka akan melakukan acara lainnya nanti setelah matahari sudah hampir terbenam. Dan panas tidak lagi menyegat kulit, si kembar ia bawa bersama dirinya dengan membiarkan Wila istirahat untuk sejenak.
"Let's go shower, Boys!" Seperti biasa ia akan memandikan putranya setelah istrinya mandi.
__ADS_1
"Mas? Baju si kembar mana?"
"Di koper, Sayang!"
Tica menyiapkan baju untuk suaminya dan juga si kembar. Selepas memandikan dirinya dan si kembar, Dendy segera meminta istrinya untuk beristirahat sejenak, sedangkan dirinya membaw akedua putranya jalan-jalan sore dengan kereta dorong bayi. Tiba-tiba di tengah perjalanan di lobby hotel ia bertemu dengan seorang wanita seksi yang cantik bahkan sangat feminim.
"Hy Ganteng!"
Byarr!
Air yang ia minum seketika Dendy semprotkan kembali dari dalam mulutnya kala mendengar suara wanita itu yang sangat maskulin. Pantas saja ia merasa aneh, ternyata wanita jadi-jadian. Dendy segera membelokkan kereta putranya kembali dengan kecepatan maksimal karena wanita itu mengejar dirinya.
"Ganteng tunggu aku!" Ujarnya penuh nada manja. Bukannya tertarik, Dendy justru semakin geli dibuatnya.
Brak!
Dendy segera menutup pintu kamarnya saat ia sudah sampai di dalam dengan sang istri yang masih beristirahat di bawah selimut. Untung saja dirinya berhasil menghindar, kalau tidak! Tamatlah riwayatnya.
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
Vote like and komennya yah.