
Malam semakin mencekam, tetesan air dari langit mulai turun membasahi tanah yang kering. Hembusan angin terus berhembus kencang menggoyahkan ranting-ranting pohon sehingga menimbulkan bunyi pergesekan ranting-ranting tersebut. Kicauan burung hantu terus bersahutan seakan mengisyaratkan bahwa hari telah larut.
"Tic, Tica aku mohon buka pintunya! Berikan aku kesempatan, aku mohon!" Pria gagah berani itu terus mengetuk pintu rumah Tica tanpa sedikitpun merasa kesakitan. Walau tulang ruas jarinya sudah membiru, tidak ada niatan Dendy untuk berhenti.
Byurr!!
Hingga semburan air merembes membasahi tubuh Dendy, dari jendela ibu Tica terlihat puas setelah menyiram pria tak berguna yang telah menyia-nyiakan putrinya. Kemudian wanita paruh baya itu kembali menutup jendela sekeras yang ia mampu.
"Bu––"
Dendy kembali menyendu, sepertinya tidak ada celah bagi dirinya untuk kembali meluruskan semua masalah yang ada.
"Tuan, saya mohon mari kita pergi dari sini. Saya sudah membooking dua kamar di villa dekat sini!" Ujar Jerry yang juga menjadi korban dari masalah rumah tangga Dendy, asisten Dendy itu telah basah kuyup dan hampir menggigil karena hujan semakin deras.
"Tapi Jer––"
"Sudahlah, masih ada hari esok. Dengan semalaman berada di sini, Anda sama saja menyiksa diri Anda."
"Baiklah." Akhirnya pria keras kepala itu menyerah, ia berpikir lebih panjang untuk hari-hari selanjutnya ia harus sehat agar bisa kembali merebut hati wanita yang telah ia sia-siakan.
***
"Dia sudah pergi, Bu?"
"Sudah, sekarang istirahatlah. Si kembar juga sudah terlelap." Sahut ibu, wanita paruh baya itu merasa iba melihat betapa malangnya nasib sang putri. Harus kembali merasa tersakiti karena lelaki tak berguna yang sangat dibencinya itu. Ibu benar-benar muak melihat wajah lelaki itu, ingin rasanya ia mutilasi tubuh Dendy dan ia lempar ke kandang harimau.
"Ibu istirahat saja, Tica masih mau ngerjain beberapa dokumen. Karena tadi Recaz sudah sampaikan agar diselesaikan malam ini, untuk bahan meeting besok."
Ibu mengangguk dan mencium kening putrinya kemudian berlalu pergi setelah menutup pintu kamar Tica.
"Tidur nyenyak, Sayang-sayangnya ibu." Tica mencium kening kedua bayinya yang tengah tertidur dengan wajah imutnya. Si kembar semakin hari menjadi semakin tampan, sangat mirip dengan wajah bule sang ayah. Bahkan tak jarang orang yang memuji ketampanan dua bayi gempal itu.
__ADS_1
"It's time to working!! Semangat Tica! Demi si kembar, never give up!!"
Seperti malam-malam sebelumnya, Tica hanya akan menghabiskan malamnya dengan berkutat bersama laptopnya. Bagaimanapun ia tetap harus bertanggungjawab sebagai sekretaris, walau cutinya masih kurang satu bulan ke depan, tetapi Recaz tetap memberikannya gaji dan bahkan Recaz juga kerap kali mengunjungi si kembar. Hal itu membuat Tica merasa tidak enak, dan memutuskan untuk bekerja dari rumah selama dirinya cuti dari kantor.
Kling!
Belum satu jam bekerja, handphone Tica berbunyi. Sebuah notifikasi masuk dari media sosial, Tica hanya melihat kemudian kembali mematikan benda pipih. Karena ia tipe orang yang hanya akan fokus pada satu pekerjaan dan tidak suka diganggu. Ia akan membuka handphone kembali saat pekerjaannya telah selesai sepenuhnya.
"Akhirnya selesai juga, ini hape apa sih bunyi terus. Udah kaya bebek belum dikasih makan!" Kesal Tica, sedari ia bekerja hingga ia selesai bekerja benda pipih itu terus saja berbunyi membuatnya muak. Dan akhirnya tertarik untuk melihat notif apa yang sedari tadi mengganggunya.
'Dendy_Faresh mengirimkan sebuah pesan'
Tertera jelas di layar gadget Tica. Karena penasaran Tica pun membuka, ia ingin tahu pesan apa yang Dendy kirim. Rupanya pria itu tidak menyerah, setelah Tica memblokir semua akses Dendy. Pria itu menggunakan nomor baru dan kembali menghubungi dirinya.
Dendy
Tic, aku bisa jelaskan semuanya. Maafkan aku, aku tahu aku salah. Aku mengingkari ucapanku dengan tidak menjemputmu, ini sepenuhnya salahku. Maafkan aku, Sayang. Kumohon izinkan aku memperbaiki semuanya, mari buka lembaran baru.
"Lembaran baru? Maaf? Tidak semudah itu ferguso!!" Sarkas wanita cantik nan ceria itu. Setelah semua yang dilakukannya, dengan mudahnya Dendy berkata demikian? Walau Dendy memberi Tica bumi dan seisinya, Tica tak akan mau. Bukan masalah mudah jika menyangkut persoalan hati dan cinta. Bagi Tica, perasaan seseorang bukanlah hal yang bisa dipermainkan apalagi digantung. Jika memang ia tidak menginginkan lagi, maka katakanlah tidak. Jangan memberikan harapan yang membuat Tica menjadi semakin sakit saat mengetahui ternyata ia telah disia-siakan alias dighosting bahasa keren kekinian.
Cup! Cup!
***
Di sebuah villa mewah, Dendy tengah melamun memikirkan bagaimana caranya agar bisa menjelaskan kepada Tica. Ia ingin Tica tahu semua yang telah ia selidiki selama dirinya berada di negeri Paman Sam itu. Tetapi, Tica bahkan tak mau menemui dirinya.
"Tuan, Anda belum makan sedari tadi. Makanlah sedikit."
Jerry merasa iba melihat kondisi Dendy yang sama sekali berbeda dari biasanya. Dendy yang ia lihat adalah seorang pria berwibawa dengan sikapnya yang dingin dan terkesan galak. Bukan Dendy yang hanya melamun seperti orang kehilangan cahaya hidupnya.
"Nanti Jer, bagaimana penyelidikannya? Apa kau sudah menemukan dokter yang memberikan obat itu?"
__ADS_1
"Saya sudah menyelidiki, Tuan. Kliniknya sudah ditemukan dan itu klinik ilegal yang telah ditutup oleh pemerintah. Tetapi, dokternya sangat sulit ditemukan. Bersabarlah Tuan, semuanya akan segera terungkap!"
"Aku geram, Jer! Jika membunuh tidak dihukum, sudah kubunuh dia dengan kedua tanganku! Dia terlalu berbahaya untuk istri dan..."
"Maksud Anda, Tuan muda Ethan dan Evan?"
"Kau tahu itu, aku jadi merindukan putraku!"
Ayah muda itu semakin menyendu, duduk bersandar seakan mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Sejak lama, ia telah mengetahui kelahiran putranya, tapi ia bahkan menjadi lelaki pengecut yang tidak berani hadir di hadapan Tica dan menemani wanita itu melahirkan kedua putranya ke dunia.
"Aku merasa, aku adalah pria paling tak berguna. Aku telah menyakiti istriku, Jer. Aku menyia-nyiakan berlian hanya demi sebongkah batu yang kotor."
"Tuan, semua yang Anda lakukan itu ada alasannya. Saya mohon jangan membuat diri Anda menjadi buruk, karena Anda sama sekali bukan seperti itu."
"Tapi Jer, aku tak berdaya! Aku juga ingin mengungkap semua ini, tetapi aku tak ingin menyakiti istriku."
"Anda sudah terlanjur menyelam, Tuan. Jangan kembali sebelum Anda mendapatkan pelakunya atau pengorbanan yang istri Anda lakukan akan sia-sia. Setelah semua jelas, Anda bisa jelaskan semuanya pada Nyonya Tica secara perlahan."
"Aku ingin istirahat, Jer!"
"Baiklah, makanlan terlebih dahulu, Tuan."
Jerry keluar dari kamar Dendy. Dendy memang akrab dan merasa nyaman bersama Jerry, karena selain bisa diandalkan, Jerry juga tak pernah membantah kata-katanya. Dendy kerap kali menceritakan semua keluh kesahnya pada Jerry, dan dengan bijak Jerry akan menasehati Dendy seperti saudaranya sendiri. Walau usia Jerry beberapa bulan lebih tua, tetapi Jerry tetap memanggil Dendy dengan sebutan sopan dan bahkan berbicara dengan kata-kata yang baku kepada Dendy.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
Vote like and komennya yah.