Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-47 Dendy pasrah?!


__ADS_3

Pagi ini, matahari bersinar layaknya di hari-hari sebelumnya dengan kemilau mentari dan embun pagi yang menambah keindahan serta kesejukan di pagi hari. Dendy yang baru saja tiba di kantor, tiba-tiba saja menerima sebuah surat di mana tertulis di amplop bahwa surat itu adalah surat pribadi dari seseorang. Ia sedikit menyerengit heran, memangnya masih ada orang yang berkirim surat di zaman modern seperti sekarang ini?


Dendy membuka dan membaca surat itu dengan saksama hingga matanya melotot tak percaya akan tulisan tangan yang tertoreh di atas materai itu. Dendy memanggil Jerry untuk membaca surat itu juga, asisten Dendy itupun juga tidak kalah terkejut.


"Jadi mereka meminta semua harta Anda sebagai tebusan untuk tuan muda?"


"Benar! Apa kau sudah punya rencana! Apa kau sudah menemukan di mana markas mereka? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menyelidikinya?"


"Tentu Tuan! Tetapi mereka melarang kita membawa siapapun kecuali diri Anda sendiri!"


"Baiklah! Kemarilah aku akan membisikkan sebuah rencana yang bagus dan kau harus membuat rencana ini berjalan sebaik mungkin! Aku tidak mau ada kesalahan ataupun kegagalan, paham?"


"Paham Tuan!"


Dendy membisikkan sebuah rencana yang terlintas begitu saja di kepalanya yang telah ia pikirkan matang dengan keyakinan Dendy ingin menggunakan rencana itu untuk membasmi semua orang tidak berguna yang berani menculik putranya itu.


Sore hari, Dendy kembali ke mansion dimana seorang wanita cantik tengah berdiri di balkon kamarnya di lantai atas dengan wajah yang menghadap ke arah jalan raya dan juga taman mansion. Dendy segera membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya tanpa menyapa wanita cantik dengan rambut dicepol berantakan dan juga Hoodie big size disandingkan dengan hotpant yang membuat wanita itu terlihat begitu seksi nan indah di mata Dendy.


Grep!


"Mas?" Tica terlonjak kala tangan kekar itu melingkar di perut rampingnya dengan kepala Dendy yang bersandar di ceruk leher Tica hingga wanita itu sedikit merasa geli ketika Dendy mengecupi dan membuat tanda merah di sana.


"Lagi ngapain?" Tanya Dendy dengan suara seraknya seakan menahan kabut gairah yang mengepul melihat sang istri yang begitu terlihat seksi di matanya.


"Nafas, Mas!" Sahut Tica sembarangan.


"Sayang!"


"Apa Mas?"

__ADS_1


"Pengen! Boleh ya?"


"Masih sore, Sayang? Yakin mau sekarang?"


"Hmm! Nanti malam aku mau tidur ngantuk!"


"Baiklah!"


Mendapat izin dari sang istri membuat Dendy semakin bersemangat dengan kilatan gairah yang terlihat jelas di netra biru itu dari caranya menatap Tica membuat Tica sedikit bergidik kala suaminya menggendong tubuhnya menuju ranjang. Hingga dimulailah pergerumulan panas yang terjadi antara dua insan yang saling dimabuk kabut asmara dengan kilatan gairah membuat tubuh keduanya seakan melayang tak tahu arah.


"Masshhh..." Tica dibuat gila oleh permainan nikmat Dendy yang selalu berhasil membuatnya keluar berkali-kali seakan dunia ini bagaikan surga yang memberikan mereka kesempatan untuk merasakan indahnya mereguk kenikmatan duniawi. Ranjang berderit, kedua insan itu tidak akan berhenti hanya dengan satu atau dua jam tetapi akan berjam-jam karena Dendy tidak akan puas dengan satu atau dua kali keluar.


Pergerumulan itu terus berlanjut di bawah selembar kain selimut yang menutupi tubuh mereka hingga buliran-buliran keringat nampak begitu banyak keluar dari tubuh mereka. Dengan nafas yang sudah tidak karuan ritmenya naik turun cepat dan lambat mengikuti alur hentakan benda perkasa milik Dendy.


***


Dendy memberhentikan mobilnya tepat di depan sebuah bangunan yang telah menjadi tempat perjanjian pertemuan antara dirinya dan wanita itu dimana wanita psycho itu telah menuliskan di surat yang ia kirim pada Dendy. Dengan santainya, Dendy memasuki bangunan yang nampak seperti gudang itu di dalamnya ada banyak alat-alat tidak terpakai yang sepertinya sudah hampir berkarat. Sepertinya gudang itu tengah diliburkan karena wabah yang memang tengah melanda masyarakat sekitar. Dengan banyaknya mesin-mesin yang tidak digunakan membuat banyak nyamuk dan serangga bersarang di dalam gudang itu.


Suara langkah kaki terdengar dari arah luar di belakang Dendy seorang wanita berpenampilan seperti mafia tengah berdiri menodongkan sebuah pistol tepat di hadapan Dendy tetapi pria itu bahkan sama sekali tidak merasa gentar. Walau wanita membawa beberapa anggota bersamanya sedangkan Dendy hanya seorang diri tanpa ditemani siapapun.


"Ini perjanjian murahan yang kau inginkan!" Dendy melempar sebuah map berisi pernyataan dimana Dendy telah resmi menyerahkan semua harta yang ia miliki kepada wanita itu dengan jaminan anak-anaknya akan kembali dengan selamat tanpa kurang apapun.


"Hahaha.... Pria lemah! Kau tidak selicik yang aku pikirkan, Dendy! Sekarang pria itu akan melihat bagaimana putranya menyerah di tangan seorang wanita yang telah ia renggut kebahagiaannya!"


"Apa maksudmu?" Dendy menyerengit heran atas perkataan wanita itu yang melantur menurutnya.


"Tidak usah sok polos! Jangan pernah tutup mata untuk semua kejahatan yang telah dilakukan oleh ayahmu itu!" Tunjuk wanita itu tepat di depan wajah Dendy.


Kejahatan? Ayah melakukan kejahatan apa? Dan apa hubungannya dengan wanita ini? Kenapa masalahnya semakin rumit saja!

__ADS_1


"Ayahmu adalah penyebab dari semua penderitaan yang aku alami! Ingatlah satu hal, bahwa aku tidak akan pernah membiarkan keluargamu berbahagia walau untuk sesaat saja karena kau dan semua orang-orang terdekatmu harus merasakan apa yang aku rasakan!" Ujar wanita itu menatap Dendy dengan mimik wajah murka seakan ingin menelan habis tubuh Dendy.


"Ayahku bukan orang seperti dirimu yang menghalalkan segala cara demi untuk mendapatkan apa yang kau inginkan! Dan juga menuruti obsesi gilamu itu!" Sahut Dendy dengan santai tanpa bergidik ngeri karena anggota wanita itu telah menyiapkan sebuah alat khusus yang nampak begitu tajam untuk memutilasi tubuh Dendy.


Sring sring, suara pergeseran dari kedua alat tajam yang diadu itu terdengar begitu jelas mengerikan.


"Pegangi dia!" Ujar wanita psycho memerintahkan pada semua anggotanya. Dan dengan sigap mereka memegangi Dendy yang hanya pasrah tubuhnya dibawa dan ditidurkab di sebuah bangkar kecil yang hanya muat untuk satu orang saja. Dendy justru tersenyum penuh selidik, hingga wanita itu keheranan kenapa Dendy sama sekali tidak merasa takut. Atau bahkan berniat untuk melawan, pria itu justru hanya pasrah seakan memberikan tubuhnya suka rela.


Samurai panjang nan tajam itu mereka asah sebaik mungkin hingga bisa menjadi setajam itu. Mereka mengangkat samurai itu hendak mengayunkan pada tubuh Dendy yang masih saja terlihat santai walau tubuhnya sudah hendak dilukai dengan menggunakan benda tajam yang bisa saja memotong separuh dari tubuhnya dalam sekali sayatan.


"Sebentar!"


"Ada apa, Nona Boss?"


"Biar aku yang pertama membunuhnya! Aku ingin membunuh pria lemah ini dengan menggunakan pistol kesayanganku." Wanita psycho itu mengecup ujung pistolnya. Pistol kecil yang nampak seperti mainan tetapi begitu mematikan. Wanita itu bersiap menempatkan pistolnya tepat di dahi Dendy.


"Satu.. dua.. tiga.."


Dor!


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


Vote like and komennya yah.


__ADS_2