
Kring... Kring...
Suara alarm pagi telah berbunyi nyaring memekik telinga, matahari terbit di ufuk timur memancarkan Kilauan cahaya terang yang menyehatkan untuk semua insan yang ada di dunia. Seorang pria tampan tengah terbuai dalam indahnya hasutan mimpi dan masih tidak berniat untuk keluar dari alam mimpinya. Tetapi suara alarm memekikkan itu mengganggu ketenangan tidurnya.
"Akh! Aku masih ngantuk! Sejak kapan ada alarm di kamarku, akan aku pecat siapapun yang menaruhnya! Sialan..." Belum selesai Dendy mengomel, ucapannya terhenti saat melihat jelas seorang wanita cantik berdiri seraya berkacak pinggang sembari memegang sebuah handphone. Yang sengaja dibunyikannya menyerupai alarm pagi, hari sudah hampir siang tetapi pria itu bahkan sama sekali tidak berniat untuk bangun.
"Siapa yang mau dipecat? Siapa yang sialan? Hmm?" Tica maju perlahan, jujur Dendy ngeri melihat ekspresi sang istri yang seperti hendak menelannya mentah-mentah.
"Anu... Sayang.... Ti..tidak ada, tadi aku hanya keceplosan. Ya, aku keceplosan, Sayang." Sahutnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tetapi istrinya masih saja berkacak pinggang.
"Ayo Mas bangun! Ini sudah siang, tidak baik tidur di pagi hari nanti rejekinya dipatok ayam. Bantuin istrinya, sana urusin anak-anak. Aku masih masak, kamu bisa kan mandiin si kembar?"
"Loh Sayang, kan ada Wila. Lagi pula aku mana bisa, Sayang?"
"Makanya Mas, ayo belajar nanti sewaktu-waktu kalau aku engga hmpp...."
Perkataan Tica terhenti, sebuah benda kenyal menabrak bibirnya tiba-tiba. Tica menikmati ciuman mendadak itu, keduanya saling menyalurkan cinta dari kelembutan benda kenyal itu yang saling menyalurkan Saliva masing-masing ke dalam rongga mulut dengan suara decapan yang mengiringinya.
"Emphh Mas, ak--" Tica berusaha untuk mendorong dada kekar suaminya, ia bahkan telah kehabisan nafasnya akibat Dendy yang tidak berhenti untuk menyesap udara yang telah ia hirup.
"Awww... Sayang sakit!!" Dendy terkejut sontak melepas pagutan bibirnya dengan sang istri karena Tica menggigit bibir bawahnya dengan keras. Sepertinya benda kenyal pink itu telah mengeluarkan cairan merah yang terasa amis.
"Mas, nanti aja yah. Sekarang anak-anak kamu belum mandi, masakan aku bisa gosong nih. Kamu mau makan apa?"
"Iya-iya istriku tercinta..."
Dendy menyuruh seorang pelayan pria untuk membantunya memandikan kedua putra tampannya. Mereka bahkan tidak bisa memandikan bayi, hanya bermodalkan sebuah video tutorial di handphone. Ethan bersama Dendy dan Evan bersama pelayan yang menemani Dendy.
"Lakukan dengan benar, awas saja kalau kau membuat putraku sampai kenapa-napa."
"Baik Tuan!"
"Tapi Tuan, apa airnya tidak kebanyakan? Nanti Tuan muda bisa tenggelam bukannya mandi." Ujar pelayan itu, air yang Dendy isikan di bathub khusus bayi terlalu penuh.
"Ah, kau benar!"
__ADS_1
Begitulah jadinya jika dua lelaki tidak tahu-menahu perihal bayi, tiba-tiba saja diberi tanggung jawab untuk memandikan bayi. Penuh dengan drama yang akan menguras tenaga membuat kegiatan itu menjadi jauh lebih lama dari durasi yang seharusnya.
Setelah drama pagi terlewati, sekarang adalah waktunya Dendy untuk bekerja. Pria itu masih saja berbaring di ranjang tanpa mau memakai setelah formal yang telah disiapkan oleh Tica. Lihat saja, Dendy bahkan masih memeluk manja sang istri dan memegang baguan favoritnya di tubuh sang istri yang hanya diam karena tidak tahu lagi bagaimana cara membujuk Dendy agar mau bekerja.
"Mas, sudahlah kamu kan harus bekerja. Aku engga mau kami jatuh miskin, aku akan cari sugar daddy!"
"Apasih Sayang? Biarkan aku tenang satu hari saja, besok aku janji akan bekerja. Aku tidak akan jatuh miskin selama Tuan Brydan masih menjadi atasanku, toh aku juga memiliki beberapa usaha. Jadi tidak perlu mencari sugar daddy!"
"Loh kok ngegas? Kemarin malam udah dapet jatah kok masih ngegas?"
"Aku engga ngegas, Sayang."
***
Seorang wanita psycho nampak tengah menyiksa seorang mantan dokter wanita. Wanita itu dengan teganya mengurung sang dokter bertahun-tahun lamanya agar rahasia besarnya tidak diketahui oleh khalayak. Dan membuat reputasinya hancur.
"Makan!"
"Lepaskan aku..." Lirihan lemah yang selalu dikatakan oleh sang dokter. Bayangkan saja bertahun-tahun dirinya disekap tanpa alasan yang jelas dan diperlakukan layaknya seorang budak. Ia hanya berharap suatu saat akan ada seseorang yang menyelamatkan dirinya dari jeratan duka ini.
"Mimpi saja kau!"
Tubuhnya yang semakin tua semakin ringkih dengan langkah yang tak lagi tegap. Bahkan tubuh kurus itu kadang tidak bisa menopang langkahnya sendiri hingga terkadang ia akan jatuh.
Dokter Karmila, seorang dokter cantik yang dahulu membuka sebuah klinik ilegal dan di klinik itulah tempat wanita psycho itu membeli obat-obatan terlarang yang berdosis tinggi untuk mencelakai ibu Dendy.
Di tempat lain, Dendy tengah merajuk pada sang istri karena wanita itu memarahinya tanpa alasan. Tidak mungkin dirinya dimarahi hanya karena ingin bermanja pada istrinya sendiri. Sungguh alasan yang tidak masuk akal.
"Mas?"
"Hmm?" Sahutnya tetap membelakangi istrinya. Tica mencoba mengelus dada menghadapi sikap kekanakan Dendy. Tica bahkan tidak pernah melihat Dendy semanja ini sebelumnya, mungkin efek kurangnya belaian kasih sayang.
"Handphone-nya bunyi, Mas. Jerry telfon."
Dendy segera mengangkat telfon dari Jerry, karena ia telah menginstruksikan sesuatu kepada asistennya itu.
__ADS_1
"Bagaimana?"
(....)
"Besok, kita akan selidiki semuanya. Kau amankan mansion ini, dia mengincar istri dan anakku karena aku telah membuat bisnis ilegalnya hancur."
(....)
"Baiklah, besok kau datanglah kemari pagi-pagi sekali."
Tutt.
"Ada apa, Mas?"
"Tidak ada!" Sahutnya masih saja ketus. Tica harus menambah kesabaran untuk menghadapi lelaki angkuh di hadapannya itu. Wanita itu memeluk Dendy dari belakang seraya tangannya ia lingkarkan di perut kekar suami tampannya.
"Mas, masih marah hmm?"
Dendy melepas tautan tangan Tica di perutnya. Ia hendak melangkah ke keluar kamar untuk menemui si kembar yang kini tengah bermain bersama Wila di kamar mereka.
"Mas!" Tica berusaha untuk mengejar langkah lebar Dendy hingga tanpa sengaja dirinya menyandung pijakan tangga dan membuatnya kakinya terkilir hingga Tica terjatuh ke bawah, tetapi untung saja Dendy dengan sigap menangkap tubuh wanitanya itu.
"Hati-hati! Apa kau ingin membuatku jantungan dengan berlari di tangga?"
"Aku kan ngejar kamu, langkahnya gede banget sih! Aduh kaki aku sakit."
"Aku pijit!" Dendy menggendong tubuh ramping Tica menuju kamar kembali. Terpaksa harus mengurungkan niatnya bermain dengan si kembar.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
Vote like and komennya yah.