Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-27 Kau Suamiku?


__ADS_3

Pagi telah tiba dengan cepat, sang Surya pun tengah bersinar cerah di ufuk timur. Terpaan cahaya dan kehangatan yang diberikan untuk seluruh makhluk hidup di belahan bumi, beberapa orang mulai bangun dan kembali memulai kegiatannya seperti hari-hari sebelumnya.


Desa tempat Tica tinggal terlihat sedikit becek karena semalam hujannya tak kunjung berhenti, hawanya pun masih tetap dingin apalagi airnya. Jangan coba menyentuh air jika kamu tidak tahan dingin. Seorang wanita cantik berpakaian mantel rajut dan celana training panjang, ia juga menguncir rambut hitam sebahunya menjadi seperti ekor kuda. Seperti biasa, wanita cantik nan ceria itu akan memulai menjemur pakaian dirinya dan kedua putranya.


"Tic, si kembar sudah ibu mandikan. Cepat sedikit ibu mau dan ayah mau ke pasar!" Teriak sang ibu dari dalam rumah sembari menggendong cucu tampannya yang telah ia mandikan dan ia taburi bedak bayi.


"Iya Bu!" Sahut Tica seraya menambah kecepatan menjemur pakaian.


"Hy Tic, aku datang!" Ujar seorang pria bule yang nampak segar dengan balutan casual dan juga sepatu hitam berjenis sneaker shoes. Atasan sekaligus sahabat Tica, sontak Tica terlonjak, ia kira ibunya ternyata Recaz.


"Re! Masuk saja ke dalam, beberapa menit lagi aku akan selesai." Sahut Tica dengan tetap bergelut dengan sejumlah pakaian itu.


Bukannya enyah, Recaz justru membantu Tica menjemur beberapa pakaian milik si kembar. Pria baik hati itu nampak senang pagi ini, entah karena apa tidak ada yang tahu. Tica hanya diam saja, percuma memaksa Recaz, pria itu tetap akan melakukan apapun yang ia mau.


"Tic, aku ingin bicara sesuatu setelah ini. Ikutlah bersamaku ke halaman belakang bersama si kembar juga."


"Baiklah."


Dan disinilah Tica berada sekarang. Ia menggendong Ethan sedangkan Recaz menggendong Evan. Si kembar nampak tenang di gendongan mereka, mereka duduk serempak di sebuah ayunan panjang yang terbuat dari kayu. Suasana pagi hari dan pemandangan yang indah sungguh memanjakan mata memandang. Hamparan hijau nan bukit-bukit tinggi yang menjulang serta kepulan kabut. Siapa yang segan untuk tidak memotret pemandangan cantik itu.


"Re, ada apa?"


"Jadi begini, seminggu lagi aku akan ke Amerika untuk menghandle beberapa perusahaan milik Daddy. Karena Daddy-ku tengah dalam kondisi tidak sehat." Recaz menjelaskan secara perlahan sembari tetap memeluk tubuh mungil nan harum Evan.


"Aku turut sedih, jika saja beliau ada di Indonesia, mungkin aku akan menjenguk." Ujar Tica seraya mengusap bahu Recaz memberikan sebuah dukungan.

__ADS_1


"Intinya, aku membutuhkan dirimu. Aku tidak bisa menghandle semuanya sendiri. Lalu, maukah kau ikut ke Amerika?"


"Tapi––"


"Pikirkan dulu dengan baik, jika memang kau berkenan segera kabari aku. Seminggu lagi aku akan berangkat. Tiga hari pikirkan ini dengan matang, dan aku akan datang lagi tiga hari ke depan!"


Recaz menatap Tica dengan penuh pengharapan. Pria tampan itu berharap Tica akan ikut dengannya untuk ke Amerika karena dirinya benar-benar membutuhkan bantuan Tica selaku Sekertarisnya. Terlebih lagi Tica adalah sekertaris yang bisa ia percaya dan bisa ia andalkan guna meringankan pekerjaan mereka.


"Mmamaaammaa..." Evan mengoceh tak jelas dengan tangan yang berusaha untuk menggapai rambut Recaz. Tetapi sayang, tangan bayi tampan itu terlalu kecil.


"Tica tidak akan ikut!!" Seseorang tiba-tiba bersuara. Seorang pria tampan berpakaian rapih beserta seorang pria lagi berada di belakangnya.


Degg! Dia dan dia lagi.


"Untuk apa kau kesini?" Nada dingin itu menyeruak ke dalam gendang telinga Dendy. Jujur hatinya panas kala melihat sang istri berduaan dengan pria lain bersama putranya.


"Oh jadi kau suaminya?" Recaz berdiri geram, jika saja ia tak menggendong Evan, mungkin sudah ia habisi Dendy.


"Suami?"


"Ya!"


"Hahaha, Apa aku tak salah dengar? Kau suamiku? Suami dari segi mananya? Suami yang menelantarkan istri dan anaknya? Atau suami yang berpura-pura lupa kau dirinya memiliki istri dan anak? Atau suami yang hanya memberikan kesakitan setelah pengorbanan yang aku lakukan? Katakan, dari segi mana?" Ujar Tica dengan sinis, ia tak boleh lemah di hadapan lelaki tak berguna itu. Sebisa mungkin ia lawan gejolak hatinya yang bergetar menahan rindu. Pria itu pantas dan harus diberi pelajaran agar tak memperlakukan wanita dengan semena-mena.


"Tic..."

__ADS_1


"Kau tahu, kau tak pantas untuk menjadi ayah dari kedua putraku yang sangat berharga. Aku sama sekali tak menyangka kedua putraku akan memiliki sosok ayah yang bahkan tidak peduli pada mereka. Aku tidak memintamu untuk kembali ke hidupku, jadi kau boleh pergi sekarang!" Tica mengajak Recaz untuk kembali duduk tanpa menghiraukan kehadiran kedua makhluk itu.


"Aku akan ikut bersamamu, Re!"


Degg.


"Tic, aku mohon! Aku bisa jelaskan semuanya." Dendy bersimpuh menyentuh tangan Tica yang langsung ditepis oleh wanita itu.


"Huaaa... Huaa.... Mmmah... Huaaa!!"


"Cup cup, tidak apa-apa Nak. Ibu disini!" Ethan tiba-tiba menangis dengan kencang. Seketika Dendy panik, ia mencoba menepuk pantat putranya.


"Jangan sentuh putraku, Brengsekk!"


.


.



.


.


TBC!

__ADS_1


Vote like and komennya yah.


__ADS_2