Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-58 Mikir aja terus!


__ADS_3

"I love you more than you know, Honey!" Ujar Dendy di akhir penutupan lagu setelahnya semua orang bersorak bertepuk tangan berdiri dengan kekaguman akan suara merdu nan seksi yang menggetarkan gendang telinga. Tirai perlahan tertutup dengan Dendy yang kembali ke singgasana berusaha untuk menetralkan dirinya kembali agar tidak gugup berada di samping sang istri.


"I love you more, Mas!" Sahut Tica mencium pipi Dendy membuat seluruh tamu undangan yang melihat tertohok tak karuan. Pemandangan yang benar-benar membuat semua orang iri akan kemesraan sepasang pasutri itu.


"Makasih Mas, aku merasa aku adalah wanita paling beruntung di dunia memiliki pria setampan, sekaya, sepintar, dan seberguna kamu!"


"Hmm!" Lagi dan lagi Tica melontarkan kata-kata anti jaimnya.


Acara berlanjut dengan dansa dan juga beberapa jamuan untuk para tamu undangan. Hingga kini malam telah larut, semua tamu undangan dipersilahkan untuk segera pulang ke rumah masing-masing atau membooking hotel dan pulang esok hari. Termasuk sepasang insan yang tadi adalah tokoh utama, kini tengah menikmati malam mereka di bawah guyuran shower.


Selepas mandi, Tica dan Dendy naik ke atas ranjang. Keduanya cukup lelah dengan rentetan acara yang telah mereka lewati tadi, terlebih Tica yang harus bolak-balik berdiri dengan heels untuk menyapa para tamu undangan yang merupakan kolega kerja Dendy.


"Yang? Engga malam pertama yah?" Tanya Dendy mencoba merapatkan tubuhnya ke tubuh sang istri yang sudah lengkap dengan pakaian piyama senada dengan piyamanya. Tica hanya diam tidak merespon ucapan sang suami, tubuhnya lelah dan butuh istirahat jika ia merespon Dendy tidak akan membiarkan dirinya tidur nyenyak malam ini, Tica sangat yakin akan hal itu.


"Ayanggg!" Pria itu masih belum juga menyerah dengan mencoba menggesekkan bagian hidungnya ke ceruk leher Tica yang membelakangi dirinya dengan perut yang sudah sedikit buncit, Tica tidak boleh sembarang bergerak karena khawatir terjadi salah posisi pada janin.


Tica masih membisu berusaha untuk tidur dan menghiraukan ucapan suaminya yang terus saja mengganggunya. Sejujurnya ia ingin sekali tidur tanpa gangguan malam ini, tetapi ia tidak yakin akan kuat jika suaminya terus-menerus menggodanya karena bagaimanapun ia juga memiliki hawa nafsu yang bisa terpancing jika ada yang memancing.


Dendy menggesekkan bagian pusakanya yang sudah membengkak di dalam celana piyamanya ke bagian belakang istrinya hingga Tica bergerak tidak nyaman. Tetapi Dendy tidak menyerah, semakin meraba dua gundukan sintal milik istrinya. Dendy tahu benar, dua buah favoritnya itu adalah titik sensitif sang istri yang akan menjadi milik calon bayi mereka. Semakin membesarnya perut Tica, maka semakin sintal pula ukuran gundukan kenyal dengan titik sensitif di tengah-tengah itu.


Grep!


Tica membalik posisi tiba-tiba ia berada di atas Dendy seraya duduk di perut kekar milik suaminya. Dengan sengaja Tica membuka semua kancing piyama Dendy dengan agresif ia mencium bibir seksi nan kenyal itu dengan bibirnya yang sudah basah. Tica bahkan lebih agresif dari sebelumnya karena kini bukan hanya nafsu, tetapi juga kekesalan yang meluap akibat tidak jadi tidur karena ulah Dendy yang memancing nafsunya.


"Hmm... Sa...yang...!" Dendy terus mengikuti alur permainan istrinya. Seraya membalik posisi membuat istrinya berada di bawah, ia segera berdiri melepas boxer yang menutupi senjata kuatnya. Benda tumpul itu keluar dengan ukuran yang tidak biasa, kekar dengan lapisan kulit yang menjulang otot-otot serta panjang karena telah membengkak di dalam sana tadi. Tica saja sampai menggigit bibirnya tidak sanggup melihat benda besar nan panjang itu akan memasuki miliknya.


Pertarungan malam tidak lagi dapat dihindarkan dengan nafsu yang sudah membakar tubuh keduanya di dalam lembaran kain selimut bergerak penuh gairah dengan erangan dan ******* indah yang keluar dari bibir masing-masing mengundang nafsu yang semakin membesar hingga puncak nirwana itu dapat digapai bersama dengan usaha yang tak pernah sia-sia.

__ADS_1


Keringat mengucur membasahi tubuh mereka, tetapi kegiatan ini seakan membuat candu tanpa mau berhenti walau tubuh sudah tidak lagi mampu untuk meliuk-liuk. Masih saja dengan satu ronde yang dipimpin oleh Dendy dengan gagahnya bergerak di atas sang istri tanpa lelah, sedangkan istrinya sudah tidur karena terlalu lelah membiarkan suaminya bermain sendiri sampai puas.


"Terimakasih Sayang!"


Cup!


Dendy mencium kening istrinya lama, wanita yang sudah terlelap dalam buaian mimpi itu tidak sadar sama sekali kalau dirinya tertidur dalam keadaan tanpa busana. Dendy segera memungut pakaiannya yang ia lempar tadi dan memakainya kembali kemudian segera tidur di samping Tica sembari memeluk wanita itu penuh posesif. Membawa Tica ke dalam rengkuhan hangatnya di belahan dada kekar nan berotot itu. Detakan jantung keduanya saling bertaut dalam indahnya malam gelap yang memabukkan ini.


***


"Akhhh?.. Mas??" Tica berteriak penuh keheranan. Ia berdiri di depan cermin kamar mandi dengan tubuhnya yang penuh tanda merah keunguan bahkan di kaki dan pahanya terutama di bagian leher dan lengannya serta dada atasnya.


"Apa Sayang?" Dendy yang mendengar teriakan istrinya reflek langsung membuka pintu kamar mandi, dirinya pikir ada sesuatu terjadi pada wanita itu. Tetapi setelah menyadari apa yang dimaksud Tica, Dendy hanya diam seraya kembali menutup pintu kamar mandi.


"Ini gimana nutupinnya? Kamu sih buatnya juga di pipi! Nanti kalau ada orang lihat gimana? Kamu nih bikin malu aja deh Mas!"


"Kamu kan punya suami, Sayang! Bilang aja itu ulah suami kamu!"


Plup! Tica memukul pelan bibir suaminya yang asal bicara itu. Memangnya ia kurang kerjaan hingga harus menunjukan hal seperti di hadapan publik, seperti orang tidak pernah mengenak cinta saja.


"Malu Mas!"


"Sejak kapan kamu punya malu?"


"Sejak kamu bikin ginian di tubuhku! Gimana ngapusnya ini?"


"Pakai foundation juga hilang, Sayang!"

__ADS_1


"Engga bisa Mas, ini udah dicoba tapi bekasnya masih kelihatan merah! Kamu itu makanya jangan buat di pipi. Buat di mana aja asalkan jangan di pipi, kamu tuh mikir apa engga sih Mas?"


"Mikir lah, Sayang!"


"Mikir apa?"


"Mikir gimana supaya kamu engga perlu nutupin itu! Biar semua orang tahu kamu punya aku!" Dendy justru semakin gencar mencandai Tica yang semakin merengut sebal mendengar celotehan ngawur Dendy.


"Mikir aja terus! Sampai otak kamu ngukus, aku bakar sekalian!"


"Hehe becanda, Sayang! Kan aku engga sengaja kemarin, Sayang. Lain kali janji engga bakal..."


"Engga bakal apa? Janji terus!"


"Engga bakal bikin kamu keluar! Biar sekalian aku bikin banyakin di bagian sana, haha..."


"Aww Sayang!" Tica sontak mencubit Dendy penuh kekesalan. Sembari menata riasnya memberikan sedikit foundation di bagian pipinya yang bertebaran tanda merah.


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


Vote like and komennya yah.


__ADS_2