Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-49 Merajuk.


__ADS_3

Malam tiba dengan begitu cepat membawa kegelapan dengan Sinaran cahaya murni rembulan dibumbui siraman bintang-bintang kecil yang bertaburan indah di langit. Kemilau cahaya itu kini tengah menjadi saksi bisu sepasang pasutri yang bersatu padu karena adanya cinta yang tumbuh di hati yang bersemi menjadi sebuah kesatuan yang memabukkan.


Pasutri yang dimabuk asmara itu baru saja selesai bergerumul panas di bawah selimut mereguk indahnya kenikmatan duniawi dengan penuh tenaga kehangat dan juga buaian cinta dari hati masing-masing. Dendy merengkuh sang istri dengan erat tanpa memakai apapun di bawah sana karena keduanya sama-sama naked.


"Bagaimana masalahnya bisa selesai, tolong ceritakan secara rinci!" Tica mengangkat kepalanya mendongak menatap sang suami yang juga menatapnya penuh kasih dan cinta.


Dendy menceritakan semua rencana yang telah ia susun rapih bersama Jerry akhirnya berjalan seperti apa yang ia inginkan. Sekarang masalahnya telah selesai setelah merenggut banyak korban, bahkan kini Wila masih terbaring lemah di rumah sakit. Dan akhirnya ia dan istrinya lah yang mengambil alih untuk menjaga si kembar dua puluh empat jam sampai Wila sembuh total.


"Sayang..."


"Iya Mas?" Ujar Tica merasa keheranan melihat suaminya yang meletakkan telapak tangan di perut datarnya sembari mengelus lembut perut putih mulus tanpa noda itu.


"Apa kamu mau punya adik lagi untuk si kembar?"


"Kalau aku sedikasihnya aja, Mas. Yang penting Mas sehat, dan kerja yang giat karena aku engga mau anak kita melarat kaya ibunya!"


"Kamu apa sih, Sayang?"


"Mas kamu tahu kalau hidup aku engga bergelimang harta, aku hiduo dalam lingkup ekonomi sederhana yang hanya cukup untuk makan sehari-hari. Tidak seperti kamu yang memang adalah orang berkelas, aku bahkan dulu sempat bingung bagaimana cara menggunakan shower dengan benar. Dan untuk apa bak mandi sebesar itu? Karena di kampung aku hanya mandi menggunakan gayung dan air keran."


"Tetapi aku tidak suka jika melihat seseorang dari kasta. Karena kita semua manusia yang sama di hadapan Tuhan! Jangan pernah berbicara perihal itu lagi!"


"Iya Mas!"


"Mas, aku masih boleh bekerja kan?"


"Terserah kamu asal kamu bisa membagi waktu dengan baik untuk aku dan anak-anak. Jangan sampai kamu berlarut-larut dalam bekerja, karena tanpa kamu bekerja kamu sudah bisa beli apapun yang kamu inginkan!"


"Siap Sayang!"


***


Empat Minggu telah berlalu, sudah seminggu ini Dendy kesepian karena istrinya selalu pulang di malam hari dan akan tidur setelahnya tanpa melayani dirinya. Pria itu selalu nampak murung ketika melihat perubahan Tica yang mulai sibuk mengurus pekerjaannya terlebih setelah Wila puluh total dan diizinkan kembali untuk mengasuh si kembar.


Akhir-akhir ini Tica semakin jarang berada di mansion karena lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor mengerjakan segala pekerjaan yang semakin menumpuk. Hingga ia telah tanpa sadar mengabaikan suaminya dan juga anak-anaknya.


"Mas?" Ujar Tica menatap suaminya yang tidur membelakangi dirinya. Beberapa hari ini mereka tidur tanpa merengkuh satu sama lain, sebenarnya pria itu sulit untuk terlelap tanpa belaian tangan lentik Tica. Tetapi ia harus memberi pelajaran pada istri nakalnya itu.

__ADS_1


"Aku ngantuk!"


Deg.


Suara dingin itu menyeruak di telinga Tica. Ia paham benar jika suaminya telah berbicara menggunakan nada itu, artinya pria itu sedang tidak baik-baik saja. Tica sontak segera memeluk Dendy dari belakang seraya mengusap perut kekar suaminya yang membentuk kotak-kotak sawah itu.


"Ada apa, Sayang? Kamu marah sama aku? Aku buat salah apa, hm? Kalau aku buat salah, jangan diamkan aku seperti ini, katakan apa salahku agar aku bisa memperbaiki diriku."


Hening, Dendy masih saja diam tanpa menghiraukan ucapan istrinya. Mungkin harinya sudah sakit, pulang kerja bukannya dilayani oleh istri justru dilayani oleh pelayan dan diabaikan oleh istrinya. Hatinya benar-benar panas sekarang, ia marah dan lelah juga kecewa. Dendy tidak mau menyakiti istrinya dengan kekerasan dan membuat rumah tangganya kembali diterpa kehancuran.


Ia perlahan melepaskan tangan Tica dari perutnya dan bernajak dari ranjang menuju ke kamar di lantai bawah tanpa menoleh ke arah Tica yang nampak begitu heran. Ia ingin masuk ke kamar yang sama dengan sang suami, tetapu Dendy justru mengunci pintunya.


Tok tok tok!


"Sayang, Mas buka pintunya! Kamu marah? Maafin aku kalau aku buat salah sama kamu, tapi aku mohon jangan gini, Mas." Tica sebisa mungkin membujuk Dendy tanpa tahu apa kesalahannya ia terus mencoba untuk membujuk, tetapi Dendy memiliki watak yang keras dan tidak mudah untuk luluh. Sekali disakiti, maka akan susah untuk kembali dimaafkan itulah suaminya.


Pagi ini Tica bangun dengan wajah yang masam hendak berangkat ke kantor karena biasanya suaminya yang akan mengantar, tetapi pria itu justru berangkat pagi-pagi sekali tanpa berpamitan padanya. Dan jujur, Tica merasa tidak enak didiamkan oleh suaminya. Akhirnya ia memilih untuk tidak berangkat ke kantor dan meminta izin pada Recaz untuk menemui suaminya di kantor Robson.Drction.


***


"Surprise!!!" Dendy terlonjak, ia menatap wanita di hadapannya yang nampak begitu sempurna membawa sebuah kotak makan. Dendy tidak menunjukan reaksi apapun kembali berkutat dengan banyaknya file yang menumpuk di mejanya.


Tica menunduk sedih, suaminya bahkan sama sekali tidak berniat untuk hanya sekedar memuji penampilannya. Ia menaruh kotak bekal dan duduk di pangkuan suaminya dengan sedikit memaksa. Dendy hanya diam memalingkan wajah ke arah komputer seakan menghiraukan istrinya.


"Sayang!"


"Mas?"


"Hmm!" Sahutnya ketus. Berdiri beranjak membuat Tica jatuh dan hampir saja pantatnya menyapa lantai, untung ia segera bangun.


"Apa aku buat salah, Sayang?"


"Pikir aja sendiri!" Ketusnya. Tica justru semakin dibuat gemas dengan sikap imut bayi besarnya itu.


"Kamu ini kenapa? Biasanya juga langsung marah kalau aku salah, bukannya malah diamkan aku begini!"


"Gapapa!"

__ADS_1


"Kamu sensi banget, Mas! Kaya cewek mau haid."


"Oh!"


"Utututu... Sini Sayang, peluk aku. Maafin aku ya kalau ada salah. Coba bilang aku salah apa?"


"Hiks...hiks.."


"Loh kok nangis?"


"Aku tuh suami kamu! Kenapa selalu pekerjaan sih yang kamu prioritaskan? Aku juga butuh dilayani istriku, setiap aku minta kamu selalu bilang cape karena pulang kerja. Setiap aku minta kamu datang sebelum aku datang, kamu selalu pulang terlambat! Aku cape gini terus! Aku juga butuh diperhatiin..hik...hiks.."


"Maafin aku ya, Sayang!"


Gemesh!


"Aku maafin! Laper!"


"Ayo Sayangku cintaku, kita makan! Mulai sekarang aku janji akan kerja dari rumah aja. Dan sepenuhnya luangin waktu buat suamiku yang tampan ini!"


"Janji?"


"Iya Sayangku! Aku janji!"


Cup!


.


.


.


.


TBC!


Vote like and komennya yah.

__ADS_1


__ADS_2