Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-69 Nikahi putriku besok!


__ADS_3

"Karmila!"


Sepasang suami istri paruh baya datang ke rumah Karmila beserta dengan Dendy dan Tica juga si kembar tetapi mereka justru disuguhkan pemandangan yang begitu tidak mengasyikkan bahwa kini keduanya tengah berbaring di satu ranjang yang sama dengan hanya bermodalkan selembar selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Tica yang ingin menemui Karmila sontak mengajak Dendy untuk kembali ke desa itu sekaligus mengajak kedua putra mereka untuk jalan-jalan menikmati destinasi alam pedesaan yang murni dan hijau mengagumkan. Dendy memang tahu kalau Jerry tertarik pada Karmila tetapi ia sama sekali tidak berpikir Jerry akan senekat ini langsung mengambil hal berharga dari wanita itu.


Dendy dan Tica tidak tahu rumah Karmila sebelumnya, jadi mereka memutuskan untuk menemui kedua orangtua Karmila dan pada akhirnya kedua orangtua Karmila yang mengantarkan Dendy dan Tica ke rumah Karmila tetapi rumah dalam keadaan tidak terkunci hanya kamar saja yang terkunci membuat ayah Karmila heran. Karena setahunya sang putri tidak pernah suka mengunci pintu kamar, ayah Karmila mengambil kunci cadangan kamar itu dan sontak ia memegang dada melihat kelakuan putrinya.


Begitupun dengan ibu Karmila, Nyonya Eliss yang langsung menangis di pelukan suaminya. Beberapa hari lalu, Jerry memang datang ke kediaman mereka dan menyampaikan niat baiknya ingin melamar putri mereka, tetapi siapa sangka Jerry akan menodai putri mereka sebelum waktunya tiba. Ini sungguh memalukan, ayah dan ibu Karmila adalah seorang Kristen sejati yang tidak suka dengan hubungan gelap atau hubungi intim tanpa adanya status, ini jelas melanggar norma agama. Dan hukum yang telah ditetapkan oleh Tuhan mereka.


"Karmila!"


Karmila mengerjap mata kala seseorang menyentuh bahunya dengan suara yang begitu ia kenal dan sontak dirinya menutupi tubuhnya, nyawanya telah terkumpul, betapa terkejutnya Karmila dengan pemandangan di hadapannya bahwa seluruh keluarga telah berkumpul dan Karmila yakin mereka pasti salah paham pada ia dan Jerry.


"Da...daddy? Engga Dad! Mom! Ini engga seperti yang kalian kira! Mila bisa jelasin ini semua, Mila engga mungkin seperti ini setelah trauma itu, Dad!"


"Kamu pikir kami percaya dengan apa yang kamu katakan? Setelah kami melihat dengan mata kepala kami sendiri apa yang terpampang di hadapan kami? Jawab Daddy Karmila!"


"Ada apa ini?" Jerry terbangun mendengar suara bentakan keras ayah Karmila, Tuan Edior. Jerry perlahan memahami apa yang tengah terjadi, namun pria itu hanya terlihat santai saja seakan tidak terjadi apapun padahal semua orang tengah menontin dirinya yang bertelanjang dada seraya Dendy menutupi mata istrinya.


"Kenapa kalian seakan aneh dengan hal ini? Biarkan saja, toh aku akan menikahinya seminggu lagi." Dendy terperangah tak percaya, Jerry benar-benar asisten sejatinya lihat saja sikap pria itu yang sama persis dengan sikapnya saat tahu Tica hamil sebelum mereka menikah. Bahkan dengan terang-terangan Jerry mencium pipi Karmila di hadapan kedua orangtuanya yang membuat kedua orangtua Karmila menatap tidak percaya. Begitupun Karmila sendiri yang masih belum bisa menerima hal ini.

__ADS_1


"Nikahi putriku besok! Atau tidak sama sekali!"


"Tentu!"


"Ta..tapi Dad?"


"Kau ingin membuat orangtuamu malu jika kamu hamil tanpa suami?"


"Ini tidak seperti yang Daddy dan Mommy pikirkan!"


"Kamu masih mengelak dengan semua bukti yang ada?"


"Hanya hubungan gelap? Hubungan gelao dibenci oleh Tuhan! Kalian harus menikah sesegera mungkin, benar kata Daddymu!"


"Terserah kalian! Bisakah kalian keluar dan beri aku waktu untuk memakai kembali pakaianku?"


Semua orang keluar dari kamar Karmila dan dengan segera ia menangis memeluk lututnya tanpa mempedulikan apa yang tengah ia kenakan sekarang.


"Jangan menangis!"


"Puas?"

__ADS_1


"Puas sudah mempermalukan aku di hadapan semua orang dan terutama mommy dan daddy ku? Puas kau? Jahat! Kau pria jahat! Hiks..hiks.." Karmila menangis menepis tangan Dendy yang hendak menyentuh pipinya.


"Maafkan aku, Sayang!"


"Aku tak butuh maafmu! Hiks..hiks.. keluar dari kamarku!"


"Biarkan aku di sini menemani kamu!"


"AKU BILANG KELUAR!" Suara bentakan lantang itu memekik telinga membuat Jerry hanya bisa pasrah memakai kembali pakaiannya dan melangkah kaki keluar dari kamar itu setelah menutup pintu kamar. Mungkin ia perlu memberikan sedikit waktu untuk Karmila menerima kenyataan dan menenangkan dirinya.


.


.


.


.


TBC!


Vote like and komennya yah.

__ADS_1


__ADS_2