
Tica terbangun dengan kondisi tubuhnya yang seakan perih dan remuk redam membuat seluruh tubuhnya menjadi nyeri begitupun dengan kepalanya yang juga nyeri dan berdenyut. Ia perlahan menilik seluruh tubuhnya yang banyak dibalut perban seakan mumi hidup. Di bagian dahi, hidung, kedua lengan dan pundaknya serta bagian belakangnya yang terasa sangat mati rasa akan nyeri dan juga kedua pahanya. Ia seakan lumpuh dengan hanya bisa menggerakkan bola mata dan mulutnya saja.
"Dimana aku, apa ini rumah sakit?" Tanya wanita yang kini tengah terbaring lemah itu. Ia tidur disebuah bangkar dengan layar komputer yang tetap menyala menunjukkan detak jantung dan juga pasokan oksigen yang ia dapat. Alat pernapasan wanita itu terganggu karena bagian hidungnya dan juga dadanya yang masih terluka parah dan butuh beberapa Minggu untuk penyembuhan.
"Akh sakit, aww! Ashhh... Sakittt!" Eluhnya kala dirinya hendak miring ke kanan untuk menjangkau nakas di sebelahnya, niatnya ingin mengambil segelas air untuk mengatasi dahaganya.
Prang!
Gelas itu jatuh dan puing-puing kaca berserakan ketika Tica tidak sengaja menyenggol gelas tersebut. Membangunkan seseorang yang sedari tadi menunggu di sofa dekat bangkar hingga tanpa sadar pria itu tertidur lelap. Sudah tiga hari lamanya Tica dinyatakan koma akibat banyaknya puing-puing kaca yang menancap di tubuh wanita itu.
"Sayang, kamu bangun? Ini kamu, aku yakin ini, kamu pasti sembuh! Mereka semua bohong mengatakan kalau kesempatanmu untuk selamat hanya kecil! Hiks...hiks..." Lelaki itu menangis memeluk Tica yang semakin merasakan sakit di sekujur tubuhnya karena mendapat tekanan lebih dari tubuh kekar lelaki yang tengah merengkuhnya itu.
"Di..mana..pu...tra...ku?" Satu kalimat yang Tica ucapkan lagi dan lagi kalimat yang sama. Karena kekhawatirannya pada putranya membuat dirinya tidak bisa berpikir jernih dengan akal sehatnya. Sebegitu besarkah kasih sayang dan cinta yang dimiliki oleh seorang ibu untuk anak-anaknya? Pikir pria itu, ia sangat bersyukur karena anak-anaknya terlahir dari rahim wanita yang baik dan berhati tulus.
"Sayang, putra kita aman. Mereka bersamaku, aku mohon jangan menyakiti dirimu sendiri, aku lebih sakit! Aku sakit, Sayang. Hiks...hiks...ak...aku mencintaimu! Dan putra kita."
Ya pria itu ialah Dendy, pria yang telah menculik Tica. Demi keamanan dan keselamatan istri dan anak-anaknya Dendy terpaksa harus melakukan hal ini. Dengan mengawasi keluarganya secara langsung otomatis Dendy bisa memastikan keamanan mereka dari manusia psychopath itu.
"Ka..u telah men...culikku! Ini per..buatan... il...ilegal! Ak...u akan me... melaporkan...kau!" Tica ingin sekali mengelus dengan lembut pipi pria itu, namun masih ada secercah benci di hatinya yang masih harus ia singkirkan. Dengan cara melihat seberapa besar perjuangan pria itu untuk kembali bersama dirinya dan anaknya. Tentu Tica tidak akan hanya diam, tetapi ia akan menguji pria itu dengan perkataan atau perbuatan yang akan menyakiti pria itu.
"Silahkan Sayang, laporkan saja aku benci aku pukul aku! Lakukan apapun yang kamu inginkan. Asalkan satu hal yang harus kamu tahu, aku akan tetap mencintaimu selamanya! Tica Maharani!" Sahut Dendy dengan tegas dan lugas mengusap air matanya dan mempersilahkan dokter yang tadi ia panggil untuk segera memeriksa kembali kondisi Tica.
Setelah Dokter itu keluar, Dendy mengambil makanan yang telah disiapkan oleh perawat ahli gizi lengkap beserta obat-obatan yang harus Tica konsumsi.
"Makanlah Sayang, demi anak-anak kita, kau mau sembuh dan bertemu mereka kan?"
__ADS_1
"Aku tidak mau bubur! Itu tidak enak dengan tekstur lembeknya!" Ketus Tica, sungguh dirinya sangat puas bisa menyusahkan suaminya itu yang bahkan tidak pernah peduli padanya selama ia hamil hingga melahirkan si kembar.
"Lalu bagaimana Sayang? Lukamu masih basah, kamu tidak boleh memakan ikan, ayam atau daging lainnya untuk bisa mempercepat proses penyembuhan. Ayolah Sayang, sekali ini saja demi kesembuhanmu!" Dendy menatap penuh permohonan pada wanita itu, tidak tahu saja Dendy kalau Tica sudah ingin sekali tertawa ketika melihat ekspresi menghiba suaminya.
Mana Dendy yang aku kenal arogan dan selalu mengejekku di setiap kesempatan! Yang selalu membuatku sakit hati dan geram akan kata-kata yang terlontar dari mulut sek.. eh mulut jontornya itu! Dasar tuan perfeksionis, galak, jelek!
"Mana aku bisa sendiri!" Ketus Tica, wanita itu sepertinya sudah gila berbicara tanpa berpikir. Untuk menggapai gelas di nakas saja dirinya tidak mampu lalu bagaimana bisa dia makan menggunakan tangannya yang terlilit banyak perban itu. Sungguh tak masuk akal.
"Sayang kau jangan..."
"Jangan bodoh? Atau jangan gila? Kau mengejekku, iya?" Sahutnya menatap tajam pada pria yang tampak berpikir mencari alasan apa yang akan ia katakan pada wanita yang kini berubah menjadi galak bahkan lebih garang dari dirinya selaku suami.
"Ti..tidak Sayang! Maksudku itu, jangan terlalu banyak bergerak, ya! Kamu kan masih sakit, Sayang. Lagipula tidak mungkin dengan kondisi saat ini kamu akan makan sendiri." Sahut Dendy, mungkin sekarang ia selamat dari amukan singa betinanya tetapu lain waktu Tica tidak akan melepaskan pria itu.
"Jangan main cium, nanti aku tertular virusmu!" Sarkas Tica seraya perlahan mengusap bekas kecupan Dendy di beberapa bagian wajahnya.
"Aku bukan virus, Sayang!"
"Kau bukan virus penyakit tetapi virus pembawa dosa!"
Tidak tahukah pria ini, melihat wajahnya saja sudah membuat fantasi liarku menjadi-jadi. Menambah dosa saja, ingin sekali aku tutupi wajahnya supaya tidak dilihat wanita lain!
Setelah menyuapi Tica dan membantu Tica meminum obatnya, Dendy segera berlalu untuk membersihkan dirinya karena tiga hari ini dia benar-benar tidak beranjak dari sisi Tica hingga ia lupa untuk memerhatikan dirinya sendiri.
"Huh, sial sekali. Ini semua gara-gara pria gila itu, asalkan dia tak menculikku! Ingin sekali aku menelfo... handphone! Handphone-ku mana? Recaz pasti khawatir, aku harus menghubungi Recaz. Pria gila itu memang sangat menyusahkan, selalu saja menyusahkan! Kalau bukan suamiku, sudah aku cekik dari lama!" Tica kesal bukan main, Dendy benar-benar membuat dirinya kesal setengah hidup.
__ADS_1
"Awas saja kau! Akan aku balas dengan setimpal!" Imbuh wanita itu dengan senyuman smirknya.
"Jangan membicarakan aku, Sayang. Aku masih di sini mendengarkan kamu!" Seorang pria bertelanjang dada hanya memakai handuknya berdiri dari bawah. Arlojinya terjatuh di bawah di belakang sofa dan pria itu terpaksa kembali untuk mengambil arlojinya hingga dirinya bisa mendengar Tica sedang membicarakannya.
Deg!
Duh gustiii! Pria ini seperti jelangkung saja, tiba-tiba muncul kan aku kaget.
"Suka-suka aku!"
"Ish!"
.
.
.
.
TBC!
Vote like and komennya yah.
Duh malunya Terciduk sama babang Dendy!! haha
__ADS_1