
USA, New York city.
Dendy yang baru saja selesai membersihkan dirinya dan baru saja ia keluar dari ruang ganti. Pria itu berniat untuk kembali ke ruang kerja, tetapi ia tak menemukan handphonenya. Ia pun berinisiatif untuk mencari di kolong ranjang, mungkin handphonenya terjatuh.
"Kenapa handphone-ku bisa terjatuh. Dan apa ini juga terjatuh?" Dendy menemukan sebuah kotak kecil seperti flashdisk.
"Ini sama sekali tidak masuk akal! Handphone tidak akan terjatuh jika tidak disenggol atau disentuh. Apalagi, handphone itu kan lumayan berat jika hanya disenggol cicak tidak mungkin jatuh." Ujarnya merasa heran, Dendy ingat betul kalau ia meletakkan handphonenya di atas nakas dengan benar.
"CCTV!"
Dendy melangkah ke ruang kerjanya, ia nyalakan komputernya dan segera mengecek CCTV di ruang kamarnya. Entah kenapa Dendy sangat yakin kalau ada orang yang baru saja memasuki ruang kamarnya. Handphone dan flashdisk miliknya tidak mungkin terjatuh jika tidak disenggol atau sengaja dijatuhkan oleh seseorang.
"Ah ketemu!"
Dendy melihat dengan saksama seorang wanita yang masuk ke dalam kamarnya. Dan ya, CCTV itu juga bisa merekam suara, Dendy bukan orang bodoh yang mudah untuk ditipu daya.
"ANGELINE! Tidak, ini salah paham! Tica pasti mengira kalau itu suaraku, ah sial. Angeline mengedit rekaman suara itu menjadi mirip dengan suaraku. Aku harus menghubungi Tica, Angeline pasti mendapat nomor Tica dari handphone-ku."
Dendy mengotak-atik handphonenya kembali, ia mencoba untuk melakukan panggilan suara pada Tica. Tetapi Tica telah memblokir nomornya, Dendy tak kehabisan akal. Pria itu memakai SIM card baru dan menyalin nomor Tica.
"Ah sial, kenapa nomornya tidak aktif? Apa Tica ganti nomor? Akhh!!"
Pria itu semakin gelisah saat ia tidak bisa menghubungi Tica. Ia tidak bermaksud untuk melupakan atau mencampakkan Tica, tetapi Angeline sampai seberani itu mencapuri urusannya.
"Sayang?" Seorang wanita cantik datang dan menghampiri Dendy. Wanita itu dengan santainya duduk di pangkuan Dendy, tanpa melihat raut wajah Dendy yang sudah tidak bersahabat. Dendy adalah tipe orang tertutup dan sama sekali tidak menyukai jika ada seseorang yang mencampuri urusan pribadinya.
"Turun!"
Brak!
Angeline terjatuh karena Dendy tiba-tiba saja berdiri. Pinggangnya sukses mencium lantai dengan sedikit keras.
__ADS_1
"Kau! Jelaskan ini!"
Deg!
Dendy mencengkram rahang Angeline dan meminta wanita itu untuk menjelaskan alasannya melakukan semua ini. Kenapa dia harus menyakiti Tica, kenapa dia harus menyakiti ibu dari anak Dendy.
"Kenapa? Apa kamu marah hanya karena itu?" Sahut Angeline dengan santai.
"Keluar dari apartemen-ku sekarang! Kita putus, apa kau pikir semua ini hal kecil? KAU TIDAK TAHU SEMUANYA! JANGAN PERNAH SOK TAHU! Dia mengandung benihku, dia adalah ibu dari anakku. Bagaimana kalau aku tidak bisa bertemu anakku hanya karena ulahmu ini! Wanita bodoh!"
Angeline tertohok, baru kali ini Dendy membentaknya sekeras itu hanya karena Tica. Sungguh kebenciannya pada wanita desa itu telah mendarah daging.
"Tapi..."
"Apa? Kau pikir aku tidak tahu semua kelakuanmu dibelakangku? Kau bermain dengan banyak pria kaya, kau adalah pelacurr rendahan. PERGI ATAU AKU AKAN MENYERETMU!"
"Tidak!"
Angeline berlutut di depan kaki Dendy. Wanita itu memegang kaki Dendy dengan air mata yang hanya buaya semata.
"KELUAR!"
Brak!
Dengan keras, Dendy membuang tubuh wanita itu keluar dari apartemen-nya dan ia mengganti password apartemen-nya agar wanita itu tidak lagi bisa menginjakkan kaki ke dalam apartemen-nya.
"Hallo Jerry?"
("Ya Tuan, apa Anda butuh sesuatu?")
Ujar Jerry sang asisten yang merupakan sahabatnya semasa ia kuliah dulu.
__ADS_1
"Pesankan aku tiket pewasat untuk ke Indonesia. Aku mau penerbangan besok pagi!"
("Tapi Tuan masih banyak yang harus diselesaikan!")
"Kita bisa selesaikan semuanya di sana nanti. Kau juga ikut aku untuk membantuku nanti!"
("Tapi Tuan?")
"Jangan banyak tapi, pesan sekarang!"
("Baik Tuan!")
POV DENDY!
Ya Tuhan, kenapa serumit ini. Aku berharap pada wanita yang selama ini telah mengkhianati aku. Aku membuang berlian hanya untuk sebongkah batu yang sudah kotor. Aku menyesal, tetapi aku tidak akan pernah menyerah.
Walaupun Tica telah salah paham, tetapi aku akan meluruskan semuanya. Walau tidak akan semudah yang aku kira. Angeline, wanita perusak itu, aku menyesal telah mempercayai dia tetapi aku bersyukur karena bisa tahu siapa dia sebenarnya. Untung saja aku meminta Jack untuk menyelidikinya.
Apa Tica masih ada di apartemen-ku? Aku benar-benar malu menampakkan wajahku lagi, tetapi aku akan mengesampingkan rasa maluku demi anakku. Ya anakku pasti telah ada di dunia. Aku ingin tahu setampan apa dia, atau secantik apa dia? Maafkan aku, Tica! Aku menyesal, Ya Tuhan tolong bantu aku!
POV End.
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
Vote like and komennya yah.
Tetap ikuti alur yah, enjoy aja. Karena takdir mereka udah Cyndii buat dengan sedemikian rupa, haha. Sorry ya guys up-nya tersendat karena belakangan Cyndii banyak tugas. huhu, ini aja curi-curi waktu.