
Brak!
Tubuh lemah wanita itu terpakar tidak berdaya kala dirinya mencoba untuk mengejar Dendy, hingga membuat pria yang berjalan di hadapannya itu berhenti dan kembali memutar langkah menuju wanita itu. Wanita yang memiliki harga diri begitu tinggi hingga tak tergapai oleh siapapun. Bahkan berhasil memancing emosi Dendy berkali-kali.
Dendy menggendong tubuh penuh luka itu dengan perlahan membuat sang empu terkejut karena tidak tubuhnya melayang di udara. Keduanya saling diam tanpa ada sedikitpun pembicaraan bahkan kini mereka bisa mendengar suara AC mobil yang berhembus sedang saking sunyinya keadaan di dalam mobil mewah milik Dendy.
"Aww hiks... Kakiku aww... Hiks... Ibuuu!! Ayah!!!" Tica berteriak kesakitan ia bukan berdrama atau ingin mencari perhatian tetapi bagian pada kanannya memang benar-benar sakit. Seakan kulitnya mengelupas dari daging dan tulangnya.
"Tak usah berpura-pura, tadi kau sehat-sehat saja!" Sahut Dendy dengan ketus, wanita itu suka bercanda ia kira itu hanya candaan receh Tica. Tanpa melihat kenyataan yang sebenarnya Dendy tiba-tiba saja melontarkan kalimat mengesalkan itu.
"Hey sialan! Hidupku sudah penuh drama, untuk apa aku membuat drama lagi? Awww hiks... Pahakuu!" Teriaknya lagi dan lagi bahkan sempat-sempatnya ia mengumpati Dendy dalam kondisinya yang benar-benar membutuhkan pertolongan dan hanya pria itulah satu-satunya orang yang ia kenal dan bisa menolongnya. Bukannya memohon, Tica malah memaki Dendy.
"Dendy sakitt!! Ashhh hiks...hiks...."
Mendengar teriakan pilu Tica, Dendy mana bisa tahan. Pria itu segera menaikkan rok Tica hingga ke bagian paha dan melihat apa yang terjadi pada wanita itu. Dan benar saja, lukanya kembali terkelupas hingga menimbulkan banyak darah mengucur. Dan bahkan luka yang sebelumnya telah mengering harus kembali ternganga lebar akibat benturan keras saat Tica terjatuh tadi.
"Darah? Lukamu terbuka kembali! Sebentar aku ambil P3k di belakang!" Pria itu segera turun dan bergegas mengambil kotak obat di bagian bagasi mobil. Setelah itu dirinya meminta Tica untuk mengangkang agar lukanya bisa dilihat lebih jelas.
"Mengangkang? Kau pikir aku mau melahirkan? Ashh..." Protesnya tak terima.
Karena Tica begitu banyak bicara, Dendy pun geram dan memaksa mengangkat paha sebelah kiri Tica agar dirinya bisa melihat jelas dan membersihkan darah di paha bagian kanan Tica.
Dengan telaten dan kesabaran Dendy terus mengelap darah yang mengucur dan kembali menutup luka itu dengan perban kemudian merekatkan menggunakan perekat luka. Setelah itu Dendy membasuh tangannya yang terkena darah menggunakan air mineral yang ia bawa.
"Jangan banyak bergerak! Kau membuatnya kembali terbuka!"
"Hmm!"
Mobil pun melaju memecah keramaian jalan di ibukota Amerika itu. Salju mulai turun di jalan karena musim salju memang tengah melanda negeri Paman Sam itu semenjak tadi pagi.
"Saljunya indah sekali!" Tica mengulurkan tangannya keluar jendela demi bisa menyentuh butiran salju yang turun dari langit bahkan ia juga menyembulkan kepalanya keluar.
"Jangan begitu, pakai penutup kepalamu dan pakai mantelmu! Kau bisa kedinginan nanti."
"Ya ya, Tuan! Tapi lihatlah saljunya sangat indah!"
__ADS_1
"Kau tahu salju tidak begitu indah jika dibandingkan dengan senyumanmu, Sayang."
"Gombal!" Tica memutar bola matanya jengah mendengar kata-kata manis pria itu.
"Aku tidak bohong, Sayang. Bisakah kita bicara dari hati ke hati." Ujar Dendy seraya menepikan mobilnya dan parkir di tempat yang aman sehingga tidak menggangu pengendara lainnya. Pria tampan itu memegang kedua tangan Tica dan menatap netra coklat gelap milik wanita itu dengan sungguh-sungguh.
"Ouhhh Pria malang, sayangnya hatiku sudah kau hancurkan. Bisakah puing-puing hati itu kembali berbicara setelah aku tidak tahu di bagian mana mulutnya!" Sahut Tica setengah mencandai Dendy, sontak pria itu melongo tak percaya. Ia menganggap perkataan Tica tadi adalah sungguhan dan menohok hatinya, tidak disangka kalau dirinya begitu menyakiti wanita sesungguhnya yang telah rela mempertaruhkan nyawa demi melahirkan putranya.
"Aku, aku adalah pria terburuk, Tica. Tampar aku, pukul aku, Sayang. Asalkan bisa membuatmu memaafkan aku, aku mohon Sayang, berikan aku kesempatan untuk membangun puing-puing yang telah hancur itu."
"Bukankah aku telah memberimu kesempatan selama dua Minggu ini. Pernakah aku menolak kehadiranmu dua Minggu ini? Lalu apa kau melakukan yang terbaik?"
"Sayang aku mohon, jangan tinggalkan aku, Tica. Aku...aku.."
"Sttt! Bayi besarku menangis rupanya. Dasar pria cengeng!"
Dendy merengkuh Tica secara mendadak, hingga tubuh Tica sedikit terlonjak dan luka di pahanya kembali bergesek hingga terasa sedikit perih tetapi Tica tidak ingin menghancurkan momen bahagia ini.
Ini saatnya untuk memaafkan dia. Ya Tuhan, berikan aku keyakinanku kembali pada suamiku. Dia telah banyak berkorban belakangan ini, tetapi aku masih ingin dia lebih berusaha lagi.
"Tetapi?"
"Bisakah kamu berjanji untuk tidak meninggalkan aku?"
"Tidak bisa. Karena jika kamu tidak bisa kembali membangun hatiku, maka aku akan meninggalkan kamu dan membawa serta kedua putra kita."
"Tidak! Tidak akan pernah! Kamu milikku, kalian milikku!"
"Iya baiklah, tetapi jangan memelukku terlalu ketat begini. Selain susah bernafas, kau juga menggencet lukaku yang di bagian belakang."
"Ah, maafkan aku, Sayang."
Dendy segera melepas rengkuhan maut yang menyakiti wanitanya itu. Ia benar-benar melakukannya karena reflek, hatinya tengah berbunga karena pengorbanannya tidak akan sia-sia jika Tica kembali memberinya kesempatan untuk memperbaiki segalanya.
Pria tampan itu mengusap bekas air matanya dan hendak melajukan kereta besinya, tetapi saat dirinya melaju. Tiba-tiba dari arah sebuah truck dari arah belakang melaju dengan cepat hingga Dendy yang menyadari itu langsung membuang stir ke kanan dan alhasil mobilnya menghantam pembatas jalan.
__ADS_1
"Akhhhh......"
Bruak!
Duar!!
Truck itu langsung terbakar tepat lima belas meter di depan mobil Dendy.
Akibat kecelakaan itu, kursi kemudi yang diduduki Dendy rusak tak beraturan. Tetapi untungnya Tica masih sadar walau darah sudah banyak mengucur dari kepalanya. Ia mengambil handphone Dendy di saku celana pria yang kini tengah tak sadarkan diri itu.
"Dendyyy bangun!"
"Hello Jer! Kami kecelakaan! Dendy pingsan segera kemari. Aku akan kirim lokasinya!"
"Ashhh kepalaku sakit sekali!"
"Dendy bangunn!! Jangan tinggalkan aku, atau aku akan membencimu! Hiks...hiks..."
"Aa..ku...me..ncinta...i...mu! Ja..ga...anak...anak...de...Ngan...ba...ik!"
"Tidakkk!!!! Kau harus selamat buka matamu!"
"Hiks...hiks...hiks...tidakk!!"
Tica terus meracau menepuk pipi Dendy yang telah bermandikan darah segar. Beberapa polisi segera datang ke TKP dan mengamankan pengemudi truck yang ugal-ugalan itu. Serta beberapa pengawal yang dikirim oleh Jerry juga telah datang membawa dua buah ambulance dan mengangkut masing-masing korban untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit. Sedangkan sopir truck tewas di tempat.
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
Vote like and komennya yah.