Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-12 Malingg!!


__ADS_3

Pagi menjelang siang, Dendy telah berada di kantor bersama dengan Brydan. Seperti biasa, setelah mengadakan meeting dengan beberapa klien, Dendy akan kembali ke ruangannya. Tetapi sang atasan justru memanggilnya dengan terpaksa ia harus kembali lagi ke ruangan Brydan.


"Apa Anda butuh sesuatu, Tuan?"


Ujar Dendy dengan sopan. Brydan adalah prioritasnya dan ia sama sekali tidak berminat untuk hal apapun. Mungkin lebih tepatnya, tidak begitu peduli pada apapun selain Brydan.


"Hmm! Aku ingin bicara sesuatu, duduklah!"


"Apa itu, Tuan?"


"Aku ingin kau memegang kendali atas perusahaanku yang ada di Amerika. Beserta dengan cabang-cabangnya. Aku melihat ada sesuatu yang tidak benar! Berantas semua yang mencoba untuk mengotori perusahaanku!"


"Tapi Tu--"


"Kau tidak mau?"


Sahut Brydan keheranan, baru kali ini Dendy bisa menolak perintahnya. Walaupun dirinya sama sekali tidak keberatan jika Dendy menolak, karena Brydan pun tak bisa memaksakan kehendaknya.


"Saya bersedia, Tuan!"


Ah rencana kita berhasil, Sayang! Dengan begini Dendy pasti akan lebih memprioritaskan istrinya dibanding diriku.


"Kalau boleh tahu, apa ada masalah Tuan?"


Tanya Dendy hati-hati, karena setahunya perusahaan pusat yang ada di Amerika tidak pernah mengalami masalah berat. Hanya masalah kecil yang bisa diselesaikan oleh para staff.


Brydan memang memiliki perusahaan pusat dan beberapa anak cabang di Amerika yang bergerak di beberapa bidang. Seperti bidang Pendidikan dengan dibangunnya beberapa sekolah swasta. Bidang fashion dengan beberapa mall dan butik besar di beberapa titik di kota-kota besar. Bidang perhotelan dengan dibangunnya dua hotel besar di pusat kota New York. Serta di bidang kuliner dengan dibangunnya restoran berbintang lima di beberapa kota di USA.


"Tidak ada masalah besar, aku hanya ingin kau mengambil alih perusahaan yang ada di sana. Aku ingin berbulan madu bersama istriku untuk beberapa bulan ke depan."


"Baik Tuan!"


"Siapkan kepindahanmu besok! Aku ingin secepatnya!"


"Baik Tuan!"


"Bukankah kau juga telah memiliki card yang menandakan kau warga lokal disana?"


"Iya Tuan, berkat bantuan mendiang Daddy-ku dan juga Tuan besar. Karena beliau berdua adalah warga asli USA!"


"Bagus!"

__ADS_1


***


"Selamat datang, Tuan!"


Tica dengan gembira menyambut kedatangan suaminya. Ia mengambil alih tas kerja Dendy dan menaruh pada tempat semestinya.


Dendy hanya diam dan melangkah ke kamar mandi guna membersihkan dirinya. Pria itu nampak begitu kalut dan raut wajah lelah tercetak jelas di wajah tampan Dendy. Bukan kalut soal apa, sebentar lagi dirinya akan pergi ke Amerika lalu bagaimana dengan Tica. Istri yang hanya ia anggap sebagai tanggung jawabnya? Bukan benar-benar mencintai Tica.


Setelah merilekskan dirinya, pria itu telah mengganti pakaiannya menjadi casual atau pakaian ala rumahan. Matanya berbinar melihat makanan telah tersaji indah di atas meja makan.


"Silahkan makan! Spesial untuk orang yang baru selesai mandi!"


Ujar Tica yang baru saja muncul dari balik tirai jendela. Dengan senyum memesona dan rambut yang selalu diikat seperti ekor kuda.


"Makanan apa lagi ini?"


Namun saat ia melihat makanan itu dari dekat, dahinya kembali menyerengit. Kenapa istrinya itu suka sekali membuatkan makanan aneh tapi enak untuk dirinya.


"Ini namanya rujak Madura, Tuan! Ini cingur, ini ketimun, ini lontong, ini kangkung dan terakhir ini piringnya!"


"Kenapa kau suka sekali membuat makanan aneh? Warnanya seperti daki saja! Aku jadi tidak selera makan."


"Karena Tuan orang aneh! Kalau tidak selera taruh saja, karena tidak ada unsur paksaan disini. Silahkan Anda angkat kaki dan saya akan memakan semuanya sendiri!"


Dasar arogan! Ku sumpahi tidak ada restoran atau warteg yang buka, biar kelaparan sekalian!


Akhirnya Tica memakan rujak yang ia buat itu sendiri. Rasanya tetap nikmat, karena ibunya memang selalu mengajarkan dirinya untuk memasak. Jadi kalau untuk rasa tidak perlu diragukan.


"Sial! Kenapa tidak ada restoran yang buka!"


Dendy terus mengotak-atik handphonenya hendak memesan makanan online. Tetapi dirinya lupa kalau hari sudah larut dan hari ini juga tahun baru, hampir semua restoran tutup.


"Ah hari ini tahun baru, pasti mereka tutup karena itu. Apa wanita itu masih disana?"


Dendy mengintip Tica yang makan dengan lahap dari pintu kamarnya. Sungguh menyesal dirinya menolak makanan yang Tica buatkan, karena kini ludahnya hampir saja menetes.


"Akhirnya kenyang juga. Tapi aku tidak habis, biarlah aku taruh disini nanti aku hangatkan lagi."


Gumam Tica, masih ada sedikit lagi sisa. Ia tidak terbiasa membuang makanan, diluar sana masih banyak orang yang membutuhkan. Pantaskah kita menyia-nyiakan rezeki yang Tuhan berikan? Tentu tidak.


Tica beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan tidur karena hari juga sudah mulai larut.

__ADS_1


"Dia pergi!" Gumam seorang pria dari dalam pintu kamarnya. Ia mengendap-endap ke meja makan dan membawa sebuah piring yang masih tersisa makanan. Walau itu bekas Tica, tetapi tak apalah daripada perutnya lapar. Membawa makanan itu ke kolong meja dan makan dengan hikmat di bawah meja makan bagaikan maling.


Sepuluh menit kemudian.


Tica yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat ke arah meja makan merasa heran. Kenapa piringnya hilang satu, pikirnya. Dan stimulus otaknya langsung berjalan ketika melihat taplak meja sedikit bergerak-gerak. Ia tahu, siapa tuyul berkepala hitam itu. Yang telah mencuri makanannya.


"Makan yah?"


"Iya!"


"Enak?"


"Enak!"


Seketika Dendy terlonjak ketika melihat siapa yang ada di sebelahnya dan bertanya ini itu kepadanya.


"Makan saja Tuan! Enak kan jadi maling?"


"Tidak enak makanannya!"


"Tidak enak apa kurang?"


Ujar Tica semakin menjadi menggoda pria itu.


"Sudah sana aku mau kembali!"


Dendy menaruh piring yang telah kosong itu kembali ke atas meja. Sungguh dirinya malu setengah hidup, Tica memergokinya langsung. Walau ia akui makanan yang Tica buat memang lezat dan aneh dimatanya.


"Makanya jangan banyak protes! Kena karma kan, mana ada restoran buka tahun baru? Hahaha..."


Tica dengan sengaja mengeraskan suaranya agar si Tuan Perfeksionis itu mendengarnya. Walau Dendy hanya diam dan melengos saja. Biarlah wanita itu mengejeknya, ia juga tidak begitu peduli asal perutnya sudah terisi.


Dendy segera bersiap menaruh beberapa dokumen penting dan juga beberapa lembar pakaiannya ke dalam koper. Masalah pakaian, ia bisa membeli nanti. Dendy sudah memikirkan dengan matang, kalau ia akan meninggalkan Tica di apartemen untuk sementara. Karena ia tidak bisa mengajak wanita itu jika mendadak seperti ini, terlebih lagi Tica tengah hamil. Tidak baik melakukan perjalanan jauh untuk wanita hamil. Walau ia masih belum menceritakan apapun pada Tica. Dan Dendy akan segera memberitahukan Tica besok pagi sebelum keberangkatannya.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC!


Vote like and komennya yah.


__ADS_2