Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-33 Pergilah!


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Luka-luka di tubuh Tica sudah mulai sembuh setelah berhari-hari mendapat pengobatan yang terbaik walau masih belum sepenuhnya sembuh total. Tetapi luka-luka itu sudah mulai mengering dan mungkin akan membekas di beberapa bagian. Tetapi perlahan bekas luka bisa menghilang jika diberi perawatan rutin untuk kulit.


"Handphone-ku mana? Aku ingin bertemu putraku!"


"Memohonlah!"


Sial! Dia mengambil kesempatan dalam kesempitan!


Tica masih diam tidak beranjak ataupun berniat untuk membuka katupan mulutnya, membuat Dendy semakin gencar menggoda wanita cantik miliknya itu. Dendy semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Tica sembari menekan tombol di samping stir agar mobilnya bisa mengemudi dengan sendirinya.


"Mau apa kau?" Sontak Tica menjauhkan wajahnya mengira Dendy hendak mencium bibirnya. Padahal dugaanya salah besar, Dendy justru ingin mengatakan sesuatu tepat di telinga wanita itu.


"Cepatlah memohon jika kau ingin kembali bertemu putra KITA!" Bisik Dendy tepat di telinga Tica membuat buku kuduk Tica meremang mendengar suara sensasional milik pria tampan itu.


Dengan keterpaksaan, Tica mencoba untuk memohon pada Dendy, hanya inilah satu-satunya cara agar ia bisa bertemu dengan kedua putranya yang sangat dirindukannya. Bayangkan saja hampir dua Minggu lamanya Tica sama sekali tidak melihat anak-anak bahkan kabar saja tidak diberitahu oleh Dendy, si pria kejam itu.


"Aku mohon!" Ujarnya dengan ketus dan nada sedingin salju kutub Utara.


"Hey ayolah, mana ada orang memohon berbicara ketus dan dingin. Dimana-mana orang memohon harus berkata lembut dan penuh cinta!" Sahut Dendy semakin menjadi menggoda istrinya yang ia tahu tengah malu untuk melontarkan kata-kata romantis.


"Aku m..m..m! Akh aku tak bisa, kenapa kau sangat rewel? Yang pertama aku bukan wanita penggoda, yang kedua aku tidak suka memohon dan yang ketiga emphhh---" Seketika mulut Tica terbungkam akibat serangan mendadak yang Dendy lakukan, pria itu benar-benar melakukannya.


Tica melotot tak percaya, biasanya hanya mengecup tapi ini. Ini bukan lagi kecupan tapi ciuman dalam, Dendy ******* bibir peach mungil milik Tica yang selalu mengeluarkan kalimat-kalimat pedas itu. Dendy menggigit kecil bibir bawah Tica agar terbuka, reflek Tica membuka bibir bawahnya.


"Le emphhh---"


Tica perlahan kehilangan nafasnya, Dendy bahkan tidak memberikan kesempatan untuk sekedar menghirup oksigen.


Krek!


Dengan sengaja Tica menggigit bibir bawah Dendy dengan keras hingga benda kenyal tak bertulang itu mengeluarkan setetes darah dan terasa amis di lidah.


"Ashhh! Sayang kau menggigitnya, ini berdarah!" Ujarnya masih dengan memegang bibirnya.


"Main nyosor aja! Kau pikir aku ayam? Mikir dong! Ini di mobil, gimana kalau ada orang yang melihat dan kita disangka mesum! Kita bisa ditindak pidana!"


"Tapi kan kita suami istri, Sayang? Apa salahnya aku hanya melakukan ciuman, toh ini bukan di Indonesia jadi tidak akan terjadi penggrebekan masal!"

__ADS_1


Oh ya, aku lupa. Sebegitu cintanya pada Indonesia sampai selalu ingat Indonesia.


"Terserah mu! Pulangkan aku, Recaz pasti khawatir tapi terlebih dahulu aku ingin putraku!"


"Aku tak suka kau membicarakan pria lain, Tica Maharani!" Suara Dendy berubah menjadi dingin dan mencekam membuat Tica sedikit takut, tetapi ia seakan tetap berusaha untuk sok cool.


"Suka-suka aku! Memangnya kau punya hak apa untuk mengatur perkataanku!"


"Awww!" Dendy mencengkram rahang Tica, ia dekatkan wajahnya tepat di depan wajah Tica.


"Sangat, aku sangat berhak atasmu! Kau adalah milikku, apa aku harus membuktikan seberapa berhak aku atas dirimu?"


Tica sama sekali tidak menatap netra hijau milik Dendy. Tica terus melirik ke kiri dan ke kanan seakan menghindari bertatapan dengan netra hijau elang itu.


"Hmm!" Sahut Tica dengan mudahnya tanpa berpikir apa yang akan Dendy lakukan.


Brummm!


"Hey! Pelankan mobilnya, aku masih ingin hidup! Jangan gila." Teriak Tica, mobil yang mereka kendarai tiba-tiba berjalan dengan begitu cepat. Dendy bahkan sama sekali tidak mengindahkan apa yang Tica katakan.


"Dendy!" Bentak Tica lagi dan lagi, bukannya menurunkan kecepatan mobilnya, Dendy justru semakin menginjak pedal gas di bawah sana. Membuat kecepatan mobil itu semakin bertambah, untung saja jalanan sedang sepi tetapi melaju terlalu cepat juga berbahaya.


***


Ckittt.


Mobil berhenti di sebuah hotel. Hotel bintang lima dengan segala kemewahan dan keindahan di dalamnya. Dendy dengan jantannya menggendong Tica yang tidak mau keluar dari mobil. Terasa badan wanita itu gemetar dan mengeluarkan keringat dingin.


Bruak!


Dendy meletakkan tubuh Tica di ranjang setelah dirinya membooking sebuah kamar VVIP.


Pria itu membuka seluruh pakaian atasnya hingga kini ia bertelanjang dada. Perlahan ia mendekati Tica, tubuh kekar nan indah itu terus berjalan mendekat.


"Apa yang kau lakukan? Kenakan pakaianmu! Dendy berhenti aku bilang!" Teriak Tica dengan menggelora hingga suaranya menggema di ruang kamar tersebut.


"Kay ingin pembuktian bukan?" Sahut Dendy, berhasil membungkam mulut Tica. Tetapi Dendy tidak berhenti, terus melangkah mendekat membuat Tica mundur dan terus mundur hingga mentok menatap tembok. Dendy sudah tepat berada di belakangnya, bahkan milik Dendy sudah menyentuh pantaat sintalnya.

__ADS_1


"So it's the time for me to give you a proof!"


Uhh! Suara sensasional yang sangat memabukkan menyeruak masuk ke dalam gendang telinga milik Tica. Seketika bulu kuduknya meremang, suara candu yang sangat seksi.


Tangan Dendy mulai terangkat meraba paha putih mulus milik Tica, terus terangkat hingga ke bagian dua benda sintal yang ukurannya lebih besar dari telapak tangan Dendy.


"Ini hanya milikku, Sayang!"


"Lepas! Jangan gila, Dendy! Aku akan sangat membenci dirimu jika kau sampai melakukannya!"


"Apa kau berharap aku akan melakukannya, Sayang?"


"Shittt! Lepas! Kau kotor, lepaskan aku Brengsekk! Hiks...hiks...!"


Dendy menganggap semua perkataan Tica hanya angin lewat saja. Ia tetap melakukan hal kotor itu, tangannya terus ke atas hingga menyentuh dua buah favoritnya. Ia sedikit meremas benda itu dan mempermainkan dengan dua jarinya.


"Hiks jangan! LEPASKAN! GILA KAU!" Tica terus berteriak hingga suaranya begitu menggema di setiap sudut ruangan. Untung saja ruangan itu kedap suara sehingga tidak akan menganggu pengunjung lain.


Dendy seketika melepaskan semuanya. Ia melepas tengannya dari tubuh Tica bahkan juga Kungkungannya. Ia menjauh duduk di atas ranjang.


"Kau tahu Tica, anak-anak tercipta dari manusia yang kau sebut kotor ini! Kau terlalu egois untuk ini, aku telah memohon dengan segala cara tetapi kau tetap tidak mau mendengarkan aku barang satu detik saja. Ini semua aku lakukan bukan untuk diriku sendiri, tetapi untukmu dan anak-anak! Jika saja aku tidak menculikmu, mungkin dia yang akan menculikmu dan menjadikanmu budaknya! Dan melakukan kekerasan pada anak-anak."


"Katakan dia siapa?"


"Wanita psyhopath itu!"


"Jika kau ingin aku membebaskan dirimu, jika itu kebahagiaanmu, maka pergilah."


Degg!


.


.


.


.

__ADS_1


TBC!


Vote like and komennya yah.


__ADS_2