
"Ya Tuhan, tubuhku kenapa remuk redam begini! Dasar tom Jerry, sudah aku bilang jangan berlebihan masih saja memaksa. Tapi kenapa aku juga mau dikelabui sama dia? Ish!!"
"Apa ada yang membicarakan aku? Kenapa aku bersin ya??"
"Kau terlalu besar kepala, Tuan suami!"
Jerry merengkuh tubuh Karmila yang baru saja bangun, pria itu hari ini izin untuk cuti bekerja karena deadline hari ini tidak terlalu banyak. Karmila diam seraya mengecup kecil pipi Jerry, pagi ini begitu indah bagi mereka berdua tanpa ada gangguan. Tetapi tiba-tiba terdengar suara pintu rumah diketuk, Jerry sungguh merutuki orang yang mengganggu kebersamaan dia dan istrinya.
"Siapa sih!" Jerry merengut sebal seraya membiarkan istrinya beranjak dari kamar dan menemui orang yang datang di depan pintu.
"Hy!" Sapa seorang wanita berpakaian seski dengan riasan yang begitu tebal seakan menebar kecantikannya. Hotpant yang sangat minim disandingkan dengan tanktop putih yang menampakkan bentuk dadanya menyembul keluar.
"Kamu! Untuk apa kamu kesini?" Karmila menatap sinis wanita itu, wanita yang merupakan teman lamanya dan sekaligus musuh terbesarnya yang selalu membuka dirinya saat ia berada di sekolah menengah dulu. Bahkan wanita itu kerap kali mengolok Karmila, hanya karena Karmila berasal dari keluarga yang sederhana, tidak seperti dirinya yang berasal dari keluarga yang lebih berkecukupan.
"Kau, bukankah ini rumah Jerry? Kenapa kau yang ada di sini? Oh aku tahu, kau pasti pembantunya kan? Mana tuanmu, aku ingin bertemu dengan tuanmu!"
"Baby!" Teriak Karmila karena dengan tidak sopannya wanita itu masuk begitu saja dan menyenggol Karmila hingga tubuh Karmila sedikit terpental ke samping dengan sigap Karmila memegang gagang pintu dan untung saja tubuhnya tidak jatuh membentur lantai.
Wanita bernama Baby itu langsung duduk di sofa berjalan dengan santainya tanpa mempedulikan Karmila yang notabenenya adalah tuan rumah.
"Hy Jerry!" Baby melambai tangan seraya berdiri memeluk tubuh Jerry yang baru saja keluar kamar. Tanpa aba-aba, Baby memeluk dan mencium pipi Jerry, pria itu mematung sontak mengurai pelukan mendadak itu dan segera menjauh melihat tatapan istrinya yang murka di pintu sana.
"Maaf untuk apa Anda kemari?" Jerry yang merasa kebingungan, menatap bingung ke netra Baby yang menatapnya penuh cinta, Karmila bahkan dapat merasakan betapa tatapan mendamba Baby pada suaminya.
"Aku sudah katakan tadi malam bahwa aku akan kemari dan pembantumu itu benar-benar menyambut kedatangan tamu dengan tidak baik!" Kata Baby menunjuk Karmila yang masih menahan emosinya dan berpindah posisi di antara suami dan musuh bebuyutannya itu.
"Pembantu?" Heran Jerry menatap istrinya yang mengedipkan mata seraya mengisyaratkan untuk mengikuti permainan wanita yang bernama Baby itu. Baby mengangguk, ia masih mengira kalau Karmila adalah pembantu di rumah ini.
"Apa kalian tidak mempersilahkan aku untuk duduk? Bukankah aku tamu di sini?"
"Ah, duduklah Nona Baby!" Sahut Karmila dengan menatap kesal wanita itu dan menuju ke dapur membuatkan teh untuk suami dan tamu sialan itu. Tetapi sekembalinya ia ke ruang tamu, Karmila langsung mengepal tangan meradang melihat pemandangan saat Baby dengan sengaja mendekati suaminya yang terlihat pasrah saja.
Dasar pelakor!
"Silahkan diminum, Nona Baby!"
__ADS_1
Jerry menatap Karmila dengan mata yang berkedip mengisyaratkan ia tidak nyaman dengan perlakuan wanita ganjen itu yang selalu berusaha untuk mendekati dirinya. Baru kemarin malam bertemu, wanita itu sudah bertingkah seakan mereka telah saling kenal bertahun-tahun lamanya.
"Jerry, bisakah kau suruh pembantumu ini pergi ke dalam?"
"Tidak! Karena dia..." Karmila kembali melotot saat Jerry hendak mengatakan yang sebenarnya dan membuat pria itu bungkam seketika. Jerry juga tidak tahu, sebenarnya apa yang direncanakan istrinya itu hingga membuatnya harus menanggung semua sikap ganjen Baby. Jerry merasa begitu risih dengan sikap Baby yang berlebihan menurutnya seperti tidak pernah bertemu pria tampan saja.
"Hey kau! Masuk sana, jangan ganggu kami di sini!"
"Kalau aku tidak mau?" Karmila sengaja membuat Baby besar kepala sebelum menjatuhkan wanita itu.
"Kau hanya pembantu, bersikaplah seperti pembantu pada umumnya!"
"Karena aku pembantu kesayangannya, benarkan Tuan?" Karmila mendekati Jerry seraya duduk di pangkuan pria itu dan Jerry dengan senang hati memegang pinggang istrinya posesif membuat Baby mengerut dahi heran.
"Dasar wanita murahan!"
"Kau yang lebih murah, ******! Apa kau buta, di jari manisnya ada cincin yang aku sematkan saat pernikahan kami! Lalu kenapa kau mengatakan istriku adalah pembantu? Jika kau tahu pintu keluar, silahkan keluar sekarang atau aku akan menyeretmu!" Baby melotot tidak percaya, ia hendak menampar Karmila tetapi dengan sigap Dendy menahan tangan itu dan memelintirnya hingga Baby berteriak kesakitan.
"Lepaskan! Aku akan keluar!" Baby keluar dengan mengentak kaki dan menutup pintu dengan keras.
"Aku akan membalas kalian!"
"Hmm?"
"Kau marah?"
"Manurutmu?"
Karmila melenggang masuk ke dalam kamar mandi tanpa membiarkan suaminya masuk ia terlebih dahulu menutup pintu kamar mandi, kejadian tadi membuat dirinya sebal setengah hidup, masih ada saja wanita yang berbakat menjadi pelakor.
"Sayang, biarkan aku masuk! Aku juga mau mandi!"
"Sudah sana pergi!"
Jerry mendudukkan dirinya di ranjang lunglai, ia sungguh merutuki wanita itu yang datang di pagi indah ini dan merusak keromantisan dirinya dan sang istri hingga istrinya marah. Jika saja wanita itu tidak datang mengacau, istrinya pasti akan mengizinkan Jerry untuk ikut serta ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Setelah istrinya keluar, Jerry dengan sengaja membuka lembaran handuk yang menutupi tubuh Karmila, dengan sigap Jerry menggendong tubuh molek bak gitar spanyol itu ke ranjang.
"Sana mandi, kamu bau!"
"Aku mau lagi!"
"What?"
Tanpa membuang waktu, Jerry membuka seluruh pakaian yang terpasang di tubuhnya, ia melancarkan semua serangannya ke Karmila dan erangan serta ******* kenikmatan tercipta di ruangan itu. Jerry sama sekali tidak suka dibantah, ia akan melakukan apapun yang menurutnya baik dan pantas. Dan menyetubuhi istirnya bukanlah tindakan kriminal, hanya inilah satu-satunya cara untuk membuat wanita itu tidak lagi marah dan merajuk pada Jerry.
Kegiatan panas itu hanya berlangsung selama setengah jam, dan terpaksa Karmila harus kembali mandi karena bekas cairan mereka melekat di tubuh masing-masing membuatnya sedikit tidak nyaman.
Setelah selesai mandi, keduanya memutuskan untuk sarapan pagi bersama dan melupakan kejadian tadi walau di hati terdalamnya Karmila masih sebal pada wanita itu.
"Ingat Honey, kamu boleh menolong orang, tetapi tidak memberikan data pribadimu! Dia itu musuh bebuyutanku, sedari dulu dia selalu membully aku, ingin rasanya aku lenyapkan wanita sialan itu!"
"Iya Sayang! Bisa kau panggil aku sekali lagi?"
"Tidak! Jatahmu nanti malam habis! Karena kamu sudah ambil pagi ini!"
"Ah tidak bisa begitu, Sayang! Aku bisa melakukan kapanpun aku menginginkan dirimu."
"Tidak bisa, tubuhku hanya milikku!"
"Tapi aku suamimu, dan apa yang dimiliki istri juga milik suaminya bukan?"
"Terserah kau!"
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
Vote like and komennya yah.