Unity Of Love

Unity Of Love
UOL-52 Beruang Marah!


__ADS_3

Seorang wanita dengan perut yang sedikit buncit mengenakan pakaian rumahannya dengan rambut yang ia Cepol ke atas menyerupai donat serta tanktop yang menampakkan perut putih mulus itu. Tica baru saja selesai menonton drama Korea kesukaannya, inilah kegiatannya selama hamil hanya makan, tidur dan menonton. Mungkin bagi orang lain itu menyenangkan tanpa melakukan apapun dan bisa bermalas-malasan seharian di ranjang, tetapi bagi Tica itu adalah hal yang membosankan dan sangat monoton.


Wanita seksi itu bangun beranjak menuju ke dalam ruang kerja suaminya. Dendy pagi ini bekerja dari rumah, memang ia ingin lebih memerhatikan istrinya jadilah dirinya memutuskan untuk bekerja dari rumah selama tiga hari ini ini. Mungkin ia akan pergi ke kantor tiga hari dalam seminggu.


"Mas!" Tica duduk di pangkuan suaminya seraya menyandarkan kepalanya di ceruk leher sang suami, Dendy tidak lagi heran karena semenjak hamil Tica lebih suka bermanja di bawah ketiaknya. Bahkan Tica pernah tidak membiarkan Dendy pergi bahkan untuk mandi sekalipun, ia hanya ingin Dendy memeluknya seharian. Entah itu hormon kehamilan atau jiwa kemageran Tica yang semakin menjadi membuat Dendy semakin gemas.


"Iya Sayang?" Sahut Dendy sembari tetap berkutat pada laptopnya. Ia hanya membiarkan istrinya melakukan apapun yang ia mau tanpa melarang atau berkomentar, asalkan tidak membahayakan kandungannya dan juga dirinya sendiri.


"Aku mau kaya adegan di drama!" Tica memaksa suaminya untuk menatapnya, bahkan Tica menangkup wajah suaminya dan menilik netra biru itu dengan penuh permohonan. Ia sungguh ingin melakukan salah satu adegan yang ada pada drama yang ia tonton baru saja. Dendy sontak menyeringit, apakah ini akan aneh lagi?


Beberapa waktu yang lalu istrinya sempat meminta hal aneh, yaitu meminta Dendy untuk berakting seperti pria yang ada di drama itu. Dengan terpaksa Dendy harus menyelami dunia akting, tanpa tahu apa yang akan terjadi setelahnya, ia tetap bersedia walau itu sedikit membuatnya risih.


Kalau tidak, Tica pasti akan merajuk mengatakan kalau suaminya jahat, kejam dan bahkan mengatakan suaminya adalah pria tersibuk hingga tidak bisa meluangkan waktu untuk dirinya. Dan akan merajuk hingga berhari-hari membuat Dendy sungguh frustasi dibuatnya.


"Adegan apa lagi Sayang?"


"Adegan yang tempelan hidung ituloh. Masa Mas engga tahu sih!"


"Mas engga tahu, Sayang. Kan engga pernah nonton drama, tapi kalau cuma nempelin hidung Mas tahu lah. Ya udah tinggal tempelkan aja hidung kamu sama Mas? Apa susahnya sih!"


"Bukan!"


"Bukan apa?"


"Bukan sama Mas! Aku maunya sama Recaz. Mas sih lagian usir dia kemarin, aku panggil dia kesini karena mau replay adegan itu!"

__ADS_1


"What?" Wajah Dendy berubah kelam, dingin dan menakutkan. Suasana mendadak kaku dengan Tica yang hanya bisa diam menunduk melihat kekelaman suaminya kembali muncul. Jangan menempelkan hidung, Dendy bahkan tidak mengizinkan pria manapun itu untuk menyentuh istrinya. Baginya Tica adalah permata murni yang hanya bisa dan boleh disentuh olehnya.


"Are you kidding me? BIG NO!"


Deg.


Tica turun dari pangkuan suaminya, pergi keluar ruangan dengan air mata yang menetes deras dari pelupuk mata indahnya. Dendy tidak bisa melakukan apapun, ia sama sekali tidak Sudi untuk itu, walau istrinya akan menangis. Lebih baik ia melihat wanita itu menangis untuk beberapa saat, daripada melihat istrinya bersentuhan hidung dengan pria lain.


Siang harinya, Dendy baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya bermaksud hendak mengajak istrinya untuk makan siang, namun Tica sudah makan terlebih dahulu di meja makan. Dendy duduk di sebelah Tica yang masih belum menyadari keberadaannya, lebih tepatnya terhanyut dalam nikmatnya makanan yang tengah ia nikmati sembari memejam mata.


"Hmm! Enak ya?"


Tica terlonjak dan begitu melihat pria yang menyapanya, ia menaruh makanan yang tengah ia makan dan segera beranjak dari meja makan tanpa mempedulikan tatapan aneh Dendy. Tica melengos tanpa menoleh padanya, ia tahu wanita itu tengah merajuk karena keinginannya tidak terpenuhi.


"Jangan tidur di sini? Ada beruang marah?" Apa ini? Jadi aku tidak boleh tidur di kamarku sendiri?"


"Iya!" Teriak Tica dari dalam ruangan yang membuat Dendy terkejut ternyata wanita itu mendengar perkataannya. Sungguh pendengaran yang tajam.


"Sayang, salahku apa?"


"Kamu itu suami jahat, hiks..hiks.. diturutin kek maunya istri! Bukan malah dibentak..hiks...hiks..! Yang bikin aku hamil itu kamu, kenapa masih jahat sih..hiks...hiks.."


"Dengar Tica! Sampai kapanpun aku engga akan biarkan kamu disentuh pria lain! Walau apapun konsekuensinya, mimpi saja jika kamu ingin menempelkan hidung dengan Recaz!" Dendy berkata dengan nada kelam, ini yang paling ia tidak suka jatuh dalam api cemburu.


Mendengar ucapan suaminya, Tica menjadi semakin sedih hormon yang ada dalam dirinya seakan membuatnya mudah untuk meneteskan air mata dan mudah untuk merasakan sesuatu yang menyakitkan. Ia jatuh terduduk dengan tangis yang menjadi walau ia menahan agar tidak mengeluarkan suara. Sungguh hatinya sakit mendengar ucapan suaminya karena selama ia hamil, Dendy tidak pernah sekalipun menolak permintaannya.

__ADS_1


"Aku benci kamu, Mas!" Ujarnya tanpa suara. Sedangkan di luar sana, Dendy juga menahan geram membayangkan istrinya bersentuhan sedekat itu dengan pria lain. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah mengizinkan hal itu.


***


Malam hari, Dendy terbangun dari tidurnya. Malam telah larut, ia yakin istrinya pasti sudah tertidur, Dendy pun mengambil kunci cadangan kamarnya dan membuka kamarnya hingga nampak lah istrinya yang sudah terlelap dengan posisi miring, mata indah itu terlihat lebam dengan rambut yang berantakan.


Dendy membaringkan dirinya di samping sang istri dan merengkuh Tica seraya mengapit tubuh Tica dalam dekapan dada.


"Aku engga bisa, Sayang. Maafkan aku, aku tahu ini cuma hormon kehamilan kamu dan dengan bodohnya aku emosi! Jangankan melihat kamu bersentuhan hidung dengan pria lain, melihat kamu disentuh pria lain saja aku tidak suka!"


Tapi ini keinginan anak kamu! Kamu jahat Mas, hiks..hiks..! Tica menangis dalam tidurnya, ia masih belum sepenuhnya terlelap dan tentu bisa merasakan kehadiran sang suami. Sungguh ia ingin mengurai dekapan itu, ia merasa marah dan kecewa pada suaminya yang tidak bisa mengerti dirinya.


.


.


.


.


TBC!


Vote like and komennya yah.


Ini cuma tinggal bahagia aja, dengan diselingi konflik-konflik ringan. so staytuned yah lihat cutenya keluarga mereka.

__ADS_1


__ADS_2